Categories
antibiotika COVID-19 Healthy Life

2021 Imunitas Anak

Tips Menjaga Imunitas Anak di Masa Pandemi

ANCAMAN  PADA  IMUNITAS  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Seringkali orangtua memperingatkan anak, “Jangan memasukkan jari ke dalam mulut.” Orang tua dan pengasuh berulang kali berusaha melindungi anak dari kuman, baik virus maupun bakteri, yang dapat menyebabkan flu biasa atau infeksi bakteri serius, seperti pneumonia dan disentri. Apakah ada yang kurang?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/02/06/2021-covid-19-pada-anak/

.

Tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 28 Maret 2021, halaman 5.

Anak biasa merangkak di tanah dan memasukkan jari mereka ke dalam mulut, tetapi sistem imunitas atau kekebalan mereka yang belum matang, membuat anak lebih rentan terhadap penyakit. Lebih berbahaya kalau penyakit infeksi pada anak disebabkan oleh mikroba yang telah kebal atau resisten terhadap obat yang ada di sekitar anak. Saat ini, resistensi antimikroba atau ‘Anti Microbial Resistance’ (AMR) adalah ancaman utama dan terus berkembang terhadap kesehatan dan kehidupan manusia. Terjadinya resistensi antimikroba ini sangat mempengaruhi kemampuan medis untuk secara efektif mengobati berbagai infeksi dengan obat antibiotik, termasuk infeksi saluran kemih, sepsis, dan diare.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/19/2020-antibiotika-semasa-covid-19/

.

‘Superbugs’ atau bakteri yang resisten terhadap berbagai antibiotik, juga menjadi lebih umum terdapat di mana-mana. Anak yang tinggal di lingkungan dengan sumber daya rendah dan akses terbatas ke layanan kesehatan, tentu menghadapi risiko yang lebih besar. Kurangnya air bersih, kondisi sanitasi buruk, praktik kebersihan yang kurang, dan pengendalian infeksi yang tidak memadai, secara bersama-sama memungkinkan penyebaran resistensi antimikroba.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/01/29/2020-semakin-sedikit-antibiotika/

.

Resistensi terhadap obat, seperti obat antiretroviral (ARV), antimalaria, anti tuberkulosis (OAT), dan antijamur mengancam untuk membalikkan kemajuan dan prestasi bidang medis, dalam mengurangi kematian anak. Di negara berpenghasilan rendah, di mana sebagian besar kematian anak terjadi, obat antibiotik yang efektif dan dapat diakses sangat penting untuk mengobati penyakit anak yang paling umum, yaitu pneumonia, infeksi saluran pernapasan lain, disentri, serta sepsis atau infeksi bakteri dalam darah. Jika obat antibiotika ini menjadi resisten, peluang anak untuk bertahan hidup menjadi terancam.

.

Saat ini, sekitar 2 juta anak terpajan tuberkulosis (TB) yang telah resisten terhadap beberapa obat, dan 5 juta lainnya terpajan TB yang resisten terhadap Rifampisin, sebuah OAT yang paling poten. Satu dari setiap dua bayi baru lahir yang didiagnosis dengan HIV, terinfeksi virus dari ibu yang sudah memiliki resistensi terhadap obat ARV lini pertama yang paling umum digunakan. Bahkan secara global resistensi terhadap ARV lini pertama mencapai 63,7% pada bayi baru lahir dengan HIV karena tertular dari ibu.

.

Selain itu, resistensi antibiotik meningkat pesat pada bakteri berarti beberapa kelas antibiotik yang secara tradisional digunakan untuk memerangi infeksi umum tetapi berpotensi mematikan anak, seperti diare, pneumonia, dan sepsis neonatal, tentu tidak lagi efektif. Namun demikian, resistensi bukanlah satu-satunya ancaman bagi peluang anak untuk bertahan hidup dan berkembang. Kurangnya akses ke antimikroba berkualitas dan terjangkau, terutama di wilayah dengan sumber daya rendah mengganggu kemampuan untuk mengobati infeksi di tempat pertama. Pada tahun 2016 saja, diperkirakan 6,3 juta kematian di anak balita disebabkan oleh penyakit menular, yang sebenarnya dapat dicegah dengan peningkatan akses ke obat antibiotik.

.

Pada saat yang sama, kita juga mengetahui bahwa resistensi berkembang lebih cepat melalui penyalahgunaan dan penggunaan obat antimikroba yang berlebihan, terutama karena penggunaan antibiotik pada manusia yang meningkat pesat. Meskipun penting bagi anak untuk mendapatkan antimikroba lengkap pada waktu yang tepat dan saat dibutuhkan, penting juga bagi petugas kesehatan dan pengasuh untuk menghindari penggunaan antimikroba yang salah atau berlebihan (mis- or over-use of antimicrobials).

.

Cara Membuat Imunitas Anak Lebih Baik Tanpa Membuat Mereka Sakit | Orami

Kita semua diingatkan untuk meningkatkan kesadaran tentang AMR dan mendorong praktik terbaik di antara masyarakat, petugas kesehatan, dan pembuat kebijakan. Namun demikian, kita juga memiliki tujuan untuk mengedepankan hak anak atas kesehatan. Hari Anak Sedunia (World Children’s Day), yang jatuh pada waktu yang bersamaan dengan Pekan Kewaspadaan Antimikroba (World Antimicrobial Awareness Week), merupakan kesempatan untuk merayakan dan merefleksikan upaya kolektif kita untuk memastikan bahwa hak anak, termasuk hak mereka atas kesehatan yang baik, harus terus dihormati, dilindungi, dan dipenuhi.

.

Hak atas kesehatan berarti berhak atas perawatan kesehatan yang berkualitas, termasuk akses ke obat esensial, seperti antimikroba. Ini juga berarti memiliki hak untuk mengakses informasi kesehatan yang sesuai, termasuk tentang penggunaan antimikroba yang tepat, tetapi juga akan risiko yang terkait dengan penyalahgunaan atau penggunaan berlebihan.

.

Sesuai dengan Konvensi Hak Anak (the Convention on the Rights of the Child), pengakuan hak anak atas kesehatan mengharuskan pemerintah untuk mengembangkan dan menerapkan kebijakan dan peraturan yang memastikan anak dan pengasuhnya, memiliki akses yang sama ke obat antimikroba. Dengan demikian kebijakan, peraturan dan protokol harus ada untuk mencegah peresepan obat antimikroba yang berlebihan oleh para dokter dan tenaga kesehatan, bahkan untuk menghindari obat yang dijual bebas.

.

Meskipun orangtua tidak dapat sepenuhnya menghentikan anak untuk memasukkan jari mereka ke dalam mulut, namun kita semua seharusnya mampu berperan dalam meningkatkan imunitas anak dan melindungi anak dari ancaman AMR yang semakin meningkat. Hak anak atas kesehatan haruslah ditegakkan.

Sudahkah kita melakukannya pada anak di sekitar kita?

Sekian

Yogyakarta, 2 Maret 2021

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
COVID-19 Healthy Life Pendukung ASI UHC

2021 INFEKSI NEONATAL SERIUS

Waspadai Neonatal Tetanus pada Bayi Baru Lahir, Cermati Tandanya Moms! -  Semua Halaman - Nakita

INFEKSI  NEONATAL  SERIUS

fx. wikan indrarto

Setiap tahun secara global sekitar 2,8 juta bayi meninggal pada bulan pertama kehidupan, dengan 98% kematian terjadi di negara berkembang. Infeksi bakteri serius, termasuk sepsis atau infeksi sistemik dan meningitis atau radang selaput otak, diperkirakan menyebabkan lebih dari 420.000 kematian bayi setiap tahun, dengan 136.000 bayi lainya disebabkan oleh pneumonia atau radang paru-paru. Apa yang harus dilakukan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/09/2019-kematian-bayi/

.

Perawatan di RS untuk bayi dengan infeksi serius bertujuan agar bayi mendapatkan setidaknya paket tujuh hari kombinasi dua suntikan obat  antibiotik, yaitu benzilpenisilin atau ampisilin plus gentamisin. Namun demikian, bukti menunjukkan bahwa di wilayah dengan keterbatasan sumber daya, banyak bayi kecil dengan tanda-tanda infeksi serius tidak mendapat pengobatan rawat inap di RS seperti yang dianjurkan, karena perawatan semacam itu tidak dapat diakses, tidak disetujui atau kurang terjangkau oleh keluarga. Dengan demikian bayi tersebut tidak menerima pengobatan, mengakibatkan kematian bayi baru lahir yang tidak perlu, dan sebenarnya berpotensi untuk dapat dicegah.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/10/21/2019-kekerasan-pada-kelahiran-bayi/

.

Identifikasi tanda bahaya pada bayi sakit serius dilakukan oleh dokter, bidan, perawat maternitas atau tenaga kesehatan lainnya, saat melakukan kunjungan rumah. Tanda klinis kemungkinan infeksi bakteri  serius pada bayi adalah napas cepat (laju pernapasan ≥ 60 kali / menit), tarikan dinding dada, demam (suhu ≥ 38 °C), hipotermia (suhu <35,5 °C), tidak ada gerakan otot sama sekali atau gerakan hanya pada saat distimulasi, menetek lemah atau tidak mampu menetek sama sekali, dan kejang. 

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/03/2020-asi-untuk-bayi-covid-19/

.

Penelitian meta analisis dan tinjauan sistematis pada semua bayi baru lahir atau neonatus usia 0-28 hari, yang mendapat kunjungan rumah oleh bidan dibandingkan dengan yang tidak, menunjukkan bahwa kunjungan rumah berhasil mengidentifikasi bayi muda dengan penyakit serius, dan meningkatkan kesempatan untuk mencari perawatan di RS. Selain itu, spesifisitas diagnosis penyakit infeksi bakteri serius oleh bidan adalah tinggi, mekipun beberapa ada yang positif palsu, dan karenanya kemungkinan rujukan ke RS yang tidak perlu, dapat ditekan.

.

Penelitian lainnya telah dilakukan pada bayi muda usia 0–59 hari, yang memiliki hanya nafas cepat sebagai tanda bahaya, yang orang tuanya tidak menyetujui tindakan rujukan ke rumah sakit. Penelitian ini melibatkan 2.333 bayi dalam kelompok perlakukan yang diberikan obat telan atau oral amoksisilin selama tujuh hari, dibandingkan dengan 2.196 bayi dalam kelompok kontrol, yang diberikan obat injeksi gentamisin intramuskular ditambah prokain penisilin intramuskular.

.

Uji klinis terkontrol secara acak tersebut dilakukan di Kongo, Kenya dan Nigeria. Obat antibiotika oral yang diberikan pada pasien rawat jalan terbukti seefektif pemberian kombinasi suntikan penisilin dan gentamisin selama tujuh hari, yang diukur dari tingkat kematian dan perburukan klinis, yaitu perkembangan tanda-tanda infeksi serius, dalam dua minggu setelah memulai pengobatan.

.

Penyakit Asfiksia Neonatorum - Gejala, Penyebab, Pengobatan - Klikdokter.com

.

Selain itu, tidak ada perbedaan dalam kemanjuran klinis dan kegagalan pengobatan, efek samping yang serius atau kematian bayi. Obat antibiotik oral sama manjurnya dengan obat suntikan, bahkan obat oral lebih disukai karena lebih sederhana dan menghindari tindakan penyuntikan. Obat oral kemungkinan besar juga lebih dapat diterima oleh keluarga, lebih mudah diakses, dan memiliki tingkat penyelesaian paket pengobatan yang lebih tinggi. Harga obat amoksisilin oral lebih murah daripada antibiotik suntik dan dapat mengurangi beban ekonomi keluarga dan sistem kesehatan. Selain itu, amoksisilin oral paling dianjurkan untuk pengobatan pneumonia pada anak berusia 2–59 bulan, dan karenanya harus tersedia secara rutin di fasilitas kesehatan.

.

Untuk itu, bayi dengan napas cepat perlu tindaklanjut yang ditentukan oleh usia bayi, yaitu bayi 0–6 hari atau usia 7–59 hari. Bayi muda 0–6 hari dengan napas cepat sebagai satu-satunya tanda penyakit serius harus dirujuk ke RS. Jika keluarga tidak menyetujui atau tidak dapat mengakses perawatan rujukan, bayi ini harus diobati dengan amoksisilin oral 50 mg / kg BB per dosis, yang diberikan dua kali sehari selama tujuh hari. Sedangkan pada bayi kecil berusia 7–59 hari harus diobati dengan amoksisilin oral, 50 mg / kg BB per dosis, yang diberikan dua kali sehari selama tujuh hari dan bayi ini tidak membutuhkan rujukan ke RS.

.

Bayi muda (0–59 hari) gejala klinis infeksi berat, yang keluarganya tidak menyetujui atau tidak dapat mengakses rujukan ke RS, boleh dikelola sebagai pasien rawat jalan, dengan salah satu dari dua pilihan rejimen berikut. Pilihan pertama adalah obat suntikan gentamisin intramuskular 5–7,5 mg / kg BB, sedangkan untuk bayi dengan berat lahir rendah gentamisin cukup 3–4 mg / kg BB sekali sehari selama tujuh hari dan amoksisilin oral dua kali sehari, 50 mg / kg BB per dosis selama tujuh hari. Sedangkan pilihan kedua adalah obat suntikan gentamisin intramuskular selama dua hari dan 2 kali sehari amoksisilin oral, selama tujuh hari. Tindak lanjut pemantauan klinis pada hari ke-4 wajib dilakukan untuk menentukan apakah bayi membaik. Bila memiliki tanda kritis penyakit pada pemeriksaan awal, atau berkembang menjadi memburuk selama pengobatan, harus dirawat inap di RS, dengan disertai pemberian antibiotika selama perawatan pra-rujukan.

.

Pengelolaan infeksi bakteri serius pada neonatus (0-28 hari) dan bayi muda (0-59 hari) adalah dirujuk ke RS. WHO telah menerbitkan pedoman saat rujukan ke RS tidak memungkinkan. Layanan medis sesuai rekomendasi WHO tersebut dapat melindungi semua bayi dari penyakit infeksi bakteri serius dan mampu menurunkan angka kematian bayi.

Sudahkah kita memlakukannya pada bayi di sekitar kita?

Sekian

Yogyakarta, 21 Februari 2021

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Healthy Life vaksinasi

LAYANAN IMUNISASI

oleh Dr. dr. Wikan Indrarto, SpA

Pada saat pandemi COVID-19 ini, banyak orang tua kawatir untuk datang ke rumah sakit, termasuk untuk mendapatkan layanan imunisasi bagi bayi dan anak.

Saat ini telah hadir layanan imunisasi yang dibutuhkan tanpa disertai kekhawatiran. Layanan ini adalah solusi imunisasi yang akan menghasilkan imun, dilaksanakan secara aman, dan lebih nyaman.

Lindungi buah hati dengan imunisasi sesuai jadwal,

Mohon jangan ditunda, dengan pemesanan minimal H-1 hari kerja

Jadwal Imunisasi IDAI 2020 untuk Anak 0-18 Tahun, Pengumuman Baru Nih Bun

Jadwal Imunisasi anak Indonesia usia 0-18 tahun

Imunisasi dapat diberikan di rumah (homecare)

IMUN

  1. Diberikan oleh dokter spesialis anak
  2. Pemantauan KIPI (Kejadian Ikutan Paska Imunisasi)
  3. Jaminan keaslian vaksin
  4. Ketersediaan vaksin sesuai usia

AMAN

  1. Waktu dan tempat pelaksanaan seseuai kesepakatan
  2. Konsultasi pra dan paska imunisasi
  3. Jadwal imunisasi berikutnya
  4. Pemantauan tumbuh kembang anak

NYAMAN

  1. Harga terjangkau
  2. Harga sudah termasuk jasa medis
  3. Pembayaran non tunai
  4. Layanan mencakup Kota Yogyakarta dan sekitarnya 

Berikan imunisasi sesuai jadwal

Sembilan Penyakit yang Bisa Dicegah Lewat Imunisasi
Imunisasi akan meningkatkan kekebalan anak

Tempat dan waktu layanan imunisasi adalah fleksibel, tetapi sebaiknya tidak mendadak dan minimal H-1 hari kerja, karena imunisasi bukan intervensi medis darurat :

  1. Di rumah pasien
  2. Di Apotek K24 Demangan Baru Yogyakarta https://goo.gl/maps/F1K6yyqAYxF2
  3. Di Perumahan Timoho Regency A4 Yogyakarta https://goo.gl/maps/gjUYutu7aDw

PROSEDUR IMUNISASI

1. Langkah pertama : Konsultasi via chat whatsapp dengan dokter :

http://wa.me/6281227280161

Dipersilakan berkonsultasi mengenai kebutuhan dan jadwal imunisasi, sesuai usia dan kondisi kesehatan anak.

2. Langkah kedua : Transfer biaya imunisasi

Dipersilakan melakukan pembayaran dengan aplikasi m-banking, gopay, ovo atau lainnya, dengan scan barcode. Dapat juga transfer ke rekening BCA 0372714822 a/n Benedicta Sari Prasetyati.

Layanan imunisasi di rumah pasien (home care), ditambah biaya waktu dan transportasi sesuai jarak.

Bukti transfer pembayaran mohon dikirimkan via chat whatsapp ke Apotek K24 Demangan Baru Yogyakarta, untuk pemesanan vaksin :

http://wa.me/62895323090889

3. Langkah ketiga : Pelaksanaan Imunisasi


Rencana pelaksanaan imunisasi akan diinformasikan oleh petugas Apotek K24 Demangan Baru Yogyakarta, setelah dipastikan adanya ketersediaan vaksin. Dipersilakan menunggu di rumah (untuk layanan homecare) atau datang ke lokasi sesuai kesepakatan dan jadwal, dokter akan datang untuk memberikan layanan imunisasi.

Categories
COVID-19 Healthy Life Pendukung ASI

2021 Tumpas Obesitas

Belajar dari Beberapa Kasus, Ini 4 Cara Cegah Obesitas pada Anak Halaman  all - Kompas.com

TUMPAS  OBESITAS

fx. wikan indrarto*)

Pada hari Kamis, 4 Maret 2021 dirayakan sebagai Hari Obesitas Dunia (World Obesity Day), untuk mendorong solusi praktis dalam membantu orang mencapai dan mempertahankan berat badan yang sehat, melakukan perawatan yang tepat, dan membalikkan krisis dengan menumpas obesitas. Tema peringatan tahun 2021 adalah memerangi akar penyebab obesitas (Let’s work together to combat the root causes of obesity). Apa yang perlu disadari?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/01/10/stigma-sosial-obesitas/

.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan obesitas sebagai ‘penumpukan lemak berlebihan yang berisiko bagi kesehatan’. Hidup dengan obesitas menempatkan orang pada risiko yang lebih tinggi dari penyakit berbahaya, termasuk penyakit jantung, diabetes dan beberapa jenis kanker. Orang yang hidup dengan obesitas dua kali lebih mungkin untuk dirawat di rumah sakit jika dinyatakan positif COVID-19. Bahkan obesitas pada anak diperkirakan terjadi lonjakan dan meningkat 60% selama dekade berikutnya, mencapai 250 juta pada tahun 2030. Pada hal, konsekuensi medis dari obesitas akan menelan biaya lebih dari $ 1 triliun pada tahun 2025. Saat ini, sekitar 800 juta orang di dunia hidup dengan obesitas.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/12/08/2020-kematian-anak-karena-covid-19/

.

Di banyak negara, orang dengan obesitas secara berulang disalahkan atas kondisi mereka. Terbentuk stigma bahwa obesitas disebabkan karena kegagalan individu, dan menempatkan tanggung jawab pada orang dengan obesitas untuk ‘memperbaikinya’. Hal ini justru dapat merusak kesehatan mental dan fisik, bahkan justru mencegah orang tersebut mencari perawatan medis yang diperlukan. Mengobati obesitas adalah tentang meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, bukan hanya tentang mengupayakan kehilangan berat badan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/03/19/2020-pajak-gemuk/

.

Tingkat obesitas anak meningkat hampir dua kali lipat setiap 10 tahun. Kondisi ini sangat mempengaruhi kesehatan fisik, sosial, emosional, kesejahteraan, dan harga diri anak. Hal ini juga terkait dengan prestasi akademis yang buruk, bahkan kinerja dan kualitas hidup yang lebih rendah. Dengan demikian pencegahan dan pengobatan sangat penting untuk menghentikan peningkatan global dalam obesitas pada anak.

.

Anak yang hidup dengan obesitas sering kali diberi tahu bahwa jawabannya adalah ‘makan lebih sedikit, bergerak lebih banyak’. Namun demikian, mengatasi obesitas bukan hanya soal pola makan dan olahraga. Saat kita memberi tahu orang untuk ‘makan lebih sedikit, bergerak lebih banyak’, kita sebenarnya mengabaikan faktor penting lainnya. Padahal latihan fisik meskipun memegang peranan penting dan merupakan bagian dalam kesehatan secara keseluruhan, namun hal itu bukanlah faktor yang signifikan dalam mengelola obesitas. Daripada menyalahkan individu atas penyakit mereka, kita harus mendorong pemerintah dan pembuat kebijakan untuk mengatasi akar penyebabnya. Selain itu, juga meningkatkan aktivitas fisik sejak bayi, untuk mencegah anak agar tidak mengalami obesitas, sesuai pedoman yang dikeluarkan WHO pada hari Rabu, 24 April 2019 (WHO guidelines on physical activity, sedentary behaviour and sleep for children under 5 years of age).

.

3 Cara Untuk Mencegah Obesitas Pada Anak - Health Liputan6.com

Pola keseluruhan aktivitas anak selama 24 jam kuncinya adalah mengganti waktu memandangi layar gawai (screen time) yang lama atau tubuh yang diam, menjadi bermain yang lebih aktif, sambil memastikan anak mendapatkan tidur yang cukup dan berkualitas. Waktu tubuh kurang aktif tetapi berkualitas, adalah waktu yang dihabiskan dalam kegiatan interaktif langsung (non-screen-based) dengan pengasuh, seperti membaca, bercerita, bernyanyi dan mengisi teka-teki, juga terbukti sangat penting untuk perkembangan anak.

.

Rekomendasi WHO untuk bayi (kurang dari 1 tahun) adalah pertama, aktif secara fisik beberapa kali sehari dalam berbagai cara, terutama melalui permainan di lantai yang interaktif, dengan lebih banyak dan lebih sering adalah lebih baik. Bagi bayi yang belum dapat bergerak mandiri, setidaknya 30 menit dibantu dalam posisi tengkurap yang dilakukan sepanjang hari saat bayi terjaga. Kedua, tidak boleh lebih dari 1 jam setiap kali saat berada di kereta bayi, kursi tinggi, atau digendong di punggung pengasuh. Ketiga, waktu layar (sedentary screen time) tidak disarankan. Keempat, saat bayi tidak banyak bergerak, sangat dianjurkan dibacakan cerita oleh pengasuh. Kelima, tidur secara berkualitas selama 14-17 jam (usia 0–3 bulan) atau 12–16 jam (usia 4–11 bulan) sehari, termasuk tidur siang.

.

Rekomendasi WHO untuk anak usia 1-2 tahun adalah pertama, meluangkan setidaknya 3 jam atau 180 menit untuk melakukan berbagai jenis aktivitas fisik pada intensitas apa pun, termasuk aktivitas fisik intensitas sedang hingga kuat, merata waktunya sepanjang hari, dan lebih banyak tentu lebih baik. Kedua, tidak boleh lebih dari 1 jam pada suatu waktu duduk dalam kereta bayi, kursi tinggi, atau digendong di punggung pengasuh. Untuk anak berusia 1 tahun, waktu layar yang membuat badannya tidak aktif bergerak, seperti menonton TV atau video dan bermain ‘game’ di komputer, tidak dianjurkan. Bagi mereka yang berusia 2 tahun, waktu tayang (sedentary screen time) tidak boleh lebih dari 1 jam, dan lebih sebentar terbukti justru lebih baik. Ketika anak tidak banyak bergerak, sebaiknya dilibatkan dalam aktivitas membaca dan bercerita dengan pengasuh. Selain itu, sebaiknya tidur berkualitas baik selama 11-14 jam, termasuk tidur siang, dengan waktu tidur dan bangun dilatih agar teratur.

.

Bahaya Obesitas Pada Bayi - Semua Halaman - Nakita

Rekomendasi WHO untuk anak usia 3-4 tahun seharusnya pertama, menghabiskan setidaknya 180 menit dalam berbagai jenis aktivitas fisik pada intensitas apa pun, di mana setidaknya 60 menit merupakan aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga kuat, menyebar sepanjang hari dan lebih banyak lebih baik. Kedua, tidak dianjurkan diam selama lebih dari 1 jam pada suatu waktu, misalnya di dalam kereta bayi atau duduk untuk waktu yang lama. Waktu tayang tidak lebih dari 1 jam, dan lebih sebentar, tentu lebih baik. Ketika anak tidak banyak bergerak, sebaiknya juga dilibatkan dalam aktivitas membaca dan bercerita dengan pengasuh. Selain itu, sebaiknya tidur berkualitas secara baik selama 10-13 jam sehari, termasuk tidur siang, dengan waktu tidur dan bangun dilatih agar lebih  teratur.

Momentum Hari Obesitas Dunia (World Obesity Day) pada Kamis, 4 Maret 2021, mengingatkan kita untuk mencegah obesitas sejak usia dini, termasuk mengkoreksi akarnya (obesity and its root causes). Orangtua wajib mendorong anak agar aktif bermain, sekaligus menjamin tidur yang cukup untuk menumpas obesitas.

Sudahkah anak di sekitar kita aktif bermain?

Sekian

Yogyakarta, 27 Februari 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor di FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
COVID-19 Healthy Life vaksinasi

2021 Kalahkan Meningitis

Hasil gambar untuk meningitis disebabkan oleh

KALAHKAN  MENINGITIS

fx. wikan indrarto*)

Pada Sesi ke-73 Majelis Kesehatan Dunia Rabu, 13 Januari 2021, diserukan tindakan segera untuk mencegah dan mengalahkan meningitis pada tahun 2030. Peta jalan global ini adalah intervensi pengendalian meningitis terpadu jangka panjang untuk pengurangan kasus dan kematian karena meningitis. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/02/2020-bahaya-tanpa-imunisasi/

.

Meskipun upaya pengendalian meningitis cukup berhasil di beberapa wilayah di dunia, meningitis terus menjadi masalah kesehatan masyarakat global yang menyebabkan hingga 5 juta kasus setiap tahun, di seluruh dunia. Beban meningitis bakterial sangat tinggi, menyebabkan 300.000 kematian setiap tahun dan menyisakan satu dari lima orang yang terkena, berupa dampak kesehatan jangka panjang yang menghancurkan, yaitu kecacatan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/01/02/2020-menurunkan-angka-kematian-anak/

.

Meningitis adalah infeksi serius pada meninges, yaitu selaput tipis yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang. Ini adalah penyakit yang menghancurkan harapan hidup dan tetap menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang utama. Penyakit ini dapat disebabkan oleh berbagai patogen termasuk bakteri, jamur atau virus, tetapi beban global tertinggi terlihat pada meningitis bakterial.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/09/2019-kematian-bayi/

.

Bakteri Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Neisseria meningitidis adalah bakteri yang paling sering menyebabkan meningitis. N. meningitidis, penyebab meningitis meningokokus, berpotensi menimbulkan epidemi yang luas. Ada 12 serogrup N. meningitidis yang telah teridentifikasi, 6 diantaranya (A, B, C, W, X dan Y) dapat menyebabkan epidemi. Meningitis meningokokus dapat menyerang siapa saja dari segala usia, tetapi terutama menyerang bayi, anak prasekolah, dan remaja. Beban meningitis meningokokus terbesar terjadi di sabuk meningitis, suatu wilayah di sub-Sahara Afrika, yang membentang dari Senegal di barat hingga Ethiopia di timur. 

.

Hasil gambar untuk meningitis disebabkan oleh
.

Bakteri yang menyebabkan meningitis ditularkan dari orang ke orang melalui tetesan cairan pernapasan atau ‘droplet’, sepeti COVID-19. Kontak dekat dan lama – seperti mencium, bersin, batuk, atau tinggal dekat dengan orang yang terinfeksi, memungkinkan proses penyebaran penyakit. Masa inkubasi rata-rata adalah 4 hari, tetapi dapat berkisar antara 2 dan 10 hari.

.

Meskipun demikian, N. meningitidis sebenarnya dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, yaitu penyakit meningokokus invasif, termasuk septikemia, artritis, dan meningitis. Demikian pula, bakteri S. pneumoniae dapat menyebabkan penyakit invasif lainnya termasuk otitis dan pneumonia. N. meningitidis hanya menginfeksi manusia dan menyebar melalui aliran darah untuk sampai ke otak. Sebagian besar populasi di sabuk meningitis, antara 5 dan 10%, memiliki bakteri N. meningitidis yang menetap di tenggorokan.

.

Gejala meningitis yang paling umum adalah leher kaku, demam tinggi, sensitif terhadap cahaya, kebingungan, sakit kepala, dan muntah. Meningitis sangat berbahaya, bahkan dengan diagnosis dini dan pengobatan yang memadai sekalipun, 5-10% pasien akan meninggal, biasanya dalam 24-48 jam setelah timbulnya gejala. Meningitis bakterial dapat menyebabkan kerusakan otak, gangguan pendengaran, atau ketidakmampuan belajar pada 10-20% pasien yang berhasil selamat. Bentuk penyakit meningokokus yang lebih jarang, tetapi bahkan lebih parah dan seringkali fatal adalah septikemia meningokokus, yang ditandai dengan bercak kemerahan di kulit atau ruam hemoragik dan kolaps sirkulasi darah yang cepat.

.

Diagnosis awal meningitis meningokokus dapat dilakukan dengan pemeriksaan klinis, diikuti dengan pungsi lumbal yang menunjukkan cairan otak di tulang belakang bernanah. Bakteri kadang-kadang dapat dilihat dalam pemeriksaan mikroskopis pada cairan otak di tulang belakang tersebut. Diagnosis dipastikan dengan menumbuhkan bakteri dari spesimen cairan otak di tulang belakang atau darah. Diagnosis juga dapat didukung oleh tes diagnostik cepat seperti tes aglutinasi antibodi, walaupun tes yang tersedia saat ini memiliki beberapa keterbatasan. Identifikasi serogrup meningokokus dan pengujian kepekaan terhadap antibiotik penting untuk menentukan jenis antibiotika yang diberikan dan tindakan pengendalian lainnya.

.

Penyakit meningokokus berpotensi fatal dan merupakan keadaan darurat medis. Diperlukan pemberian antibiotik yang tepat dan harus dimulai sesegera mungkin, idealnya setelah dilakukan pungsi lumbal. Jika pengobatan dimulai sebelum pungsi lumbal, mungkin sulit untuk menumbuhkan bakteri dari cairan otak di tulang belakang dan memastikan diagnosisnya. Namun demikian, konfirmasi diagnosis tidak boleh menunda pengobatan. Berbagai antibiotik dapat digunakan untuk mengobati meningitis bakterial, termasuk penisilin, ampisilin, dan seftriakson yang tersedia cukup mudah, murah dan tersebar luas, dengan ceftriaxone sebagai obat pilihan utama.

.

Vaksin berlisensi untuk mencegah penyakit meningokokus telah tersedia selama lebih dari 40 tahun. Menactra buatan Sanofi, Trumenba dari Pfizer, dan Menivax buatan PT Biofarma Indonesia adalah contoh vaksin untuk meningitis. Menactra (vaksin meningitis konjugat) diindikasikan untuk imunisasi aktif mencegah penyakit meningokokus invasif yang disebabkan oleh Neisseria meningitidis serogrup A, C, Y, dan W-135. Pada anak-anak usia 9 hingga 23 bulan, Menactra diberikan sebagai seri 2 dosis, dengan interval antar dosis 3 bulan. Sedangkan pada anak usia 2 hingga 55 tahun, diberikan sebagai dosis tunggal. Menivax dapat diberikan 1x (single dose) pada dewasa dan anak usia di atas 2 tahun. Berlaku 2 tahun, sebagai perlindungan jangka pendek terhadap Infeksi Meningococcal Group A, apabila MCV4 (Vaksin Meningitis Konjugat) tidak tersedia.

.

Hasil gambar untuk merk vaksin meningitis

Seiring waktu, telah terjadi peningkatan besar dalam cakupan strain dan ketersediaan vaksin, tetapi hingga saat ini, belum ada vaksin tunggal untuk melawan semua jenis penyakit meningokokus. Vaksin masih bersifat serogrup tertentu dan perlindungan yang diberikan bervariasi dalam durasi, bergantung pada jenis yang digunakan.

.

Rekomendasi WHO, UNICEF dan Gavi (the Global Vaccine Alliance), untuk meneruskan program imunisasi rutin, termasuk untuk melawan meningitis saat pandemi COVID-19, akan mampu mengalahkan meningitis di seluruh dunia, termasuk di wilayah Indonesia.

Sudahkah kita siap?

Sekian

Yogyakarta, 25 Januari 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
Healthy Life Istanbul

2021 Tangani Hepatitis C

Image result for hepatitis c

TANGANI  HEPATITIS  C

fx. wikan indrarto*)

Pada Rabu, 27 Januari 2021 mulai dikampanyekan akses global ke layanan tes diagnosis dan pengobatan hepatitis C yang lebih terjangkau. Banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah telah mampu menekan jumlah penderita hepatitis C, berkat peningkatan akses ke layanan tes diagnostik dan pengobatan. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/07/27/2020-hari-hepatitis-sedunia/

.


Virus hepatitis B dan C mempengaruhi 325 juta orang di seluruh dunia yang menyebabkan 1,4 juta kematian per tahun, sedangkan sebanyak 2.850.000 orang menjadi terinfeksi baru pada tahun 2017 yang lalu. Hepatitis adalah penyakit menular yang merupakan penyebab kematian atau pembunuh kedua terbesar setelah TBC. Orang yang terinfeksi hepatitis 9 kali lebih banyak daripada HIV, pada hal hepatitis sebenarnya dapat dicegah, diobati, dan bahkan hepatitis C dapat disembuhkan secara tuntas. Namun demikian, ternyata lebih dari 80% penderita hepatitis masih memiliki keterbatasan akses pada layanan pencegahan, pemeriksaan atau tes diagnosis, dan pengobatan.

.

Menurut Jurnalis, Sayoeti, dan Russelly (2014) infeksi virus hepatitis C (HCV) merupakan persoalan yang serius. Penularan infeksi HCV pada anak yang utama adalah melalui transfusi darah atau produk darah yang bertanggung jawab menyebabkan kasus hepatitis C kronis pada anak. Selain itu infeksi HCV pada anak dapat disebabkan oleh transmisi perinatal (vertikal). Infeksi HCV akut dapat berakhir dengan sirosis dan karsinoma hepatoselular setelah dekade ketiga (sekitar 20%), karena progresivitas infeksi HCV lebih lambat dari infeksi hepatitis B virus. Pada umumnya infeksi HCV pada anak bersifat asimptomatik. Karena tidak ada gejala klinis yang jelas pada infeksi HCV, maka diagnosis infeksi HCV pada anak perlu ditegakkan dengan pemeriksaan awal di laboratorium klinis dengan uji serologi, dan bila perlu dilanjutkan dengan uji molekuler pada pasien anak dengan risiko tinggi. 

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/03/21/2019-menumpas-hepatitis/

.

Di antara orang yang hidup dengan hepatitis C, sekitar 19% (13,1 juta) mengetahui status infeksi mereka pada tahun 2017, di mana 15% (2 juta) mendapatkan penyembuhan karena pengobatan yang tuntas pada tahun yang sama. Secara keseluruhan, antara tahun 2014 dan 2017, sekitar 5 juta orang telah mengalami penyembuhan dari hepatitis C di seluruh dunia. Namun demikian, pada tahun 2017 sekitar 1,75 juta orang tidak sembuh dan mengalami infeksi hepatitis C kronis. Secara bersama-sama, hepatitis B dan C merupakan jumlah tertinggi infeksi baru pada penyakit menular utama, dibandingkan infeksi HIV dan TBC.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/01/29/2021-obat-hiv-baru-untuk-anak/

.

Negara berpenghasilan rendah dan menengah sekarang dapat menyediakan obat sofosbuvir generik dan daclatasvir, yaitu obat antivirus langsung atau ‘Direct Acting Antiviral’ (DAA) yang telah memenuhi kualifikasi WHO, dengan harga hanya US $ 60 per pasien untuk pengobatan 12 minggu. Biaya layanan tes diagnostik cepat Hepatitis C dengan prakualifikasi WHO berkisar antara US $ 1 dan US $ 8 per tes. Bahkan beberapa negara mencapai peningkatan 20 kali lipat dalam jumlah orang yang diobati dengan DAA yang aman dan efektif antara 2015 dan 2018, termasuk di Indonesia. Ada tiga jenis obat DAA yang beredar di Indonesia, yaitu sofosbuvir, simeprevir, dan daclatasvir, sehingga bukan lagi menggunakan obat kombinasi pegylated interferon dan ribavirin.

.

Pada tahun 2018, lebih dari 120 negara telah mengadopsi strategi hepatitis virus nasional, meningkat dari hanya 20 negara pada tahun 2012. Hal ini telah dipercepat sejak penerapan Strategi Sektor Kesehatan Global pertama WHO untuk Hepatitis Virus 2016-2021. Banyak negara juga telah membuat kemajuan dalam meningkatkan komitmen pemerintah, menyusun rencana strategis nasional, menyederhanakan pedoman, serta meningkatkan ketersediaan pilihan tes diagnosis dan pengobatan yang lebih murah dan terjamin kualitasnya.

.

Image result for hepatitis c

Terlepas dari tantangan pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung, kemajuan yang dicapai saat ini termasuk mengesankan, namun sebenarnya rapuh karena akses ke layanan tes diagnosis dan pengobatan hepatitis C belum mencapai tingkat cakupan yang memadai, untuk mencapai tujuan global memberantas virus hepatitis sebagai masalah kesehatan masyarakat utama pada tahun 2030. Secara global, pada akhir tahun 2017, hanya 5 juta atau 7% dari 71 juta orang yang terinfeksi HCV secara kumulatif menerima pengobatan dengan DAA.

.

Oleh karena banyak negara masih terus terbebani berbagai penyakit dan gangguan layanan kesehatan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19, sangat penting untuk memastikan bahwa momentum bagus dalam mengatasi hepatitis C tidak hilang. Selain itu, upaya global untuk meningkatkan akses layanan hepatitis C harus dipertahankan dan dipercepat dalam dekade mendatang, sebagai bagian dari upaya yang lebih luas menuju cakupan kesehatan semesta atau ‘Universal Heath Couverage’ (UHC).

.

Tes diagnostik dan DAA yang terjamin kualitasnya terus meningkat ketersediaannya dengan harga yang terus menurun sampai batas terjangkau. Namun demikian, masih banyak negara tidak mampu mengakses harga yang sudah serendah ini. Transparansi pasar yang lebih besar, bersama dengan bimbingan dan berbagi pengalaman dari seluruh dunia dalam memberikan contoh praktis bagi negara lain dan komunitas penderita hepatitis C, diperlukan untuk memperluas akses dan mengatasi hambatan yang ada.

.

Meskipun terjadi penurunan harga obat dan layanan, ketersediaan dan keterjangkauan tes diagnosis tetap menjadi penghalang utama, untuk peningkatan skala pengobatan di beberapa negara berpenghasilan rendah dan menengah. Sangat penting untuk memperluas akses ke layanan tes diagnosis in vitro hepatitis C yang sederhana, terjangkau dan terjamin kualitasnya. Jenis pemeriksaan diagnosis yang umumnya diperlukan adalah anti HCV rapid atau stick, anti HCV EIA, HCV RNA kualitatif ataupun kuantitatif. Dengan demikian akan ada lebih banyak negara yang dapat melakukan pemeriksaan skrining atau menyaring lebih banyak orang, mengidentifikasi pasien Hepatitis C yang membutuhkan pengobatan, dan akhirnya memberikan perawatan yang tepat. 

Image result for obat hepatitis c

Program kerja Kementrian Kesehatan RI untuk mewujudkan masa depan Indonesia yang bebas hepatitis adalah mengkampanyekan lingkungan bersih dan sehat, melakukan deteksi dini Hepatitis C pada kelompok berisiko, dan melakukan pengobatan yang tepat pada penderita Hepatitis C dengan DAA, yaitu sofosbuvir dan daclatasvir gratis untuk semua jenis penjaminan biaya pasien, ditambah dengan upaya meningkatkan akses masyarakat pada layanan kesehatan yang terjangkau.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 4 Februari 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
COVID-19 Healthy Life

2021 Hari Orang Sakit Sedunia

Hasil gambar untuk hari orang sakit sedunia 2021

HARI  ORANG SAKIT  SEDUNIA   2021

fx. wikan indrarto*)

Hari Orang Sakit Sedunia (World Day of the Sick) ditetapkan oleh Sri Paus Yohanes Paulus II dan mulai dirayakan pada 11 Februari 1993. Tema peringatan tahun 2021 : Hanya satu Gurumu dan kamu semua adalah saudara (Mat 23: 8). Puncak acara akan diselenggarakan pada Pesta Santa Perawan Maria di Lourdes, Perancis pada hari Kamis, 11 Februari 2021. Apa yang sebaiknya dilakukan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/02/05/2020-hari-orang-sakit-sedunia/

.

Ketiga subtema yang terus-menerus didengungkan pada setiap Hari Orang Sakit Sedunia adalah pertama, mengingatkan semua orang beriman, untuk berdoa secara khusuk bagi mereka yang sedang sakit. Kedua, mengundang semua orang beriman untuk merefleksikan sakit dan penderitaan manusia, dan ketiga, penghargaan bagi semua petugas kesehatan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/12/27/2018-bayi-sakit/

.

Melayani saudara kita yang sedang sakit, seharusnya diawali dengan kemurnian hati sampai kita mampu bersikap seperti Ayub “Saya mata untuk orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh” (Ayub 29:15), kepada sesama yang sakit. Kita semua diajak untuk mampu menjadi “mata untuk orang buta” dan “kaki bagi orang lumpuh”. Pelayanan kita tidaklah harus dilakukan dengan menjadi petugas kesehatan bagi para pasien. Sebenarnya kita dapat sekedar dekat dengan orang sakit, terutama yang membutuhkan perawatan lama, membantu dalam memandikan, berpakaian, mencucikan dan menyuapkan makanan. Layanan sederhana seperti ini, terutama bila dilakukan berkepanjangan, pastilah dapat menjadi sangat melelahkan dan memberatkan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/01/31/2019-paska-rumah-sakit/

.

Meskipun tidak ada yang menginginkannya, namun setiap manusia akan mungkin mengalami sakit, penderitaan dan bahkan dapat berlanjut dengan kematian. Sakit yang ringan sekalipun, sebaiknya digunakan sebagai sebuah momentum penting untuk mensyukuri sehat. Kita diingatkan untuk bersandar pada Tuhan, menyadari pentingnya iman bagi mereka yang sakit dan berbeban berat, untuk datang pada Tuhan. Dalam pertemuannya dengan Tuhan melalui caranya masing-masing, mereka yang sakit akan menyadari bahwa dirinya tidak sendirian.

.

Hasil gambar untuk hari orang sakit sedunia 2021
.

Bagi kita semua yang sehat, memberikan pendampingan, penghiburan dan perhatian untuk mereka yang sakit, sangatlah berarti. Selain itu, kita disadarkan akan pergerakan roda kehidupan. Pada saat sehat, kita seharusnya meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan dana untuk membantu mereka yang sakit. Pada saat yang lain, sangat mungkin kita sendiri justru menjadi orang yang sakit dan memerlukan hal yang sama dari semua orang di sekitar kita, sebagaimana pergerakan dan putaran roda kehidupan.

.

Pada Selasa, 2 Februari 2021 terdapat penambahan 10.379 kasus baru COVID-19 dalam 24 jam terakhir di Indonesia. Penambahan tersebut menyebabkan jumlah pasien yang terinfeksi COVID-19 di seluruh Indonesia telah mencapai 1.099.687 orang, terhitung sejak diumumkannya kasus perdana COVID-19 pada 2 Maret 2020. Pandemi COVID-19 ini juga menyerang tenaga medis bahkan yang wafat akibat COVID-19 mencapai 363 orang, termasuk 202 dokter.

.

Selain itu, keterbatasan tempat tidur di RS menyebabkan banyak pasien COVID-19 yang tidak tertangani secara layak, baik dan lengkap. Juga para penderita COVID-19 bergejala ringan ataupun tanpa gejala, diharuskan melakukan isolasi mandiri di rumah atau fasilitas lain yang disediakan oleh Dinas Kesehatan setempat. Dampak ekonomi dan sosial pandemi COVID-19 sebenarnya jauh lebih menghancurkan, melemahkan dan memberatkan bagi masyarakat luas, tidak hanya dampak sakit oleh para penyintas saja. Namun demikian, kita semua yang terdampak secara ekonomi dan sosial tetap diingatakan untuk tetap membantu semua saudara kita yang terdampak pandemi COVID-19 secara medis dan menjadi pasien, dengan terapi yang lengkap.

.

Hasil gambar untuk hari orang sakit sedunia 2021

.

Jika terapi ingin efektif, Paus Fransiscus berpesan agar terapi harus mempunyai aspek relasional, karena aspek ini memampukan pendekatan holistik kepada pasien. Aspek relasional dapat membantu dokter, perawat, tenaga profesional dan relawan untuk merasa bertanggung jawab mendampingi pasien di jalan penyembuhan yang didasarkan pada hubungan antarpribadi yang saling percaya. Aspek relasional ini menciptakan perjanjian antara mereka yang membutuhkan layanan medis dan mereka yang menyediakan layanan itu, dalam sebuah perjanjian yang didasarkan pada rasa saling percaya, hormat, keterbukaan dan kesiapsediaan diri. Hal ini akan membantu mengatasi sikap defensif, menghormati martabat orang sakit, menjaga profesionalisme dokter dan petugas kesehatan lainnya, bahkan mampu berperan dalam membina hubungan yang baik dengan keluarga pasien, karena kita semua adalah saudara (Mat 23: 8).

.

Hasil gambar untuk hari orang sakit sedunia 2021
.

Dalam menangani orang sakit, dokter dan petugas kesehatan profesional lain agar memprioritaskan kata benda ‘orang’, dibandingkan kata sifat ‘sakit’. Oleh sebab itu, para petugas kesehatan profesional hendaknya meniru teladan Guru kita yang satu (Mat 23: 8), yaitu selalu berusaha meningkatkan martabat dan kehidupan setiap orang. Selain itu, juga menolak kompromi ke arah euthanasia, bunuh diri yang dibantu atau penindasan hidup, bahkan dalam kasus penyakit terminal, termasuk COVID-19 yang mematikan.

.

Momentum Hari Orang Sakit Sedunia (World Day of the Sick) Kamis, 11 Februari 2021, mengingatkan kita agar menciptakan relasi terapeutik yang didasarkan pada rasa percaya, memiliki kebijaksanaan hati dan memberikan kelegaan bagi para orang sakit yang berbeban berat. Selain itu, saat terjadi sakit juga tidak perlu putus asa, karena adanya kemuliaan dan kasih Tuhan sampai pada akhir kehidupan.

Sudahkah kita menemani orang sakit di sekitar kita?

Sekian

Yogyakarta, 3 Februari 2021

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161,

Categories
COVID-19 Healthy Life

2021 COVID-19 pada anak

Hasil gambar untuk COVID-19 PADA ANAK

COVID-19  PADA  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Ada berbagai jenis gambaran klinis COVID-19 berdasarkan usia orang yang terinfeksi virus ini. Beruntung anak dan remaja cenderung mengidap penyakit yang lebih ringan dibandingkan orang dewasa. Kebanyakan orang yang terinfeksi virus SARS-CoV-2 mengalami gejala pernapasan, misalnya batuk, sakit tenggorokan, atau bersin. Apa yang perlu dicermati pada anak?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/12/08/2020-kematian-anak-karena-covid-19/

.

Pada beberapa anak mungkin memiliki gejala gangguan perut atau gastrointestinal seperti diare atau muntah, tetapi cenderung lebih ringan. Anak lain mungkin kehilangan indra penciuman atau indra pengecap, bahkan kebanyakan anak cenderung mengalami infeksi tanpa gejala sama sekali.

.

Pada anak manifestasi klinis COVID-19 dapat meliputi gejala sistemik di luar sistem respirasi, seperti demam, diare, muntah, ruam kulit, syok, gangguan jantung dan organ lain, yang dikenal sebagai ‘Multisystem Inflammatory Syndrome’ pada COVID-19 (MIS-C). Untuk itu, para dokter klinisi perlu mengetahui kondisi MIS-C pada anak dan menatalaksananya. Apabila menemukan tanda dan gejala MIS-C pada anak, klinisi dapat menegakkan diagnosis berdasarkan pemeriksaan serologi antibodi. Pemeriksaan rapid antibodi positif pada anak dengan kecurigaan MIS-C, walaupun hasil PCR SARS-CoV2 negatif, diagnosis MIS-C tetap dapat ditegakkan. Hal ini didasarkan atas manifestasi klinis MIS-C dapat timbul setelah 2-4 minggu pasca awitan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/12/02/2020-obat-covid-19/

.

Tatalaksana klinis MIS-C pada anak mirip dengan pasien dewasa. Pemberian suplemen Vitamin C (1-3 tahun maksimal 400 mg/hari; 4-8 tahun maksimal 600 mg/hari; 9-13 tahun maksimal 1,2 gram/hari; 12-18 tahun maksimal 1,8 gram/hari) dan Zink 20mg/hari atau obat suplemen lain dapat dipertimbangkan untuk diberikan, meskipun ‘evidence’ pada anak belum menunjukkan hasil yang meyakinkan.

.

Antibiotik empirik lebih disukai yang dosis tunggal atau sekali sehari, karena alasan ‘infection control’, yaitu ceftriaxon IV 50-100 mg/kgBB/24jam pada kasus pneumonia komunitas atau terduga ko-infeksi dengan bakteri. Selain itu, juga dapat menggunakan Azitromisin 10 mg/kg, hanya jika dicurigai disertai dengan pneumonia atipikal.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/11/12/2020-sekolah-saat-pandemi-covid-19/

.

Jika COVID-19 dicurigai ko-infeksi dengan virus influenza, dapat diberikan oseltamivir. Untuk bayi < 1 tahun, oseltamivir 3 mg/kg/dosis setiap 12 jam dan untuk anak > 1 tahun diberikan dengan panduan dosis BB < 15 kg : 30 mg setiap 12 jam, BB 15-23 kg : 45 mg setiap 12 jam, BB 23-40 kg : 60 mg setiap 12 jam, dan > 40 kg : 75 mg setiap 12 jam.

.

Hasil gambar untuk COVID-19 PADA ANAK
.

Terapi definitif untuk COVID-19 masih terus diteliti, namun laporan efektivitas dan keamanan obat antivirus seperti remdesivir, favipiravir, tocilizumab, IVIG, dan plasma konvalesens, sementara ini hanya pada pasien dewasa, sedangkan pada anak masih belum cukup banyak data. Pemberian obat anti SARS-CoV-2 pada anak harus mempertimbangkan derajat beratnya penyakit dan komorbid, serta persetujuan orang tua.

.

Varian virus SARS-CoV-2 saat ini sudah terdeteksi, tetapi perubahan ini tidak berdampak hebat pada anak dalam hal kemampuannya untuk menularkan atau gejala klinis penyakit yang ditimbulkannya. Namun demikian, beberapa varian yang disebut “varian yang menjadi perhatian” (variants of concern) membutuhkan lebih banyak penelitian. Gejala klinis penyakit terlihat sama dan tingkat keparahannya juga terlihat sama dengan virus SARS-CoV-2 lainnya.

.

Varian virus SARS-CoV-2 diidentifikasi pertama kali di Inggris memperlihatkan peningkatan penularan di semua kelompok umur, termasuk anak, di wilayah yang mungkin terkait dengan banyak sekolah yang telah dibuka. Masih diperlukan banyak penelitian tentang varian virus ini, tetapi penelitian di Inggris tidak menunjukkan bahwa virus tersebut secara khusus menargetkan populasi anak, yang berarti bahwa varian itu tidak menginfeksi anak lebih banyak, dibandingkan virus lain yang sedang mengancam di daerah tersebut.

.

Hasil gambar untuk COVID-19 PADA ANAK

Cara terbaik untuk menjaga keamanan dan kesehatan anak adalah dengan pencegahan penularan COVID-19, karena vaksinasi COVID-19 belum dapat dilakukan. Memastikan anak memiliki tangan yang bersih dan mereka mampu mencuci tangan dengan benar menggunakan sabun dan air, adalah hal penting. Atau dapat juga gunakan cairan oles berbahan dasar alkohol (alcohol-based rub).

.

Selain itu, orang tua wajib memastikan anak agar mempraktikkan etika batuk, yaitu bersin dan batuk ditutup dengan siku. Anak terkecil yang dapat dilatih adalah sekitar usia dua tahun, mampu untuk terbiasa batuk dan bersin di sikunya. Etika batuk ini adalah kebiasaan baik yang harus dibentuk sejak anak. Pastikan sesuai dengan usia anak agar anak mengikuti panduan setempat tentang penggunaan masker dengan tepat. Dengan tangan yang bersih, pastikan masker menutupi hidung dan mulut anak serta anak diajari untuk tidak menyentuh bagian luar masker. Pastikan tangan mereka bersih saat melepas masker.

.

Selain itu, orang tua wajib berbicara dengan anak sebaik mungkin dalam menjawab pertanyaan mereka. Ada banyak informasi yang membingungkan dan menakutkan, sehingga ciptakan waktu untuk berbicara dan menjawab pertanyaan mereka secara benar, untuk mengurangi rasa takut anak dan memeilihara optimisme. Hal penting lainnya adalah mengingatkan anak agar selalu menjaga jarak secara fisik dengan temannya, karena cara-cara itulah yang terbaik untuk mencegah penyebaran SARS-CoV-2 pada anak.

.

Sudahkah kita bijak mendampingi anak dari bahaya COVID-19 ?

Sekian

Yogyakarta, 1 Februari 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
COVID-19 Healthy Life UHC

2020 UHC

Universal Health Coverage Day 2020 | Universal Health Coverage Partnership

UHC

fx. wikan indrarto*)

Pandemi COVID-19 menyerang seluruh warga global hanya beberapa bulan setelah para pemimpin dunia mengesahkan Deklarasi Politik penting tentang cakupan kesehatan semesta atau ‘Universal Health Coverage’ (UHC). Para pemimpin global telah berkomitmen untuk mempercepat upaya pencapaian UHC, sehingga semua orang dapat mengakses layanan kesehatan yang mereka butuhkan, kapan dan di mana mereka membutuhkannya, tanpa menderita kesulitan keuangan (financial hardship). Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/08/28/2019-uhc-sektor-swasta/

.

Pandemi COVID-19 menguji tekad global dalam memberikan layanan kesehatan bagi semua orang. Selain itu, mengancam untuk menghapus prestasi bidang kesehatan yang telah dicapai selama beberapa dekade terakhir. Hal ini disebabkan karena pandemi COVID-19 ini telah mengganggu layanan kesehatan esensial di banyak negara dan menghabiskan sumber daya hingga melampaui batas kemampuannya. Selain itu, juga menunjukkan dampak dari kurangnya investasi selama beberapa dekade, untuk layanan primer dan fungsi kesehatan masyarakat yang esensial.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/06/30/2019-capaian-uhc/

.

Serangkaian survei global mengungkapkan kemunduran dalam pemberian layanan kesehatan utama, untuk mencapai target yang telah disepakati secara global. Inisiatif untuk meningkatkan cakupan imunisasi, derajad kesehatan seksual dan reproduksi, layanan kesehatan ibu dan anak, perawatan lansia, dan program untuk mengakhiri berbagai penyakit, semuanya telah terdampak secara negatif oleh pandemi COVID-19.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/01/09/2019-biaya-uhc/

.

Hal ini memberikan tekanan tambahan pada kelompok populasi rentan, dengan kebutuhan layanan kesehatan yang tidak terpenuhi. Pada hal sebelum pandemi COVID-19, setidaknya setengah dari populasi dunia tidak memiliki penjaminan biaya, saat memerlukan layanan kesehatan penting dan sekitar 100 juta orang jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem, karena mereka harus mengeluarkan biaya untuk perawatan kesehatan, di luar kemampuan mereka untuk membayar. Untuk itulah prioritas UHC tahun 2020 ini dirumuskan, agar mengingatkan kita semua pada hal yang paling mendesak, yaitu kesehatan untuk semua: lindungi semua orang (health for all: protect everyone). Pada intinya, untuk mengakhiri pandemi COVID-19 ini dan membangun masa depan yang lebih aman dan lebih sehat, kita harus berinvestasi dalam sistem kesehatan yang melindungi kita semua,  yang sekarang harus dilakukan, bukan kelak.

Why palliative care must be included in Universal Health Coverage - ICPCN

Rencana aksi global untuk kehidupan yang lebih sehat dan kesejahteraan untuk semua, memerlukan beberapa langkah penting. Langkah pertama adalah pembentukan layanan kesehatan primer yang efektif dan berkelanjutan untuk mencapai target SDG terkait kesehatan. Langkah penting program ini adalah menyediakan sarana dan sistem untuk layanan kesehatan primer dan kesehatan masyarakat lainnya yang mudah diakses, terjangkau, adil, terintegrasi, dan berkualitas untuk semua warga masyarakat. Syaratnya adalah fasilitas kesehatan primer tersebut dekat dengan tempat orang tinggal atau bekerja, dan mampu mengatur rujukan pasien ke tingkat perawatan yang lebih tinggi. Layanan ini juga didukung dengan koordinasi multisektoral dalam bidang kesehatan dan melibatkan lebih banyak orang dan komunitas, untuk mewujudkan kesehatan dan kesejahteraan mereka sendiri.

.

Langkah kedua adalah meningkatkan besaran pembiayaan bidang kesehatan yang berkelanjutan, agar memungkinkan banyak negara untuk mengurangi berbagai kebutuhan yang selama ini tidak terpenuhi, akan layanan kesehatan. Selain itu, juga dapat mengatasi kesulitan keuangan yang timbul karena pembayaran biaya layanan kesehatan secara langsung, dengan membangun dan secara progresif memperkuat sistem untuk memobilisasi sumber daya yang memadai untuk layanan kesehatan, dan membelanjakannya dengan lebih baik, untuk lebih banyak jenis layanan kesehatan. Untuk beberapa negara berpenghasilan rendah, di mana alokasi pendanaan pembangunan cukup terbatas, program ini juga akan menyebabkan peningkatan efektivitas dukungan pendanaan eksternal.

.

Langkah ketiga adalah meningkatkan keterlibatan masyarakat dan memastikan bahwa masyarakat luas menerima dukungan yang mereka butuhkan. Keterlibatan masyarakat ini memungkinkan dan memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang terlibat akan tertinggal (no one is left behind). Langkah keempat menciptakan lingkungan yang mendukung peningkatan derajad kesehatan dan kesejahteraan bagi semua. Selain itu, juga meningkatkan investasi dan tindakan di berbagai sektor di luar kesehatan dan memaksimalkan manfaat pencapaian target di seluruh sektor SDG.

.

Langkah kelima adalah pemrograman inovatif dalam sistem kesehatan yang rapuh, rentan, dan mudah terganggu, sekalian untuk merespons wabah penyakit, termasuk pandemi COVID-19. Memastikan bahwa layanan kesehatan dan kemanusiaan tersedia di semua tempat, termasuk pada medan yang sulit serta mampu merespons munculnya wabah penyakit secara efektif, karena memerlukan koordinasi multisektoral, perencanaan rinci dan pembiayaan jangka panjang. Langkah keenam adalah penelitian, pengembangan, inovasi dan perbaikan akses. Penelitian dan inovasi sangat penting untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi produk dan layanan kesehatan. Sementara itu, akses yang berkelanjutan dan adil memastikan ketersediaan intervensi perawatan kesehatan yang lebih baik, bagi mereka yang paling membutuhkannya.

.

Langkah ketuju, adalah perbaikan data dan kesehatan digital. Data yang rinci, berkualitas dan komprehensif adalah kunci untuk memahami secara benar kebutuhan bidang kesehatan, merancang program dan kebijakan, memandu keputusan investasi, serta mengukur kemajuan. Teknologi digital dapat mengubah cara pengumpulan dan penyimpanan data kesehatan, sehingga dapat digunakan serta berkontribusi pada kebijakan kesehatan yang lebih adil.

.

Setiap negara itu unik, dan setiap negara dapat berfokus pada area yang berbeda, atau mengembangkan cara mereka sendiri dalam mengukur pencapaian UHC. Di Indonesia UHC diwujudkan melalui program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Apakah kita telah ikut mewujudkan?

 

Sekian

Yogyakarta, 24 Desember 2020

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Healthy Life

2020 ‘WASTING’ PADA ANAK

Wasting Pada Anak, Apa Saja Penyebab dan Bagaimana Mengatasinya? | Kabar  Tangsel

WASTING  PADA  ANAK

fx. wikan indarto*)

Pada 2015 segenap pemimpin dunia berkomitmen untuk memberantas  kekurangan gizi pada 2030 sebagai bagian dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Untuk mencapai hal ini, SDGs memasukkan target Majelis Kesehatan Dunia ke-65 dalam mengurangi proporsi anak dengan kekurangan gizi akut atau kurus (wasting) menjadi <5% pada tahun 2025 dan <3% pada tahun 2030. Namun, sejak target tersebut diadopsi, proporsi anak dengan wasting di banyak bagian dunia tetap tidak berubah. Apa yang membahayakan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/07/26/2019-kelaparan-masih-ada/

.

Saat ini, diperkirakan 7,3% (50 juta) dari semua anak balita menderita wasting. Tiga perempat dari anak ini tinggal di lingkungan berpenghasilan rendah, sedangkan sisanya terkena dampak krisis kemanusiaan,termasuk resesi karena pandemi COVID-19. Wasting mempengaruhi anak di hampir setiap benua, dengan jumlah terbesar tinggal di Asia Selatan dan Tenggara.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/08/08/2018-nutrisi-bayi-pengungsi/

.

Kemajuan dalam mengurangi separoh jumlah anak yang mengalami wasting atau terhambat pertumbuhannya, dan dalam mengurangi jumlah bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah, terbukti terlalu lambat, sehingga membuat target nutrisi SDG 2 menjauh dari jangkauan. Pada saat yang sama, justru terjadi tambahan tantangan, karena kelebihan berat badan dan obesitas terus meningkat di semua wilayah, terutama pada anak usia sekolah dan orang dewasa muda. Selain itu, peluang mengalami rawan pangan lebih tinggi terjadi pada wanita daripada pria di setiap benua, dengan kesenjangan terbesar di Amerika Latin. Tindakan untuk mengatasi tren yang meresahkan ini harus lebih berani, tidak hanya dalam skala, tetapi juga dalam hal kolaborasi multisektoral. Hal ini melibatkan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Dana Internasional untuk Pengembangan Pertanian (IFAD), Dana Anak PBB (UNICEF), Program Pangan Dunia (WFP) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/06/04/2018-campak-dan-gizi-buruk/

.

Kelaparan yang meningkat terjadi di banyak negara, terutama di mana pertumbuhan ekonomi tertinggal dan terdampak resesi karena pandemi COVID-19, yaitu di negara berpenghasilan menengah dan negara yang sangat bergantung pada perdagangan komoditas primer internasional. Laporan tahunan PBB 2019 juga menemukan bahwa ketimpangan pendapatan juga meningkat di banyak negara di mana kejadian kelaparan meningkat, menjadikannya semakin sulit bagi orang miskin, rentan atau terpinggirkan, untuk mengatasi perlambatan dan penurunan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/07/26/2019-kelaparan-masih-ada/

.

Untuk itu, semua negera seharusnya mendorong program transformasi struktural yang berpihak pada kaum miskin dan inklusif. Selain itu, juga berfokus pada orang dan komunitas khusus, agar menjadi pusat kegiatan dalam mengurangi kerentanan ekonomi, sehingga banyak negara akan mampu berada pada jalur untuk mengakhiri kelaparan, kerawanan pangan, dan segala bentuk kekurangan gizi.

Covid-19 Tingkatkan Anak-Anak Alami Masalah Gizi | Republika Online

Situasi kelaparan yang paling mengkhawatirkan terjadi di Afrika, karena wilayah ini memiliki tingkat kelaparan tertinggi di dunia. Selain itu, juga terus meningkat secara perlahan namun pasti, di hampir semua sub-wilayah. Di Afrika Timur khususnya, hampir sepertiga dari populasi (30,8 persen) kekurangan gizi. Selain perubahan iklim dan konflik bersenjata, ternyata perlambatan dan penurunan pertumbuhan ekonomi mendorong peningkatan kelaparan. Sejak tahun 2011, hampir setengah negara di mana kelaparan meningkat, terjadi karena perlambatan pertumbuhan ekonomi atau stagnasi di Afrika.

.

Namun demikian, jumlah terbesar orang kurang gizi (lebih dari 500 juta) justru tinggal di Asia, sebagian besar di Asia selatan. Secara bersama-sama, Afrika dan Asia menanggung bagian terbesar dari semua bentuk malnutrisi, terhitung lebih dari sembilan dari sepuluh anak pendek, kekurangan gizi kronis atau stunting, dan lebih dari sembilan dari sepuluh anak kurus atau wasting di seluruh dunia. Di Asia selatan dan Afrika sub-Sahara, satu dari tiga anak adalah pendek. Selain tantangan stunting dan wasting, wilayah Asia dan Afrika juga merupakan rumah bagi hampir tiga perempat dari semua anak yang kelebihan berat badan di seluruh dunia, sebagian besar didorong oleh peningkatan konsumsi makanan yang tidak sehat.

.

Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam, Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) Arifin Rudiyanto, pada 10 April 2019 menyatakan bahwa tahun 2018 lalu, konsumsi makanan per kapita di Indonesia meningkat sekitar 5 persen, dan bahkan konsumsi kalori pada masyarakat berpendapatan rendah meningkat sekitar 8 persen. Dalam kondisi ini, tingkat stunting untuk anak balita di Indonesia turun 7 persen dibanding kondisi tahun 2013, menjadi 30,8 persen tahun 2018. Prevalensi kekurangan berat badan (wasting) pada anak balita juga turun 2 persen, menjadi 10 persen selama periode yang sama. Indonesia berada dalam kondisi transisi ekonomi, dengan pertumbuhan pendapatan lebih dari 5 persen per tahun, dan permintaan akan makanan tumbuh lebih dari empat persen. Perubahan ini tidak bisa dihindari, karena adanya pertumbuhan ekonomi yang cukup cepat, urbanisasi, dan perubahan gaya hidup.

.

Laporan Keamanan Pangan PBB tahun 2017 yang lalu mengidentifikasi tiga faktor di balik meningkatnya kelaparan, yaitu konflik bersenjata, perubahan iklim, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Sampai tahun 2020 ini, ketiganya tetap berpengaruh dalam ketahanan pangan, nutrisi global, dan meningkatnya wasting pada anak, sehingga ketiganya harus kita cegah terjadi di Indonesia, terutama dampak resesi terkait pandemi COVID-19.

Sudahkah kita bertindak?

Sekian

Yogyakarta, 8 Desember 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, dan Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?