Categories
anak Healthy Life sekolah

2021 PELAN DI JALAN

Ini Bahayanya Berkendara Pelan di Lajur Kanan

PELAN   DI   JALAN

fx. wikan indrarto*)

Pekan Keamanan di Jalan Global PBB ke-6 (UN Global Road Safety Week) pada 17-23 Mei 2021, menyoroti manfaat laju kendaraan di perkotaan yang berkecepatan rendah, sebagai jantung setiap komunitas di manapun. Kampanye ini untuk mendorong kebijakan di tingkat nasional dan lokal dalam membatasi kecepatan 30 km/jam di daerah perkotaan, dalam tagar #Love30, guna membangun jalan bagi kehidupan #StreetsforLife. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/02/10/2020-keamanan-di-jalan-raya/

.

Bukti penelitian dari seluruh dunia menunjukkan bahwa laju kendaraan berkecepatan rendah mengurangi risiko cedera serius dan menyelamatkan nyawa, termasuk penelitian terakhir di Tanzania terbukti mengurangi cedera di jalan sebanyak 26%. Di Toronto, Kanada, kecelakaan di jalan raya turun 28% sejak batas kecepatan dikurangi dari 40 menjadi 30 km/jam pada tahun 2015, yang menyebabkan berkurangnya cedera serius dan fatal hingga dua pertiganya. Kolombia di Bogota telah memasukkan zona 30 km/jam dalam paket ‘Speed Management Plan’ yang telah mengurangi kematian lalu lintas sebesar 32%. Penelitian di London menemukan bahwa batas kecepatan yang lebih rendah (dalam hal ini zona 20 mph) dikaitkan dengan pengurangan korban di jalan raya sebesar 42%, sementara di Bristol, penerapan batas kecepatan 20 mph dikaitkan dengan pengurangan 63% dalam cedera fatal. Secara keseluruhan, ada pengurangan korban hingga 6% untuk setiap pengurangan kecepatan 1 mph di jalanan perkotaan dan peningkatan kecepatan rata-rata 1 km/jam menghasilkan risiko kecelakaan 3% lebih tinggi, dengan peningkatan kematian 4 hingga 5%.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/10/2019-selamat-di-jalan/

.

Dengan laju kendaraan di atas 30 km/jam, benturan pada pejalan kaki memiliki risiko kematian yang jauh lebih besar. Dalam kecepatan 30 km/jam mobil dapat berhenti segera, sedangkan dalam kecepatan 50 km/jam mobil masih tetap akan melaju, meskipun dilakukan pengereman kuat. Selain itu, kecepatan kendaraan yang lebih tinggi mempersempit penglihatan areal tepi bagi pengendara dan memengaruhi waktu reaksi mereka.

.

Jajak pendapat YouGov global di 11 negara untuk Prakarsa Kesehatan Anak, menemukan bahwa 74% orang mendukung pembatasan kecepatan kendaraan di jalan sekitar sekolah, sehingga memudahkan anak berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah dengan lebih aman dan lebih sehat. Dalam survei di Inggris, 70% pengendara setuju bahwa 30 km/jam adalah batas yang tepat untuk laju kendaraan di areal perumahan. Survei di Skotlandia menunjukkan 65% setuju, dan satu dari empat orang berpikir bahwa aturan itu akan membuat mereka lebih cenderung berjalan kaki atau bersepeda, dalam kehidupan sehari-hari mereka.

.

Ada juga manfaat kesehatan yang signifikan dari memperlambat laju lalu lintas, selain mendukung peralihan ke gaya hidup aktif melalui berjalan kaki dan bersepeda. Interaksi sosial yang dilakukan antar orang  di jalan adalah penting untuk membangun komunitas dan kesejahteraan kolektif. Lalu lintas yang lebih lambat juga mengurangi bahaya lain di jalan raya, menekan kebisingan, dan meningkatkan hubungan sosial.

.

Dalam kepadatan lalu lintas di perkotaan, kecepatan tinggi terbukti jarang berdampak pada waktu tempuh perjalanan. Perbedaan waktu tempuh dengan kecepatan maksimum 30 km/jam dengan 50 km/jam di perkotaan adalah minimal. Kemacetan dan waktu yang dihabiskan untuk menunggu di lampu lalu lintas menjadi hijau, seringkali lebih signifikan berpengaruh pada lamanya waktu perjalanan dibandingkan kecepatan kendaraan itu sendiri. Area dengan kendaraan yang bergerak lebih lambat juga berpotensi menghilangkan kebutuhan sinyal lampu lalu lintas, dan menciptakan hubungan yang lebih setara di antara pengguna jalan yang saling mengalah.

.

Sambut New Normal, Dishub Terapkan Protokol Kesehatan di Jalan Raya

Meskipun banyak negara telah mempelopori pendekatan keselamatan jalan raya, tetapi program tersebut lebih efektif diterapkan di negara berpenghasilan tinggi. Pada hal, sebenarnya jalan berkecepatan rendah dapat diterapkan di negara mana pun, terlepas dari tingkat perkembangan atau jumlah kendaraannya. Zona kecepatan maksimal 30 km/jam telah berhasil ditetapkan di lingkungan perkotaan di banyak negara, yang biasanya dimulai di sekitar sekolah, seperti proyek Amend di Tanzania, yang memenangkan hadiah bergengsi ‘Ross Prize for Cities’.

.

Idealnya, jalan raya harus memiliki kekuatan mengatur sendiri (self-enforcing), dirancang sedemikian rupa sehingga memaksa kendaraan untuk melaju dengan kecepatan yang lebih lambat. Ada berbagai cara yang bisa dilakukan, seperti rambu peringatan kecepatan, marka jalan, polisi tidur, pelambat lalu lintas  (traffic calming) lainnya, pepohonan atau taman yang indah di pinggir jalan, dan rute untuk pejalan kaki. Tindakan tersebut dapat berbiaya rendah dan penegakan hukum bagi orang yang tidak patuh adalah masalah sekunder, dan sebaiknya bukan menjadi alasan untuk menetapkan batas kecepatan yang benar.

.

Saat berkecepatan rendah, kendaraan cenderung bergerak lebih lancar, dengan akselerasi yang lebih rendah (yang terkait dengan emisi gas buang pada kendaraan bermesin pembakaran internal) dan hanya sedikit perlambatan (yang dapat menyebabkan keausan ban), yang mengarah ke polusi yang juga lebih rendah. Polisi tidur dapat menyebabkan sedikit peningkatan polusi lokal karena peningkatan akselerasi dan pengereman, tetapi dampaknya rendah.

Sah! Pakai Skuter Listrik di Jalan Raya Denda Rp 250 Ribu

Di Indonesia rata-rata 3 orang meninggal setiap jam akibat kecelakaan di jalan raya. Penyebabnya beberapa hal, yaitu 61% kecelakaan disebabkan oleh faktor manusia yang terkait dengan kemampuan pengemudi, termasuk kecepatan yang tinggi, 9% disebabkan karena faktor kendaraan yang tidak laik jalan, dan 30% disebabkan oleh faktor prasarana dan lingkungan. Program pembatasan kecepatan 30 km/jam di daerah perkotaan, dalam tagar #Love30, guna membangun jalan bagi kehidupan #StreetsforLife, dapat menekan angka kematian karena kecelakaan lalu lintas di jalan raya.  

Selain itu, dengan kecepatan berkendara di jalan yang lebih pelan akan memungkinkan anak dan remaja untuk berjalan kaki atau bersepeda, saat pembelajaran tatap muka di sekolah yang dimulai tahun ini, saat pandemi COVID-19 semakain terkendali.

Apakah kita sudah pelan di jalan?

Sekian

Yogyakarta, 24 Mei 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, pengguna sepeda di jalan raya dalam kota, WA: 081227280161,

Categories
dokter Healthy Life vaksinasi

2021 VAKSIN RABIES TELAN

Kasus Rabies Kembali Meluas, Segera Vaksin Anjing!

VAKSIN  RABIES  TELAN

fx. wikan indrarto*)

Senin, 3 Mei 2021 mulai digunakan vaksin rabies oral (ORV) atau telan, sebagai sebuah strategi baru dalam memerangi kematian akibat penyakit rabies atau anjing gila. Secara global terjadi hampir 59.000 kematian akibat rabies pada manusia setiap tahun di seluruh dunia. Apa yang baru?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/09/27/2018-hari-rabies-sedunia/

.

Rabies adalah penyakit virus yang dapat dicegah dengan vaksin dan pada Kamis, 21 April 2020 dilaporkan terjadi di lebih dari 150 negara di dunia. Anjing adalah sumber utama kematian akibat rabies pada manusia, berkontribusi hingga 99% dari semua penularan virus rabies ke manusia. Pemutusan penularan penyakit dapat dilakukan melalui vaksinasi anjing dan pencegahan gigitan anjing. Infeksi rabies menyebabkan puluhan ribu kematian setiap tahun, terutama di Asia, termasuk Indonesia, dan Afrika.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/09/10/2019-informasi-vaksinasi/

.

Perawatan rabies secara global menelan biaya US $ 8,6 miliar per tahun dengan 40% orang yang digigit hewan tersangka rabies adalah anak di bawah usia 15 tahun. Begitu gejala klinis muncul, infeksi rabies hampir 100% fatal dan sekitar 99% kasus, anjing peliharaan bertanggung jawab atas penularan virus rabies ke manusia. Namun demikian, virus rabies dapat juga menyerang hewan liar yang menyebar ke manusia melalui gigitan atau cakaran, biasanya melalui air liur.

.

Sekitar 80% kasus rabies pada manusia terjadi di daerah pedesaan. Meskipun vaksin rabies untuk manusia dan imunoglobulin yang efektif tersedia, namun vaksin tersebut tidak tersedia atau tidak dapat diakses oleh sebagian besar mereka yang membutuhkan. Vaksinasi pada anjing adalah strategi yang paling hemat biaya untuk mencegah rabies pada manusia. Selama ini vaksinasi dilakukan dengan penyuntikan pada anjing, dengan prediksi untuk memberantas rabies di masyarakat, perlu memvaksinasi 7 dari setiap 10 anjing.

.

Protokol Profilaksis Rabies - Alomedika
.

Anjing liar memainkan peran utama dalam menyebarkan rabies pada hewan dan manusia selama beberapa dekade. Memvaksinasi anjing dengan cara suntikan membutuhkan usaha yang luar biasa. Metode vaksinasi anjing di banyak negara berpenghasilan rendah ini bisa jadi rumit, karena banyak anjing belum pernah ke dokter hewan dan mungkin tidak terbiasa dekat dengan manusia. Untuk itu, metode yang lebih baru dengan memberikan ORV pada anjing, mendapatkan daya tarik sebagai alternatif yang aman dan efektif.

.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) mendukung penggunaan ORV yang efektif dan aman untuk anjing. Membuat anjing ‘makan’ umpan ORV jauh lebih cepat, lebih mudah dan lebih praktis daripada menangkap mereka di jaring dan memberi mereka suntikan vaksin rabies. Ini juga menghemat uang karena lebih banyak anjing dapat divaksinasi setiap hari.

.

Selama ini dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk melatih tim yang terdiri dari petugas yang bugar secara fisik, untuk menangkap anjing yang sulit dijangkau menggunakan jaring untuk menyuntikkan vaksink rabies. Pada hal, anjing yang sama dapat divaksinasi menggunakan vaksin oral oleh petugas yang hanya perlu beberapa jam pelatihan tentang cara menyebarkan umpan.

.

Thailand telah menerapkan program vaksinasi rabies oral pada populasi anjing yang berkeliaran bebas. Uji coba awal dilakukan di 5 kota besar di Thailand untuk meluncurkan vaksinasi rabies oral di wilayah mereka pada tahun 2020, memvaksinasi hampir 2.000 anjing yang berkeliaran bebas. Telah tercapai 65% dari cakupan vaksinasi pada populasi anjing liar di area ini. Selain itu, tidak ada wabah rabies yang dilaporkan pada anjing yang berkeliaran bebas di salah satu dari lima kota ini sejak vaksinasi oral dilakukan. Selanjutnya vaksinasi rabies oral akan ditingkatkan pada anjing yang berkeliaran bebas pada tahun 2021.

.

Evaluasi Keamanan ORV harus dijamin, karena ORV mengandung virus rabies hidup yang dilemahkan, yang diberikan oleh manusia untuk dimakan anjing liar. Tidak setiap negara memiliki proses lisensi vaksin hewan, sehingga untuk mendapatkan lisensi di sebuah negara, tentu saja dapat secara signifikan menunda pemberantasan rabies.

.

Anjing liar terbukti lebih menyukai rasa umpan yang berbeda berdasarkan pada apa yang biasanya mereka makan, yang dapat bervariasi menurut habitatnya. Penggunaan ORV pada anjing perlu terus mengamati jenis umpan yang paling disukai anjing untuk dimakan, dan memastikan bahwa rasa ini dapat diproduksi secara massal.

.

Oleh karena ORV adalah produk baru untuk anjing, diperlukan edukasi untuk membantu pemberi vaksin dan pemilik anjing, memahami manfaat dari vaksin baru ini. Selain itu, juga tambahan penjaminan bahwa ORV dapat digunakan untuk menghilangkan kasus rabies yang terkait dengan anjing. ORV dapat memainkan peran penting dalam perang melawan rabies dan merupakan metode baru untuk mencapai tujuan menghilangkan kematian akibat rabies pada manusia, yang disebabkan oleh anjing pada tahun 2030. 

.

Sudahkah Anda siap membantu?

SekianYogyakarta, 10 Mei 2021*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
COVID-19 dokter Healthy Life vaksinasi

2021 Sel Denritik dan COVID-19

Pasar Vaksin Kanker Sel Dendritik Global Memperkirakan dan Memperkirakan  Pendapatan Pasar secara global | tahu lebih banyak – Koalisi Untuk  Indonesia Sehat

VAKSINASI   COVID-19  BERBASIS   SEL   DENDRITIK

fx. wikan indrarto*)

Vaksinasi berbasis sel denritik (DC) merupakan vaksinasi yang menjanjikan dalam imunoterapi untuk kanker dan penyakit menular, karena sel denritik memainkan peran penting dalam memulai respons imun seluler. Hal tersebut dirinci pada ‘Dendritic Cell-Based Immunotherapy’ tulisan Berger dan Schultz dari Universität Erlangen Germany, yang diterbitkan oleh Springer-Verlag Berlin Heidelberg 2003. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/02/06/2021-covid-19-pada-anak/

.

Sel dendritik adalah salah satu sel yang berperan dalam fungsi sistem imunitas tubuh, yang berperan sebagai sel yang memunculkan partikel musuh atau Antigen Presenting Cell (APC). Dalam terapi kanker, sel dendrit dimanfaatkan untuk memicu respons imun terhadap sel kanker. Sel tersebut dinamai ‘Dendritic Cells’ (DC) karena bentuknya seperti pohon bercabang banyak. Sel dendritik merupakan leukosit yang berasal dari sumsum tulang dan jenis sel pembawa antigen (APC) yang paling kuat. Karena permukaannya yang luas, DC dapat berkontak dengan banyak sel, seperti sel T, natural killer cells, neutrofil, sel epitel, sel tumor, dan lain sebagainya.

.

Sel tumor dapat dikenali oleh sistem kekebalan tubuh. Melanoma sebuah kanker kulit adalah salah satu model tumor dengan pemahaman terbaik. Respon imun antitumor spontan telah terlihat pada pasien melanoma, termasuk regresi tumor primer. Di sisi lain, rekurensi tumor lokal dan penyebaran sistemik sel melanoma terlihat pada banyak pasien, bahkan bertahun-tahun setelah pengambilan atau eksisi tumor primer. Oleh karena itu, muncul spekulasi tentang adanya pertempuran terus menerus antara sistem kekebalan tubuh dan sel tumor melanoma yang telah menghilang (occult tumor cells). Dalam kasus melanoma ini, perkembangan sel tumor diduga merupakan konsekuensi dari sistem kekebalan tubuh yang terganggu atau memang ada mekanisme keluarnya tumor dari tempat persembunyiannya. Sel tumor dapat bersembunyi atau benar-benar kehilangan kemampuan untuk dikenali sebagai antigen tumor, sehingga menghindari pengenalan sel tumor oleh sel T spesifik. Selanjutnya sel T menjadi tidak berfungsi sebagai akibat dari perubahan sinyal reseptor sel T atau pengaruh sitokin di sekitar tumor, yang menyebabkan fungsi sel penyaji antigen terhambat.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/01/02/2020-spekulan-covid-19/

.

Untuk mengatasi banyaknya mekanisme pertahanan yang dikembangkan oleh tumor, terapi imun kanker harus diarahkan pada induksi respon imun anti tumor yang kuat dan luas, dengan menggabungkan sistem kekebalan bawaan dan adaptif. Sejumlah uji klinis pada pasien kanker yang menggunakan DC secara ex vivo telah dilakukan dan sejauh ini hanya toksisitas kecil yang pernah dilaporkan. Baik produksi sel T spesifik antigen maupun perbaikan respon klinis telah terjadi pada pasien kanker yang divaksinasi.

.

Disuntik Sel Dendritik Sendiri, Mantan Menkes Siti Fadilah Jadi Relawan  Vaksin Imunoterapi – IndependensI

Pencegahan penyakit menular melalui vaksinasi merupakan salah satu keberhasilan terbesar di dunia kedokteran. Namun demikian, semakin banyak patogen infeksius seperti HIV, virus Dengue, Mycobacterium tuberculosis, plasmodium Malaria, dan banyak patogen lainnya lolos dari sistem kekebalan, sehingga pendekatan vaksinasi standar terancam gagal. Mekanisme penghindaran imun yang mendasari dapat dikaitkan dengan interferensi mikroba patogen dengan sel dendritik dan fungsinya, termasuk dalam menghadapi COVID-19.

.

Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah sindrom pernafasan akut yang baru muncul pada akhir tahun 2019, telah menginfeksi jutaan orang dan menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang luar biasa di seluruh dunia. Pengobatan yang efektif untuk COVID-19 karena infeksi SARS-CoV-2 masih kurang, dan strategi terapeutik yang berbeda sedang dalam tahap uji klinis. Kekebalan humoral dan seluler seseorang terhadap infeksi SARS-CoV-2 adalah penentu penting untuk luaran klinis pasien. Infeksi SARS-CoV-2 terbukti menyebabkan serokonversi dan produksi antibodi anti-SARS-CoV-2. Antibodi dapat menekan replikasi virus melalui proses netralisasi, tetapi juga dapat memperburuk kondisi klinis dalam patogenesis COVID-19 melalui proses yang disebut peningkatan ketergantungan antibodi (antibody-dependent enhancement).

.

Kemajuan pesat telah dibuat dalam penelitian respon antibodi dan terapi pada pasien COVID-19, termasuk gambaran klinis atas respon antibodi pada  berbagai populasi berbeda yang terinfeksi SARS-CoV-2. Penelitian tentang pengobatan pasien COVID-19 meliputi pemberian donor plasma kovalesense, infus  imunoglobin, perawatan isolasi, pemberian antibodi penetralisir monoklonal (monoclonal neutralizing antibodies). Ligong Lu pada Epub 2020 Dec 1 mengajak semua ilmuwan untuk mempelajari respon antibodi dan terapi pada pasien COVID-19 untuk pengembangan vaksin.

.

Hipotesis yang paling menarik diajukan oleh Saadeldin (2020) adalah imunoterapi vaksin sel dendritik adalah awal dari perang besar mengakhiri kanker dan COVID-19. Imunoterapi juga menawarkan strategi pengobatan potensial untuk COVID-19, pandemi terburuk yang dihadapi generasi ini, sebuah penyakit dengan efek merusak pada sistem kesehatan dan ekonomi di seluruh dunia. Hipotesis utama adalah terapi vaksin DC dapat menjadi strategi pengobatan potensial untuk membantu memerangi COVID-19, dengan harapan menjadi sebuah pilihan pengobatan yang lebih disesuaikan untuk pasien COVID-19, dengan beberapa penyakit penyerta atau komorbid.

.

Peningkatan respons imun oleh DC yang dihasilkan ex vivo merupakan pertimbangan yang menarik. Meskipun uji klinis vaksinasi DC yang berhasil sejauh ini belum dilaporkan, namun kelayakan pendekatan terapi ini didukung oleh penelitian in vitro dengan sel manusia serta model in vivo pada tikus. Induksi antibodi antiparasit telah dibuktikan secara in vitro dengan DC protein cacing, dan kekebalan protektif terhadap beberapa jenis bakteri telah dicapai dengan vaksinasi DC pada tikus. Perlindungan terhadap infeksi paru oleh bakteri Pseudomonas aeruginosa setelah imunisasi dengan sel dendritik P. aeruginosa juga telah berhasil dibuktikan.

Penelitian sel dendritik untuk menimbulkan imunitas melawan COVID-19 di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta yang sedang berlangsung, bukanlah kelanjutan dari tahap uji klinis vaksin Nusantara. Langkah penting ini perlu didukung penuh, untuk memenuhi rasa keadilan bagi pasien COVID-19 yang tak dapat disuntik dengan vaksin lainnya yang bersifat massal. Sudahkah kita bijak ?

.

Sekian

Yogyakarta, 30 April 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak dokter Healthy Life HIV-AIDS Pendukung ASI UHC

2021 Metode Kangoro untuk Bayi

Kangaroo Mother Care Technique | Download Scientific Diagram

METODE   KANGURU   UNTUK   BAYI

fx. wikan indrarto*)

Sabtu, 15 Mei 2021 diperingati sebagai Hari Peringatan Kesadaran pada Penerapan Perawatan Metode Kanguru (PMK) untuk Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan Bayi Prematur. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/11/14/2020-steroid-untuk-bayi-prematur/

.

Perawatan Metode Kanguru (PMK) pertama kali diperkenalkan oleh Ray dan Martinez di Bogota, Kolumbia pada tahun 1979 sebagai cara alternatif perawatan BBLR di tengah tingginya angka BBLR dan terbatasnya fasilitas kesehatan yang ada. Metode ini meniru binatang berkantung kanguru dari Australia, yang bayinya lahir sering prematur, dan setelah lahir disimpan di kantung perut ibunya untuk mencegah kedinginan, sekaligus mendapatkan makanan bergizi berupa air susu induknya.

.

Hakekat PMK adalah kontak kulit-ke-kulit sejak dini, terus menerus dan berkepanjangan antara ibu dan bayi dengan pemberian ASI secara eksklusif, yang telah terbukti menjadi intervensi medis yang efektif dan berbiaya rendah, dalam meningkatkan kelangsungan hidup dan luaran klinis bayi kecil dan sakit. Metode PMK ini telah dibuktikan dapat meningkatkan stabilitas fisiologis, lingkungan yang mendukung secara termal, mengurangi risiko infeksi serius, dan mengurangi kematian bayi prematur, BBLR dan BBLSR (Berat Badan Lahir Sangat Rendah). 

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/09/26/2019-ibu-dan-bayi-lebih-banyak-hidup/

.

Namun demikian, cakupan PMK global di seluruh populasi tetap rendah selama beberapa dekade dan peningkatan skala penerapannya sangat sulit diukur. Hanya sebagian kecil bayi kecil dan sakit yang mendapat manfaat dari PMK, telah menerimanya. Pada 10 Desember 2020 penerapkan PMK dapat meningkat dari mendekati 0% menjadi lebih dari 40% setelah satu tahun pendampingan dari Kementrian Kesehatan setempat, di tiga distrik di India dan 4 wilayah di Ethiopia.

.

Kangaroo care - Wikipedia

Melalui pelatihan tenaga kesehatan, kebijakan yang kondusif dan peningkatan infrastruktur, target global adalah memastikan PMK diberikan kepada setidaknya 80% bayi BBLR di seluruh dunia. Meskipun jumlah kematian bayi baru lahir secara global menurun dari 5 juta pada tahun 1990 menjadi 2,4 juta pada tahun 2019, tetapi banyak bayi masih menghadapi risiko kematian terbesar dalam 28 hari pertama mereka. Pada 2019, sekitar 47% dari semua kematian balita terjadi pada periode baru lahir dengan sekitar sepertiganya meninggal pada hari kelahiran dan hampir tiga perempat meninggal dalam minggu pertama kehidupan. Bayi yang meninggal dalam 28 hari pertama kelahiran, biasanya menderita penyakit yang terkait dengan kurangnya layanan medis berkualitas saat lahir, atau perawatan segera setelah lahir, dan pada hari-hari pertama kehidupan bayi.

.

Pada tahun 2019 terdapat 10 negara teratas dengan jumlah tertinggi (dalam ribuan) kematian bayi baru lahir, yaitu India (522), Nigeria (270), Pakistan (248), Etiopia (99), Kongo (97), Cina (64), Indonesia (60), Bangladesh (56), Afganistan (43), dan Tanzania (43). Perawatan bayi baru lahir yang penting adalah perlindungan dari kedinginan, misalnya dengan PMK untuk terjadinya kontak kulit-ke-kulit antara ibu dan bayi, pemberian ASI dini dan eksklusif, serta perawatan tali pusat dan kulit bayi secara higienis. Selain itu, penilaian masalah kesehatan yang serius atau membutuhkan perawatan tambahan, misalnya bayi BBLR, bayi sakit atau lahir dari ibu yang terinfeksi HIV. Kemudian juga tindakan pencegahan, misalnya imunisasi BCG dan Hepatitis B, injeksi vitamin K dan infeksi mata. Semua intervensi medis tersebut sangat berperan dalam menekan angka kematian bayi.

.

PMK merupakan alternatif pengganti inkubator dalam perawatan BBLR, merupakan cara yang efektif untuk memenuhi kebutuhan bayi yang paling mendasar, yaitu adanya kontak kulit bayi ke kulit ibu, dimana tubuh ibu akan menjadi thermoregulator bagi bayinya, sehingga bayi mendapatkan kehangatan (menghindari bayi dari hipotermia). Selain itu, PMK memudahkan pemberian ASI dini dan eksklusif, perlindungan dari infeksi, stimulasi, keselamatan, dan kasih sayang. PMK dapat meningkatkan hubungan istimewa antara ibu dan bayi, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi.

.

PMK terdiri dari 4 komponen, yaitu ‘position’, ‘nutrition’, ‘support’ and ‘discharge’. PMK menempatkan bayi pada posisi tegak di dada ibunya, di antara kedua payudara ibu, dan tanpa busana. Bayi dibiarkan telanjang hanya mengenakan popok, kaus kaki dan topi sehingga terjadi kontak kulit bayi dan kulit ibu seluas mungkin. Posisi bayi diamankan dengan kain panjang atau pengikat lainnya. Kepala bayi dipalingkan ke sisi kanan atau kiri, dengan posisi sedikit tengadah (ekstensi). Ujung pengikat tepat berada di bawah kuping bayi. Posisi kepala bayi seperti ini bertujuan untuk menjaga agar saluran napas tetap terbuka, dan memberi peluang agar terjadi kontak mata antara ibu dan bayi.

.

Kanguru nutrisi merupakan salah satu manfaat PMK, yaitu meningkatkan pemberian ASI secara langsung maupun dengan pemberian ASI perah. Bayi dengan PMK selalu berada di dekat payudara ibu, menempel dan terjadi kontak kulit ke kulit, sehingga bayi dapat menyusu setiap kali ia inginkan. Selain itu, ibu dapat dengan mudah merasakan tanda bahwa bayinya mulai lapar, seperti adanya gerakan pada mulut bayi, munculnya hisapan kecil, serta adanya gerakan bayi untuk mencari puting susu ibu. Bila telah terbiasa melakukan PMK, ibu dapat dengan mudah memberikan ASI tanpa harus mengeluarkan bayi dari baju kangurunya.

.

‘Kangaroo support’ merupakan bentuk bantuan secara fisik maupun emosi, baik dari tenaga kesehatan di mana bayi lahir, ibu lain yang telah melakukan PMK maupun keluarga, agar ibu dapat melakukan PMK untuk bayinya. Sedangkan ‘kangaroo discharge’ adalah membiasakan ibu melakukan PMK selama di RS, sehingga pada saat ibu pulang dengan bayi, ibu tetap dapat melakukan PMK bahkan melanjutkannya di rumah. Metode PMK ini merupakan salah satu teknologi tepat guna yang sederhana, murah, dan dapat digunakan apabila fasilitas untuk perawatan BBLR sangat terbatas.

.

Momentum  ‘International Kangaroo Mother Care Awareness Day’ pada Sabtu, 15 Mei 2021 mengingatkan kita untuk mendukung penerapan PMK pada bayi BBLR dan prematur di seluruh dunia. Inisiatif ini bertujuan untuk mempercepat penurunan angka kematian bayi, dengan memastikan tidak ada seorang bayipun yang tertinggal (to ensure no one is left behind), termasuk semua bayi di sekitar kita.

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 3 Mei 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak COVID-19 Healthy Life UHC

2021 HP DAN ASMA

Kemenkes RI on Twitter: "Hari Asma Sedunia diperingati setiap hari Selasa  di minggu pertama bulan Mei. Peringatan ini sebagai upaya untuk  meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap penyakit Asma. Semoga berkah  kesehatan selalu

ASMA  DALAM  HP

fx. wikan indrarto*)

Hari Asma Sedunia pada Rabu, 5 Mei 2021 diselenggarakan oleh the Global Initiative for Asthma (GINA) sejak tahun 1993, yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran akan penyakit asma di seluruh dunia. Tema Hari Asma Sedunia tahun 2021 ini adalah “Mengungkap Kesalahpahaman Asma” (Uncovering Asthma Misconceptions). Apa yang salah dipahami?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/06/02/2019-bebas-asma-saat-lebaran/

.

Asma adalah masalah utama kesehatan masyarakat karena diperkirakan lebih dari 339 juta orang menderita asma secara global dan terdapat 417.918 kematian akibat asma pada tahun 2016. Meskipun asma tidak dapat disembuhkan, penanganan asma dapat dilakukan untuk mengurangi dan mencegah terjadinya serangan asma.

.

Kita semua diajak untuk bertindak mengatasi mitos dan kesalahpahaman tentang asma, yang justru mencegah penderita asma menikmati manfaat optimal dari kemajuan besar dalam pengelolaan asma. Kesalahpahaman umum seputar asma misalnya anggapan asma adalah penyakit masa anak dan akan membaik seiring bertambahnya usia, asma menular, sebaiknya tidak berolahraga dan hanya dapat dikontrol dengan obat steroid dosis tinggi.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/03/08/steroid-pada-serangan-asma/

.

Pada hal yang benar adalah asma dapat terjadi pada semua usia, baik anak, remaja, dewasa maupun lanjut usia. Selain itu, asma tidak menular meskipun infeksi virus pernapasan, seperti flu dapat menyebabkan serangan asma. Pada anak, asma sering dikaitkan dengan alergi, tetapi asma yang dimulai pada masa dewasa lebih jarang disebabkan karena alergi. Jika asma terkontrol dengan baik, penderita asma dapat berolahraga dan bahkan melakukan olah raga untuk mencapai prestasi terbaik. Yang terakhir, asma paling sering dapat dikendalikan dengan obat steroid hirup dosis rendah, dengan pemantauan derajad asma oleh dokter secara ketat.

.

Gejala Penyerta Batuk pada Anak yang Perlu Diwaspadai

Saat ini sudah ada aplikasi ponsel cerdas yang dapat memprediksi perburukan asma dengan data batuk di malam hari. Batuk di malam hari yang diukur melalui aplikasi ponsel cerdas, dapat menunjukkan bahwa asma semakin parah. Penelitian yang dipresentasikan di kongres internasional (the European Respiratory Society International Congress) tahun 2020 adalah yang pertama kali mengukur batuk pasien selama beberapa malam dan menunjukkan bahwa batuk, adalah tanda derajat asma memburuk.

.

Aplikasi tersebut merupakan cara baru untuk membantu pasien dan dokter  memantau asma dan menyesuaikan pengobatan untuk menjaga gejala asma tetap terkendali. Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Frank Rassouli, dari Cantonal Hospital St. Gallen, Zurich, Swiss, yang dilatarbelakangi bahwa sampai sekarang, belum ada alat yang dapat diandalkan untuk mengukur gejala asma pada seseorang dalam semalam.

.

Penelitian itu melibatkan 94 pasien asma yang sedang dirawat di dua klinik di Swiss: Lung Center, Cantonal Hospital, St Gallen dan MediX Group Practice, Zurich. Setiap pasien diminta mengunjungi klinik asma pada awal dan akhir penelitian, untuk melaporkan perangkat pengendali asma mereka, yaitu data gejala seperti sesak napas dan apakah asma mereka berdampak pada kehidupan mereka sehari-hari.

.

7 Smartphone Flagship Murah Terbaik, HP Performa Ngebut Tanpa Jebol  Kantong! | merdeka.com

Selama 29 hari penelitian, mereka tidur dengan ponsel cerdas di kamar tidur mereka, dengan aplikasi yang diaktifkan untuk mengukur tingkat kebisingan suara batuk di malam hari. Aplikasi tersebut juga memungkinkan bagi pasien untuk melaporkan gejala klinis lain pada malam hari. Para peneliti menemukan bahwa jumlah batuk di malam hari sangat bervariasi dari satu pasien ke pasien lainnya, tetapi ditemukan korelasi yang kuat antara peningkatan batuk di malam hari selama seminggu, dan gejala asma yang semakin memburuk.

.

Batuk di malam hari dapat diukur secara sederhana dengan aplikasi ponsel cerdas dan bahwa peningkatan batuk di malam hari merupakan indikator bahwa asma memburuk. Memantau asma sangat penting karena jika dokter dapat melihat tanda-tanda awal asma memburuk, dokter dapat menyesuaikan pengobatan untuk mencegah serangan asma yang memberat.

.

Meskipun asma tidak dapat disembuhkan, tetapi dengan memastikan bahwa pasien menggunakan panduan tatalaksana mereka seperti yang ditentukan oleh dokter, asma biasanya dapat dikontrol dengan baik. Asma yang tidak terkontrol dapat mengganggu aktivitas sekolah atau pekerjaan dan menyebabkan serangan asma yang serius.

Aplikasi ponsel cerdas ini juga dapat mempermudah pengumpulan banyak data, untuk mempelajari batuk di malam hari pada asma dan penyakit pernapasan lainnya. Perpaduan antara perangkat keras yang mudah dan tersedia seperti telepon pintar, dikombinasikan dengan kecerdasan buatan yang dapat bekerja dengan data kualitas batuk pada malam hari, akan memberikan dokter mata dan telinga tambahan, dalam menilai kondisi klinis pasien mereka di kehidupan nyata, bukan hanya di ruang praktek dokter. Pasien asma tetap harus berkonsultasi dengan dokter jika merasa gejala mereka memburuk dengan cara apapun, bahkan jika aplikasi ponsel cerdas ini tidak menunjukkan peningkatan batuk pada malam hari atau gejala lainnya.

Momentum Hari Asma Sedunia Rabu, 5 Mei 2021 mengingatkan kita bahwa kesalahpahaman tentang asma harus dikoreksi (Uncovering Asthma Misconceptions), terutama untuk mencapai pengendalian asma. Inisiatif ini bertujuan untuk mempercepat pengendalian asma dengan berbagai cara, temasuk aplikasi ponsel cerdas, dengan memastikan tidak ada seorangpun yang tertinggal (to ensure no one is left behind).

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

https://www.ersnet.org/the-society/news/smartphone-app-can-predict-asthma-deterioration-by-measuring-night-time-coughing

Sekian

Yogyakarta, 19 April 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak COVID-19 Healthy Life Pendukung ASI sekolah UHC

2021 Kesehatan Anak Paska Pandemi COVID-19

Anak Sehat, Indonesia Kuat! | Indonesia Baik

KESEHATAN  ANAK  PASKA  PANDEMI  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Dimuat di Harian Nasional KOMPAS hari Senin, 19 April 2021, halaman 7

Selama dua dekade terakhir, epidemiologi kesehatan anak global telah berubah secara signifikan, termasuk dalam kesejahteraan anak. Ketika semua negara berusaha membangun kembali saat pulih dari ganasnya pandemi COVID-19, diperlukan evolusi substansial dalam berbagai program, untuk memenuhi kebutuhan kesehatan anak yang berubah. Apa yang harus berubah?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/03/21/2021-imunitas-anak/

.

Pola kematian dan penyakit pada masa anak berubah secara dramatis. Tren menunjukkan bahwa kematian yang dapat dicegah sekarang tertinggi pada periode bayi baru lahir. Namun demikian, sebnarnya pneumonia, diare dan malaria yang diperparah oleh malnutrisi, masih juga terus berdampak besar pada anak balita. Ini terutama terjadi di antara populasi yang paling terpinggirkan di wilayah Afrika sub-Sahara, di mana populasi anak justru diperkirakan akan tumbuh dalam beberapa dekade mendatang.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/02/06/2021-covid-19-pada-anak/

.

Di beberapa negara kematian pada remaja (15-19 tahun) justru meningkat karena kecelakaan lalu lintas di jalan raya, kekerasan fisik, dan melukai diri sendiri. Peningkatan jumlah anak dan remaja yang masih bertahan hidup, banyak yang dipengaruhi oleh kejadian cedera, gangguan perkembangan, penyakit tidak menular dan kesehatan mental yang buruk. Kelebihan berat badan dan obesitas di kalangan remaja dengan cepat meningkat, sehingga banyak negara menghadapi beban ganda malnutrisi, baik berupa kekurangan maupun kelebihan gizi.

.

Tantangan ini cenderung diperparah oleh pergeseran demografis. Peningkatan jumlah anak yang tinggal di pusat kota pada tahun-tahun mendatang, membatasi kesempatan untuk mendapatkan udara bersih dan beraktivitas fisik, sehingga menyebabkan tekanan serius pada berbagai fasilitas layanan kesehatan di daerah, apabila tanpa intervensi khusus. Kesehatan dan kesejahteraan anak dan remaja harus menjadi pusat upaya untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada tahun 2030. Dunia perlu mengubah orientasi program untuk mencapai SDG (reframing child and adolescent health for the SDG era).

.

Kata Dokter, Begini Ciri-ciri Anak Sehat Secara Fisik dan Mental

Negara hanya dapat berkembang dan makmur jika negara berinvestasi untuk anak dan remaja, dan mengoptimalkan dukungan dalam momen penting pembentukan kesehatan anak di masa depan, dengan menggunakan apa yang disebut pendekatan alur kehidupan (lifecourse approach). Dengan pemikiran ini, meningkatkan kesehatan anak tidak boleh lagi hanya dianggap semata-mata sebagai masalah sektor kesehatan. Kebijakan, layanan, dan edukasi harus ditempatkan sebagai bagian dari solusi oleh pemerintah dan masyarakat, untuk mendorong agenda kesehatan anak dan remaja global, regional dan nasional.

.

Hampir satu tahun setelah COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi, peningkatan luar biasa terlihat pada pembalikan risiko kelangsungan hidup anak dan remaja. Kerangka Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (SDG) yang diadopsi pada tahun 2015, memang telah mencakup pendekatan holistik untuk meningkatkan kesehatan anak dan remaja, tetap masih relevan setelah pandemi COVID-19 berakhir, tetapi perlu penajaman fokus.

.

Kerangka kerja tersebut dahulu disusun berdasarkan tren tingkat makro, sehingga saat ini membutuhkan perubahan besar dalam paradigma tentang kesehatan anak dan remaja. Hal ini memerlukan peralihan dari fokus (shift in thinking) yang sebelumnya hanya tentang kelangsungan hidup anak di bawah 5 tahun, menjadi keterkaitan kesehatan ibu, bayi baru lahir, anak dan remaja, dengan pemahaman tentang bagaimana alur kehidupan manusia, tidak hanya pada masa dini, tetapi harus berlanjut sepanjang kehidupan anak hingga dewasa.

.

Perubahan demografi dan beban penyakit telah memaksa setiap negara harus memperkuat sistem kesehatannya, agar lebih responsif terhadap perubahan kebutuhan anak dan remaja. WHO dan UNICEF telah memulai upaya untuk mengarahkan kembali strategi kesehatan anak, mengalihkan perhatian ke perspektif alur kehidupan (life course perspective), dan menjauh dari fokus eksklusif sebelumnya, yaitu hanya terkait kelangsungan hidup bayi dan anak di bawah 5 tahun.

.

Prinsip pemrograman ulang (redesign) kesehatan anak, berupa program kesehatan anak dan remaja, serta implementasi kebijakannya yang harus mengikuti pendekatan alur kehidupan (life course perspective), yang didasarkan pada data tentang epidemiologi penyakit terbaru. Pemrograman ulang ini termasuk memastikan layanan kesehatan prakonsepsi yang baik, layanan kesehatan ibu hamil, serta intervensi medis yang berkualitas tinggi untuk anak sampai remaja, yang berusia 0 hingga 19 tahun.

.

Program baru harus berdasarkan hak dan adil (rights based and equitable), sehingga intervensi dan layanan medis penting harus disediakan untuk semua anak, di mana pun mereka tinggal. Selain itu, program harus mencakup layanan terpadu yang berpusat pada keluarga, anak, dan remaja, dalam bentuk mempromosikan kesehatan, pertumbuhan, dan kesejahteraan. Implementasinya meliputi pembentukan ketahanan atau imunitas, mencegah pajanan terhadap penyakit dan komplikasi selanjutnya, dan meminimalkan kerentanan atau faktor risiko sakit, dengan mempertimbangkan kebutuhan personal anak dan remaja.

.

Masyarakat dan keluarga harus diberdayakan untuk berpartisipasi dalam perancangan kebijakan pada anak dan remaja, untuk penyediaan layanan kesehatan yang berkualitas, paska pandemi COVID-19.

Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 22 Maret 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak COVID-19 Healthy Life sekolah

2021 Cidera dan Kekerasan

Waspada! 5 Jenis Cedera karena Olahraga dan Cara Mengatasinya | Popmama.com

CEDERA  DAN  KEKERASAN

fx. wikan indrarto*)

Laporan UNICEF pada Jumat, 19 Maret 2021 menyebutkan bahwa cidera merenggut nyawa 4,4 juta remaja di seluruh dunia setiap tahun dan merupakan hampir 8% dari semua kematian remaja. Kira-kira 1 dari 3 kematian remaja ini diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas di jalan raya, 1 dari 6 akibat bunuh diri, 1 dari 10 akibat pembunuhan, dan 1 dari 61 akibat perang dan konflik bersenjata. Apa yang mencemaskan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/14/2020-hari-remaja-internasional/

.

Selain kematian dan cedera, paparan terhadap segala bentuk kekerasan, terutama di masa anak, dapat meningkatkan risiko gangguan mental dan keinginan untuk bunuh diri, menjadi perokok, pengguna alkohol dan penyalahgunaan zat terlarang, mengalami penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes dan kanker, serta masalah sosial seperti kemiskinan, kejahatan dan kekerasan. Karena alasan ini, mencegah cedera dan kekerasan, termasuk dengan memutus siklus kekerasan antargenerasi, sebenarnya lebih dari sekadar menghindari cedera fisik, tetapi juga berkontribusi pada manfaat kesehatan, sosial dan ekonomi yang substansial.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/10/2020-kesehatan-seksual-remaja/

.

Cedera dan kekerasan merupakan penyebab utama kematian dan beban penyakit di semua negara, tetapi tidak tersebar merata di seluruh wilayah sebuah negara. Bahkan beberapa remaja lebih rentan daripada yang lain tergantung pada kondisi di mana mereka dilahirkan, tumbuh, sekolah, hidup, dan usia. Usia lebih muda, laki-laki dan status sosial ekonomi rendah semuanya meningkatkan risiko cedera dan menjadi korban atau pelaku kekerasan fisik yang berat. Risiko cedera akibat jatuh meningkat seiring bertambahnya usia.

.

Remaja laki-laki dua kali lebih banyak daripada perempuan yang meninggal setiap tahun akibat cedera dan kekerasan. Di seluruh dunia, sekitar tiga perempat kematian akibat kecelakaan lalu lintas di jalan raya, empat perlima kematian akibat pembunuhan, dan dua pertiga kematian akibat perang dan konflik bersenjata, mengenai remaja laki-laki. Akan tetapi di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, wanita dan remaja perempuan lebih mungkin untuk mengalami luka bakar dibandingkan pria dan remaja laki-laki.

.

Kemiskinan juga meningkatkan risiko terjadinya cidera dan kekerasan. Sekitar 90% kematian terkait cidera terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di seluruh dunia, angka kematian akibat cedera lebih tinggi di negara berpenghasilan rendah dibandingkan di negara berpenghasilan tinggi. Bahkan di dalam negara, anak dan remaja dari latar belakang ekonomi yang lebih miskin memiliki tingkat kecelakaan fatal dan non-fatal yang lebih tinggi, daripada sebayanya dari latar belakang ekonomi yang lebih kaya.

Video Perkelahian Siswi SMP Viral di Klungkung, TKP Tak Jauh dari Rumah  Jabatan Bupati & Wabup - Tribun Bali

Faktor risiko dan determinan yang umum untuk semua jenis cedera, meliputi pengaruh alkohol atau penggunaan obat terlarang, pengawasan orang tua yang tidak memadai, dan faktor prediktor kesehatan lainnya. Hal ini mencakup kemiskinan, ketidaksetaraan ekonomi dan gender, pengangguran, kurangnya keamanan di lingkungan perumahan, sekolah, dan jalan. Pada saat layanan RS untuk kondisi trauma dan darurat medis adalah lemah atau karena akses yang tidak adil ke layanan kesehatan, tentu saja dampak dari cedera dan kekerasan dapat memburuk.

.

Cedera dan kekerasan dapat diprediksi dan dicegah. Analisis biaya dan manfaat tindakan pencegahan cedera dan kekerasan, menawarkan efisiensi finansial yang signifikan dan memberikan manfaat yang besar. Ssetiap US $ 1 yang diinvestasikan untuk detektor asap menghemat US $ 65 perawatan luka bakar, penggunaan sabuk pengaman dan helm sepeda motor menghemat US $ 29 biaya layanan medis, dan kunjungan ke rumah oleh petugas kesehatan menghemat US $ 6 untuk biaya medis dan kehilangan produktivitas. Di Bangladesh, mengajarkan anak usia sekolah keterampilan berenang dapat menghemat US $ 3.000 per kematian remaja yang dapat dicegah. Di Eropa dan Amerika Utara, pengurangan 10% dalam pengalaman masa kanak yang merugikan dapat disamakan dengan tabungan tahunan sebesar 3 juta Tahun Hidup dengan Kendala (Disability Adjusted Life Years) atau setara US $ 105 miliar.

.

Layanan medis darurat yang berkualitas bagi para korban cidera dapat mencegah kematian remaja, mengurangi jumlah kecacatan, serta mengatasi dampak fisik, emosional, finansial dan hukum atas cidera atau kekerasan tersebut. Dengan demikian, membentuk sistem organisasi, perencanaan dan akses ke layanan trauma dan kedaruratan, termasuk telekomunikasi dan transportasi ke rumah sakit, perawatan pra-rumah sakit dan di rumah sakit, merupakan strategi penting untuk meminimalkan kematian dan kecacatan remaja, akibat cedera dan kekerasan. Menyediakan rehabilitasi bagi penyandang disabilitas, memastikan mereka memiliki akses ke alat bantu seperti kursi roda, dan menghilangkan hambatan partisipasi sosial dan ekonomi adalah strategi utama untuk memastikan bahwa remaja yang mengalami disabilitas akibat cedera atau kekerasan, dapat terus melanjutan kehidupan dengan penuh semangat dan menyenangkan.

.

Laporan UNICEF pada Jumat, 19 Maret 2021 mengingatkan kita semua, bahwa cidera, kekerasan, dan kematian pada remaja dapat dicegah, dengan memastikan tidak ada seorangpun remaja yang tertinggal (to ensure no one is left behind).

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 22 Maret 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak COVID-19 Healthy Life resisten obat tuberkulosis

2021 Tuberkulosis pada Anak

MENGENALI TBC PADA ANAK

TB  PADA  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Penyakit tuberkulosis (TB) pada anak di bawah usia 15 tahun merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat penting, karena merupakan penanda adanya proses penularan TB yang baru terjadi. Apa yang sebaiknya dilakukan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/03/24/2021-hari-tuberkulosis-sedunia/

.

TB disebabkan oleh bakteri yang disebut Mycobacterium tuberculosis. Bakteri TB menyebar dari orang ke orang melalui udara. Bakteri TB dikeluarkan ke udara ketika penderita TB mengalami batuk, bersin, berbicara, atau bernyanyi, sehingga anak di sekitarnya mungkin menghirup bakteri ini dan terinfeksi, dengan dua jenis TB pada anak, yaitu infeksi TB laten dan sakit TB.

.

Pertama, anak dengan infeksi TB laten biasanya diketahui dengan tes Mantoux pada kulit atau tes serologi darah yang menunjukkan adanya infeksi TB. Anak tersebut memiliki bakteri TB di dalam tubuhnya, tetapi bakterinya tidak aktif, sehingga anak tidak sakit dan tidak memiliki gejala klinis. Anak tersebut tidak berbahaya karena tidak dapat menyebarkan bakteri TB ke orang lain. Jika kondisi umum anak menurun, maka bakteri TB dapat menjadi aktif di dalam tubuh dan berkembang biak, sehingga akan mengalami sakit TB.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/01/22/2019-akhiri-tb/

.

Kedua, anak sakit TB setelah terinfeksi bakteri TB, karena anak lebih mungkin mengalami sakit TB dan lebih cepat terjadi sakit daripada orang dewasa. Dibandingkan dengan anak yang sakit TB karena terinfeksi baru, penyakit TB pada orang dewasa biasanya disebabkan oleh infeksi TB masa lalu yang menjadi aktif, ketika sistem kekebalan menjadi lemah, misalnya adanya infeksi HIV atau ko infeksi TB HIV dan diabetes.

.

Tanda dan gejala penyakit TB pada anak antara lain batuk, rasa sakit atau lemah, lesu, dan atau berkurangnya semangat bermain. Juga penurunan berat badan atau gagal tumbuh, demam dan atau mengalami banyak keringat pada malam hari. Gejala penyakit TB di bagian tubuh lain bergantung pada daerah yang terkena. Bayi, anak kecil, dan anak dengan gangguan sistem imun (misalnya, anak dengan HIV) berada pada risiko tertinggi untuk berkembang menjadi bentuk TB yang paling parah seperti meningitis TB atau penyakit TB yang menyebar (disseminated TB disease).

.

Mengenal Kondisi TB Paru pada Anak yang Harus Moms Antisipasi – Good  Doctor | Tips Kesehatan, Chat Dokter, Beli Obat Online

Memastikan diagnosis sakit TB pada anak dengan tes laboratorium klinik adalah tantangan yang tidak mudah. Hal ini karena 2 penyebab utama, yaitu pada anak sulit untuk mengumpulkan spesimen dahak, apalagi pada bayi. Selain itu, tes laboratorium yang digunakan untuk menemukan TB dalam dahak (sputum BTA) cenderung memberikan hasil positif pada anak. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa anak lebih mungkin mengalami sakit TB, meski jumlah bakteri lebih sedikit (paucibacillary).

.

Karena alasan ini, diagnosis penyakit TB pada anak berbeda dengan dewasa, sering dibuat tanpa konfirmasi laboratorium sputum BTA, tetapi berdasarkan kombinasi 4 faktor berikut. Pertama, tanda dan gejala klinis sakit TB. Kedua, tes kulit Mantoux atau tuberkulin atau tes darah serologi TB  (IGRA) positif. Ketiga, foto rontgen dada yang memiliki pola sakit TB berat, dan keempat, riwayat kontak dengan orang dewasa yang mengidap TB menular.

.

Pengujian laboratorium TB pada anak yang biasanya merupakan satu-satunya tanda infeksi TB adalah reaksi positif terhadap tes kulit Mantoux atau tes darah serologi TB. Tes kulit TB adalah aman pada anak, dan lebih sering diterapkan daripada tes darah serologi TB untuk anak di bawah usia 5 tahun, karena lebih praktis dan ekonomis.

.

Semua anak dengan hasil tes kulit Mantoux positif untuk infeksi TB yang disertai gejala klinis TB, atau riwayat kontak dengan pengidap dewasa penyakit TB, harus menjalani evaluasi medis. Evaluasi medis untuk penyakit TB, termasuk rontgen dada dan pemeriksaan fisik untuk menyingkirkan sakit TB, dan harus dilakukan sebelum memulai pengobatan untuk infeksi TB laten. 

.

Anak di atas usia 2 tahun dengan infeksi TB laten dapat diobati dengan obat anti TB (OAT) lini pertama, yaitu isoniazid-rifapentin sekali seminggu selama 12 minggu. Pengobatan alternatif untuk infeksi TB laten pada anak adalah rifampisin harian selama 4 bulan atau isoniazid harian selama 9 bulan. Kedua jenis regimen obat tersebut sama-sama mudah dilaksanakan, namun demikian dokter sebaiknya menawarkan dan meresepkan rejimen pendek yang tentu lebih nyaman, jika memungkinkan. Semua pasien tentu lebih mungkin untuk menyelesaikan rejimen pengobatan yang lebih pendek.

.

Sakit TB pada anak diobati dengan beberapa kombinasi OAT selama 6 sampai 9 bulan. Penting untuk diperhatikan bahwa jika seorang anak berhenti minum obat sebelum selesai, anak tersebut dapat kembali sakit. Jika obat tidak diminum dengan benar, bakteri TB yang masih hidup dapat menjadi resisten terhadap obat tersebut. TB yang resisten terhadap obat lebih sulit dan lebih mahal untuk diobati, dan pengobatan berlangsung lebih lama, bahkan hingga 18 sampai 24 bulan.

.

Momentum Hari TB Sedunia Rabu, 24 Maret 2021 mengingatkan kita bahwa jam terus berdetak (The Clock is Ticking), dan kita hampir kehabisan waktu, untuk mencapai target TB global dalam SDG 2016-2030 dengan semboyan “Find. Treat. All. #EndTB.” Inisiatif ini bertujuan untuk mempercepat pembasmian TB dengan memastikan tidak ada anak yang tertinggal (to ensure no child is left behind).

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 20 Maret 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak HIV-AIDS resisten obat tuberkulosis UHC

2021 Hari Tuberkulosis Sedunia

Puncak Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia tahun 2021 - YouTube

HARI  TUBERKULOSIS  SEDUNIA  2021

fx. wikan indrarto*)

Setiap tahun diperingati Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia pada tanggal 24 Maret, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit TB yang menghancurkan secara medis, sosial dan ekonomi, dan untuk meningkatkan upaya mengakhiri epidemi TB global. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/03/30/2020-pencegahan-tbc/

.

TB awalnya disebut “phthisis” di era Yunani kuno, “tabes” di jaman Romawi kuno, dan “schachepheth” dalam bahasa Ibrani kuno. Pada tahun 1700-an, TB disebut “wabah putih” (the white plague), karena wajah para pasien yang berubah pucat. Dr. Johann Schonlein menciptakan istilah “tuberkulosis” pada tahun 1834, meskipun diperkirakan bakteri Mycobacterium tuberculosis mungkin sudah ada selama 3 juta tahun sebelumnya. Pada abad 1800-an bahkan setelah Schonlein menamakannya tuberkulosis, TB juga disebut “Kapten Kematian” (Captain of all these men of death).

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/01/18/2019-tantangan-tb/

.

Pada tanggal 24 Maret 1882, Dr. Robert Koch di Berlin, Jerman mengumumkan penemuan Mycobacterium tuberculosis, bakteri penyebab TB. Pada waktu ini, TB membunuh satu dari setiap tujuh orang di Amerika Serikat dan Eropa. Penemuan Dr. Koch adalah langkah terpenting yang diambil untuk mengendalikan dan menghilangkan penyakit mematikan ini, yang awalnya disebut Koch Pulmonum (KP). Seabad kemudian, 24 Maret baru ditetapkan sebagai Hari TB Sedunia, yaitu sebuah hari yang didedikasikan untuk mengingatkan masyarakat tentang dampak TB di seluruh dunia.

.

Sampai saat ini TB tetap menjadi salah satu penyakit menular pembunuh paling mematikan di dunia. Setiap hari hampir 4.000 orang meninggal karena TB dan hampir 28.000 orang jatuh sakit, karena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dan disembuhkan ini. Sampai tahun lalu, upaya global untuk memerangi TB telah menyelamatkan sekitar 63 juta jiwa sejak tahun 2000.

.

Tema Hari TB Sedunia 2021 adalah : jam terus berdetak (The Clock is Ticking), untuk mengingatkan bahwa dunia hampir kehabisan waktu, karena komitmen memberantas TB yang dibuat oleh para pemimpin global, masih jauh dari terwujud. Hal ini sangat penting karena pandemi COVID-19 telah menempatkan kemajuan pananganan TB selama ini, pada risiko kegagalan. Selain itu, juga untuk memastikan akses yang adil ke layanan pencegahan dan perawatan TB sejalan dengan upaya global untuk mencapai Cakupan Kesehatan Semesta atau ‘Universal Health Coverage’ (UHC).

.

Sejarah Hari Tuberkulosis Sedunia yang Diperingati Setiap 24 Maret |  Limapagi

WHO menetapkan tiga indikator TB beserta targetnya yang harus dicapai oleh semua negara di dunia. Pertama, menurunkan jumlah kematian TB sebanyak 95% pada tahun 2035 dibandingkan kematian pada tahun 2015. Kedua, menurunkan insidens TB sebanyak 90% pada tahun 2035 dibandingkan tahun 2015, dan ketiga, tidak ada keluarga pasien TB yang terbebani pembiayaannya terkait pengobatan TB pada tahun 2035.

.

Target program Penanggulangan TB nasional yaitu eliminasi pada tahun 2035 dan Indonesia Bebas TB Tahun 2050. Eliminasi TB adalah tercapainya jumlah kasus TB 1 per 1.000.000 penduduk. Sementara tahun 2017 jumlah kasus TB saat ini sebesar 254 per 100.000 atau 25,40 per 1 juta penduduk Indonesia. WHO menetapkan standar keberhasilan pengobatan sebesar 85%. Angka keberhasilan di Indonesia pada tahun 2017 sebesar 87,8% (data per 21 Mei 2018). Angka kesembuhan cenderung mempunyai gap dengan angka keberhasilan pengobatan, fenomena menurunnya angka kesembuhan ini mencemaskan dan perlu mendapat perhatian besar karena akan mempengaruhi penularan penyakit TB.

.

Pencegahan dan pengendalian faktor risiko TB dilakukan dengan cara membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat, perilaku etika berbatuk, pemeliharaan dan perbaikan kualitas perumahan dan lingkungannya sesuai dengan standar rumah sehat, dan peningkatan daya tahan tubuh. Selain itu, juga penanganan penyakit penyerta TB dan penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi TB.

.

Penanganan COVID-19 saat ini juga dapat diterapkan dalam upaya eliminasi TB. Pelacakan yang agresif untuk menemukan penderita dapat dilakukan untuk mencari penderita TB yang belum terlaporkan. Selain itu, upaya preventif dan promotif untuk mengatasi TB bukan hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan saja, melainkan juga menjadi tanggung jawab bersama berbagai pemangku kepentingan, dengan melibatkan banyak sektor pendukung lainnya secara terpadu. Meski tengah disibukkan dengan penanganan COVID-19, tetapi layanan TB maupun pengobatan terhadap pasien harus tetap berlangsung.

.

Memang ada pengurangan yang signifikan kasus TB baru pada paruh pertama tahun 2020, mungkin karena banyak negara memberlakukan ‘lockdown’ untuk mengekang penyebaran wabah COVID-19. Tiga negara dengan beban tinggi yakni India, Indonesia dan Filipina, melaporkan penurunan antara 25-30% TB selama enam bulan pertama tahun 2020 dibandingkan dengan periode sama tahun 2019 lalu. Ketiga negara tersebut juga termasuk negara dengan angka kasus virus COVID-19 tertinggi di dunia.

.

Momentum Hari TB Sedunia Rabu, 24 Maret 2021 mengingatkan kita bahwa jam terus berdetak (The Clock is Ticking), dan kita hampir kehabisan waktu, untuk mencapai target TB global dalam SDG 2016-2030 dengan semboyan “Find. Treat. All. #EndTB.” Inisiatif ini bertujuan untuk mempercepat pembasmian TB dengan memastikan tidak ada yang tertinggal (to ensure no one is left behind).

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 19 Maret 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
Healthy Life Malaria UHC vaksinasi

2021 Bebas Malaria

2018 MM Bebas Malaria – Berita Terbaru, Akurat & Terpercaya

BEBAS  MALARIA

fx. wikan indrarto*)

Kamis, 25 Februari 2021 El Salvador disertifikasi bebas malaria oleh WHO. El Salvador adalah negara ketiga yang telah mencapai status bebas malaria dalam beberapa tahun terakhir di Amerika, setelah Argentina pada 2019 dan Paraguay pada 2018. Tujuh negara di wilayah tersebut telah disertifikasi dari tahun 1962 hingga 1973. Secara global, terdapat total 38 negara dan wilayah telah mencapai pencapaian ini, dengan Indonesia ditargetkan akan mencapainya tahun 2030 kelak. Apa yang perlu dicontoh?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/04/24/2020-hari-malaria-sedunia/

.

Sertifikasi bebas malaria tersebut buah gemilang atas lebih dari 50 tahun komitmen pemerintah El Salvador dan masyarakatnya, untuk mengakhiri penyakit di negara dengan populasi padat dan geografi yang terbilang ramah terhadap malaria. “Malaria telah menyerang umat manusia selama ribuan tahun, tetapi negara-negara seperti El Salvador adalah bukti hidup dan inspirasi bagi semua negara yang berani memimpikan masa depan bebas malaria,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/03/2019-vaksin-malaria/

.

Sertifikasi eliminasi malaria diberikan oleh WHO ketika suatu negara telah membuktikan, tanpa keraguan, bahwa rantai penularan malaria pada penduduk lokal telah terputus secara nasional setidaknya selama tiga tahun berturut-turut. Dengan pengecualian satu wabah pada tahun 1996, El Salvador terus mengurangi beban malaria selama tiga dekade terakhir. Antara tahun 1990 dan 2010, jumlah kasus malaria menurun dari lebih dari 9.000 menjadi tinggal 26. Negara ini telah melaporkan nol kasus penyakit malaria indegenous atau asli sejak 2017.

.

Upaya anti-malaria El Salvador dimulai pada 1940-an dengan pengendalian mekanis vektor malaria, yaitu nyamuk anopheles, melalui pembangunan saluran air permanen pertama di rawa-rawa, diikuti dengan penyemprotan dalam ruangan dengan pestisida DDT. Pada pertengahan 1950-an, El Salvador membentuk Program Malaria Nasional dan merekrut jaringan petugas kesehatan komunitas untuk mendeteksi dan mengobati malaria di seluruh negeri. Para relawan, yang dikenal sebagai “Col Vol,” mencatat kasus dan intervensi malaria. Data tersebut, yang dimasukkan ke dalam sistem informasi kesehatan oleh personel pengendalian vektor, sehingga memungkinkan program pengendalian yang strategis dan bertarget jelas di seluruh negeri.

.

Bebas Malaria, Prestasi Bangsa – UPTD Puskesmas Wonogiri 1

Pada akhir 1960-an, kemajuan telah melambat karena nyamuk anopheles telah mengalami resistensi terhadap DDT. Ekspansi industri kapas di negara tersebut diperkirakan telah memicu peningkatan lebih lanjut kasus malaria. Sepanjang tahun 1970-an, terjadi lonjakan pekerja migran di perkebunan kapas di daerah pesisir dekat lokasi perkembangbiakan nyamuk, sehingga peningkatan kasus malaria sangat tajam, selain karena program penghentian penggunaan DDT. El Salvador mengalami kebangkitan kembali malaria, mencapai puncaknya hampir 96.000 kasus pada tahun 1980.

.

Dengan dukungan WHO, CDC, dan USAID, El Salvador berhasil mengubah orientasi program malaria, yang mengarah pada peningkatan sumber daya dan intervensi berdasarkan distribusi geografis kasus. Pemerintah juga mendesentralisasikan jaringan laboratorium diagnostiknya pada tahun 1987, sehingga kasus malaria dapat dideteksi dan ditangani dengan lebih cepat. Faktor tersebut yang terjadi bersamaan dengan runtuhnya industri kapas menyebabkan penurunan kasus yang cepat pada tahun 1980-an.

.

Reformasi kesehatan yang dimulai tahun 2009, yaitu mencakup peningkatan penting pada anggaran dan cakupan perawatan kesehatan primer, serta pemeliharaan program pengendalian vektor sebagai inti dalam intervensi malaria, telah berkontribusi pada keberhasilan El Salvador. Pemerintah El Salvador menyadari sejak awal bahwa pembiayaan domestik yang konsisten dan memadai akan sangat penting untuk mencapai dan mempertahankan tujuan pembangunan bidang kesehatan, termasuk untuk malaria. Komitmen ini telah tercermin selama lebih dari 50 tahun dalam anggaran nasional.

.

Meskipun melaporkan kematian terkait malaria terakhirnya pada tahun 1984, El Salvador telah mempertahankan besarnya investasi domestik untuk malaria. Pada tahun 2020, negara terus mengandalkan 276 orang petugas pengendalian vektor nyamuk, 247 buah laboratorium, perawat dan dokter yang terlibat dalam deteksi kasus, ahli epidemiologi, tim manajemen dan personel, dan lebih dari 3.000 petugas kesehatan masyarakat. Sebagai bagian dari komitmen El Salvador untuk mempertahankan nol kasus, penganggaran nasional untuk malaria telah dan akan terus dipertahankan, bahkan pada saat pandemi COVID-19 ini.

.

Lampung Masih Endemis Malaria, Kampanye Dinas Kesehatan Menuju Desa Bebas  Malaria Jangan Cuma Jargon | WARTA9.COM

Meskipun sebagian besar pembiayaan untuk malaria berasal dari sumber daya domestik, upaya eliminasi El Salvador mendapat manfaat dari hibah eksternal yang disediakan oleh Global Fund. Pembelajaran sertifikasi bebas malaria dari El Salvador dapat digunakan di Indonesia. Keseluruhan kasus malaria tahun 2019 di Indonesia masih sebanyak 250.644. Kasus tertinggi terjadi di Provinsi Papua sebanyak 216.380 kasus. Selanjutnya, disusul dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur sebanyak 12.909 kasus dan Provinsi Papua Barat sebanyak 7.079 kasus.

Keberhasilan El Salvador merupakan upaya kolaboratif antara pemerintah, masyarakat sipil, akademisi, sektor swasta, dan komunitas untuk memberantas malaria tanpa kendor, bahkan pada saat pandemi COVID-19 ini.

Sudahkah kita mencontohnya?

Sekian

Yogyakarta, 5 Maret 2021

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?