Categories
COVID-19 dokter Healthy Life UHC vaksinasi

2021 Hari Hepatitis Sedunia

HARI  HEPATITIS  SEDUNIA  2021

fx. wikan indrarto*)

Hari Hepatitis Sedunia (World Hepatitis Day) diperingati setiap tahun pada tanggal 28 Juli untuk meningkatkan kesadaran akan virus hepatitis, peradangan hati yang menyebabkan penyakit hati parah dan kanker hepatoseluler. Tanggal 28 Juli dipilih untuk menghormati ulang tahun pemenang hadiah Nobel bidang kedokteran, Profesor Baruch Samuel Blumberg, penemu virus hepatitis B (HBV) dan vaksin hepatitis B pertama. Tema tahun 2021 ini adalah “Hepatitis tidak dapat menunggu” (Hepatitis can’t wait), yang menekankan urgensi upaya yang diperlukan untuk menghilangkan hepatitis sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada tahun 2030. Apa yang harus dilakukan sekarang?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/02/12/2021-tangani-hepatitis-c/

.

Hepatitis A adalah penyakit hati karena infeksi virus Hepatitis A (VHA) yang dapat menyebabkan penyakit ringan hingga berat. HAV ditularkan melalui konsumsi makanan dan air yang terkontaminasi atau melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi. Hampir semua orang pulih dan sehat kembali sepenuhnya dari hepatitis A dengan memiliki kekebalan seumur hidup. Namun, sebagian kecil orang yang terinfeksi hepatitis A dapat meninggal karena hepatitis fulminan. WHO memperkirakan bahwa hepatitis A menyebabkan sekitar 7.134 kematian pada tahun 2016, atau 0,5% dari kematian akibat virus hepatitis. Risiko infeksi hepatitis A dikaitkan dengan kurangnya air bersih, dan sanitasi dan kebersihan yang buruk, seperti tangan kotor. Pasokan air yang aman, keamanan pangan, sanitasi yang lebih baik, cuci tangan dan vaksin hepatitis A adalah cara paling efektif untuk memerangi penyakit ini.

.

Hepatitis B adalah infeksi virus hepatitis B (VHB) yang menyerang hati dan dapat menyebabkan penyakit baik, akut maupun kronis. Virus ini paling sering ditularkan dari ibu ke anak selama kelahiran dan persalinan, serta melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh lainnya, termasuk hubungan seks dengan pasangan yang terinfeksi, penggunaan narkoba suntikan atau paparan instrumen tajam. WHO memperkirakan bahwa pada tahun 2015, terdapat 257 juta orang hidup dengan infeksi hepatitis B kronis, yang didefinisikan sebagai antigen permukaan hepatitis B (HBsAg) positif.

.

Pada tahun 2015, hepatitis B menyebabkan sekitar 887.000 kematian, sebagian besar karena sirosis dan karsinoma hepatoseluler, yaitu kanker hati primer. Pada 2016, sekitar 27 juta orang (10,5% dari semua orang yang diperkirakan hidup dengan hepatitis B) menyadari status infeksi mereka, sementara 4,5 juta (16,7%) orang yang telah didiagnosis sedang dalam pengobatan. Menurut perkiraan WHO terbaru, proporsi anak di bawah lima tahun yang terinfeksi VHB secara kronis turun menjadi hanya di bawah 1% pada 2019, dari sekitar 5% di era pra-vaksin mulai dari 1980-an hingga awal 2000-an. Hepatitis B dapat dicegah dengan vaksin yang aman, tersedia luas dan efektif.

.

Hepatitis C adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus hepatitis C (VHC), dapat menyebabkan hepatitis akut dan kronis, dengan tingkat keparahan mulai dari penyakit ringan yang berlangsung beberapa minggu hingga penyakit serius seumur hidup. Hepatitis C adalah penyebab utama kanker hati. VHC adalah virus yang ditularkan melalui darah, penggunaan narkoba suntikan, praktik injeksi yang tidak aman, perawatan kesehatan yang tidak aman, transfusi darah dan produk darah yang tidak disaring, dan praktik seksual yang tidak sehat. Secara global, diperkirakan 71 juta orang memiliki infeksi virus hepatitis C kronis dan sebagian besar akan berlanjut menjadi sirosis atau kanker hati. WHO memperkirakan pada tahun 2016, sekitar 399.000 orang meninggal karena hepatitis C yang menyebabkan sirosis dan karsinoma hepatoseluler (kanker hati primer). Obat antivirus dapat menyembuhkan lebih dari 95% orang dengan infeksi hepatitis C, sehingga mengurangi risiko kematian akibat sirosis dan kanker hati, tetapi akses ke diagnosis dan pengobatan di banyak tempat masih rendah. Saat ini tidak ada vaksin yang efektif melawan hepatitis C, namun penelitian di bidang ini sedang berlangsung.

.

Obat entecavir untuk hepatisis B kronis tidak lagi memiliki hak paten, sehingga sejak 2017 semua negara berpenghasilan rendah dan menengah telah dapat secara legal mendapatkan entecavir generik. Demikian juga obat tenofovir tidak lagi dilindungi oleh hak paten di mana pun di dunia. Harga rata-rata tenofovir generik yang dipra-kualifikasi WHO di pasar internasional turun dari US $ 208 per tahun menjadi US $ 32 per tahun pada 2016. Hepatitis C dapat disembuhkan dengan pengobatan sederhana selama 2-3 bulan, dengan obat antivirus langsung atau ‘Direct Acting Antiviral’ (DAA). Ada tiga jenis obat DAA yang beredar di Indonesia, yaitu sofosbuvir, simeprevir, dan daclatasvir, sehingga sekarang bukan lagi menggunakan obat kombinasi pegylated interferon dan ribavirin.

.

Pesan peringatan untuk masyarakat global, bahwa orang yang hidup dengan hepatitis sudah tidak sabar lagi menunggu mendapatkan perawatan medis yang menyelamatkan jiwa. Tes dan pengobatan hepatitis B untuk wanita hamil tidak boleh ditunda lagi, untuk mencegah penularan dari ibu ke bayinya. Bayi baru lahir tidak dapat menunggu untuk segera diberikan vaksinasi hepatitis B setelah lahir. Orang dengan hepatitis juga tidak sabar menuntut untuk dilindungi dari stigma dan diskriminasi. Organisasi komunitas penderita hepatitis tidak sabar menunggu adanya investasi yang lebih besar. Pengambil keputusan birokrasi pemerintah tidak boleh menunggu dan harus bertindak sekarang, untuk membuat eliminasi hepatitis menjadi kenyataan melalui kemauan politik dan pendanaan.

Pesan peringatan ‘Hepatitis can’t wait’ untuk pembuat kebijakan dalam pemerintahan adalah agar segera melakukan integrasi eliminasi virus hepatitis dengan layanan kesehatan lainnya, yang harus segera diwujudkan. Mendanai perawatan medis hepatitis juga tidak dapat menunggu dan harus dilakukan sekarang. Selain itu, juga penghapusan tiga jenis penularan infeksi, yaitu HIV, hepatitis B dan sifilis dari ibu ke anak. Memvalidasi upaya eliminasi hepatitis dan cakupan kesehatan semesta atau Universal Health Couverage (UHC) untuk semua orang dengan hepatitis, tidak boleh lagi menunggu dan harus dimulai sekarang untuk menyelamatkan nyawa.

.

Pesan peringatan ‘Hepatitis can’t wait’ untuk para pemimpin negara, yaitu untuk segera menetapkan target eliminasi hepatitis nasional untuk mencapai dunia tanpa virus hepatitis pada tahun 2030. Selain itu, peningkatan layanan hepatitis esensial, yang melibatkan komunitas dalam layanan hepatitis harus bertindak sekarang, untuk membuat eliminasi hepatitis menjadi kenyataan, melalui kemauan politik dan pendanaan.

Dengan satu orang meninggal setiap 30 detik karena penyakit hepatitis saat pandemi COVID-19, kita semua seharusnya tidak sabar lagi untuk bertindak mengalahkan virus hepatitis, bukan hanya virus SARS-CoV2 penyebab COVID-19. Sudahkah kita bertindak cepat?

Sekian

Yogyakarta, 26 Juli 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Alumnus S3 UGM, pengajar di FK UKDW Yogyakarta, WA: 081227280161

Categories
COVID-19 dokter medicolegal Pendukung ASI

2021 Ketika Caesar Meningkat

Kapan Ibu Harus Melahirkan dengan Operasi Sesar? | Republika Online

KETIKA  CAESAR  MENINGKAT

fx. wikan indrarto*)

Tingkat operasi atau bedah caesar terus meningkat, di tengah masih tingginya ketidaksetaraan dalam akses. Selain itu, kenaikan biaya operasi caesar menunjukkan peningkatan jumlah prosedur medis yang tidak perlu dan berpotensi berbahaya, baik bagi ibu maupun bayinya. Apa yang mencemaskan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/10/2020-kesehatan-seksual-remaja/

.

Rabu, 16 Juni 2021 WHO memberikan catatan bahwa operasi caesar terus meningkat secara global, sekarang terhitung lebih dari 1 dari 5 (21%) dari semua persalinan. Jumlah ini akan terus meningkat selama dekade mendatang, dengan hampir sepertiga (29%) dari semua kelahiran kemungkinan akan terjadi melalui operasi caesar pada tahun 2030. Meskipun operasi caesar dapat menjadi operasi yang penting dan menyelamatkan nyawa, operasi ini dapat menempatkan ibu dan bayi pada risiko masalah kesehatan jangka pendek dan jangka panjang yang tidak perlu, jika dilakukan ketika tidak ada indikasi medis.

.

Operasi caesar dapat menjadi penting dan harus dilakukan dalam kondisi medis seperti persalinan lama atau terhambat, gawat janin, atau karena janin berada dalam posisi abnormal. Namun demikian seperti semua operasi, bedah caesar dapat memiliki risiko, termasuk potensi perdarahan berat atau infeksi, waktu pemulihan yang lebih lambat setelah melahirkan, keterlambatan dalam mulai menyusui dan kontak kulit-ke-kulit ibu dengan bayi, dan peningkatan kemungkinan komplikasi pada kehamilan berikutnya.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/10/21/2019-kekerasan-pada-kelahiran-bayi/

.

Kerugian yang akan dialami bayi yang lahir melalui bedah caesar dengan alasan non medis, cenderung akan mengalami masalah jangka panjang. Dampak buruk akan terjadi bukan sekitar saat kelahiran, tetapi justru pada saat bayi berumur 6 bulan sampai saat telah menjadi anak berusia 8 tahun. Kerugian yang paling sering dilaporkan adalah terjadinya diare, asma dan kegemukan atau obesitas. Ketiganya diduga terjadi karena gagalnya pemberian ASI Ekslusif dan perubahan imunologis dalam sistem kekebalan tubuh, yang sedikit banyak dipengaruhi oleh cara persalinan saat bayi, yaitu persalinan secara bedah caesar.

.

Ada perbedaan yang signifikan dalam akses ibu ke operasi caesar, tergantung di belahan dunia mana dia tinggal. Di negara kurang berkembang, sekitar 8% wanita melahirkan melalui operasi caesar dengan hanya 5% di sub-Sahara Afrika, menunjukkan kurangnya akses ke operasi penyelamatan ini. Sebaliknya, di Amerika Latin dan Karibia, angkanya mencapai 4 dari 10 (43%) dari semua kelahiran. Di lima negara (Republik Dominika, Brasil, Siprus, Mesir dan Turki), operasi caesar sekarang melebihi jumlah persalinan pervaginam.

Kiat S, PDP Korona yang Berhasil Melahirkan Lewat Operasi Caesar

Tingkat operasi caesar di seluruh dunia telah meningkat dari sekitar 7% pada tahun 1990 menjadi 21% hari ini, dan diproyeksikan akan terus meningkat selama dekade ini. Jika tren ini berlanjut, pada tahun 2030 tingkat tertinggi kemungkinan berada di Asia Timur (63%), Amerika Latin dan Karibia (54%), Asia Barat (50%), Afrika Utara (48%) Eropa Selatan (47% ) dan Australia dan Selandia Baru (45%). Perawatan berkualitas dan berpusat pada ibu hamil diperlukan untuk mengatasi tingginya kejadian operasi caesar. Penyebab tingginya operasi caesar sangat bervariasi antar dan di dalam negara. Penyebabnya multifaktorial, termasuk kebijakan dan pembiayaan sektor kesehatan, norma budaya, persepsi dan praktik klinik, tingkat kelahiran prematur, dan kualitas layanan kesehatan.

.

Daripada merekomendasikan menurunkan tingkat target spesifik, lebih penting kita berfokus pada kebutuhan unik setiap ibu, dalam proses kehamilan dan persalinannya. Penting bagi semua ibu untuk dapat berbicara dengan tenaga kesehatan dan menjadi bagian dari pengambilan keputusan tentang proses melahirkan yang akan mereka jalani, menerima informasi medis yang memadai, termasuk risiko dan manfaatnya. Dukungan emosional adalah aspek penting dari perawatan berkualitas selama kehamilan dan persalinan. Berikut rekomendasi beberapa tindakan non-klinis yang dapat mengurangi kejadian operasi caesar yang tidak perlu secara medis.

.

Pertama, pemberian informasi dan edukasi yang melibatkan ibu secara aktif dalam merencanakan kelahiran mereka, seperti kelas persiapan persalinan, program relaksasi dan dukungan psikososial jika diinginkan, bagi mereka yang takut akan rasa sakit atau kecemasan. Kedua, penggunaan Panduan Praktek Klinis (PPK) berbasis bukti, melakukan audit medis rutin operasi caesar di RS, dan memberikan umpan balik yang tepat waktu kepada dokter yang melakukannya, tentang temuan audit. Ketiga, persyaratan adanya pendapat medis kedua (second opinion) dari dokter lain untuk keputusan operasi caesar, dalam kondisi di mana hal ini memungkinkan.

Ketiga, untuk tujuan utama mengurangi kejadian operasi caesar, beberapa alternatif intervensi medis lainnya telah diteliti di beberapa negara, tetapi masih memerlukan penelitian yang lebih ketat. Keempat, menciptakan model perawatan kolaboratif antara bidan dan dokter, yang diberikan terutama oleh bidan, dengan dukungan 24 jam dari dokter spesialis kebidanan. Terakhir kelima, strategi tegas dalam aspek keuangan, dengan menyamakan biaya atau tarif yang dikenakan untuk persalinan pervaginam maupun operasi caesar.

.

Data tingkat bedah caesar yang terus meningkat pada survei oleh UNDP, UNFPA, UNICEF, WHO, dan Bank Dunia pada 154 negara, yang mewakili 94,5% kelahiran hidup dunia pada tahun 2018 di atas, sangat mencemaskan. Rekomendasi WHO tentang tindakan non-klinis yang dapat mengurangi kejadian operasi caesar layak dilakukan. 

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 18 Juni 2021

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih dan Lektor FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
COVID-19 dokter Healthy Life

2021 CERDAS DAN SEHAT

Ingin Tahu Akurasi GeNose? Lakukan Tes PCR 2 Hari Setelahnya - Kabar24  Bisnis.com

CERDAS  DAN  SEHAT

fx. wikan indrarto*)

GeNose  (Gadjah Mada Electronic Nose) C-19 adalah inovasi alat kesehatan terbaru yang dikembangkan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada September 2020. Alat ini mampu mendeteksi secara cepat COVID-19 yang dilakukan hanya dengan embusan nafas, karena menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Apa yang perlu diwaspadai?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/05/03/2021-hp-dan-asma/

.

 Meningkatnya penggunaan AI untuk kesehatan menghadirkan peluang dan tantangan bagi pemerintah, penyedia layanan, dan masyarakat. Senin, 28 Juni 2021 WHO mengeluarkan laporan global pertama tentang AI di bidang kesehatan dan enam prinsip panduan untuk desain dan penggunaannya. Laporan yang berjudul : Etika dan tata kelola kecerdasan buatan untuk kesehatan (Ethics and governance of artificial intelligence for health), merupakan hasil kerja selama 2 tahun yang diadakan oleh panel pakar internasional yang ditunjuk oleh WHO.

.

Seperti semua teknologi baru, AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesehatan jutaan orang di seluruh dunia, tetapi seperti semua teknologi, AI juga dapat disalahgunakan dan menyebabkan kerugian. Tugas kita semua adalah memaksimalkan manfaat AI, sambil meminimalkan risiko dan menghindari jebakannya. WHO memperingatkan agar tidak melebih-lebihkan manfaat AI untuk kesehatan, terutama ketika hal ini terjadi dengan mengorbankan investasi inti dan strategi yang diperlukan untuk mencapai cakupan kesehatan semesta atau ‘Universal Health Couverage’ (UHC). 

.

Selain itu, juga adanya risiko penggunaan AI, termasuk pengumpulan dan penggunaan data kesehatan yang tidak etis; bias yang dikodekan dalam algoritme, dan risiko AI terhadap keselamatan pasien, keamanan data (cybersecurity), dan lingkungan. Data yang dikumpulkan dari individu di negara berpenghasilan tinggi dalam proses pembentukan AI, mungkin saja tidak bekerja dengan baik saat AI digunakan untuk individu di lingkungan yang berbeda. Oleh karena itu, sistem AI harus dirancang dengan hati-hati untuk mencerminkan keragaman karakteristik sosial-ekonomi dan parameter kesehatan lainnya. Para pengguna harus dibekali pelatihan keterampilan digital, terutama bagi jutaan petugas kesehatan dengan literasi digital atau pelatihan berulang, jika peran dan fungsi mereka harus bersaing dengan mesin digital.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/23/2020-dokter-dan-rs-era-normal-baru/

.

Enam prinsip etika berikut sebaiknya dipatuhi, dalam memastikan AI bekerja untuk kepentingan publik sebagai dasar untuk regulasi dan tata kelola AI. Pertama, otonomi manusia. Dalam konteks layanan kesehatan, etika ini berarti bahwa manusialah yang harus mengendalikan sistem dan alat kesehatan, sedangkan keputusan medis, privasi dan kerahasiaan pasien juga harus dilindungi. Selain itu, pasien harus memberikan persetujuan yang sah secara hukum untuk perlindungan data.

Lebih Akurat Mana Antara Swab PCR, Antigen, dan GeNose? - Gen...

Kedua, kesejahteraan, keselamatan manusia dan kepentingan umum. Perancang teknologi AI harus memenuhi persyaratan keselamatan, akurasi, dan kemanjuran yang disertai oleh indikasi penggunaan yang terdefinisi dengan baik. Jaminan pengendalian kualitas dalam praktik dan peningkatan kualitas dalam penggunaan AI juga harus tersedia. Ketiga, memastikan transparansi. Transparansi mengharuskan informasi yang memadai dipublikasikan atau didokumentasikan sebelum desain atau penerapan teknologi AI. Informasi tersebut harus mudah diakses dengan memfasilitasi konsultasi dan debat publik bila diperlukan, tentang bagaimana teknologi dirancang dan bagaimana seharusnya atau tidak seharusnya digunakan.

.

Keempat, tanggung jawab dan akuntabilitas. Meskipun teknologi AI melakukan atau menggantikan suatu tugas tertentu, merupakan tanggung jawab pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa AI digunakan dalam kondisi yang sesuai dan oleh orang yang terlatih. Mekanisme yang efektif harus tersedia untuk keluhan pelanggan dan untuk ganti rugi bagi individu dan kelompok, apabila terpengaruh oleh keputusan penggunaan AI tersebut. Kelima, inklusivitas dan kesetaraan. Inklusivitas mengharuskan AI untuk kesehatan dirancang untuk mendorong penggunaan dan akses yang adil seluas mungkin, tanpa memandang usia, jenis kelamin, pendapatan, ras, etnis, orientasi seksual, kemampuan atau karakteristik lain sesaui hak asasi manusia.

.

Keenam, responsif dan berkelanjutan. Desainer, pengembang, dan pengguna harus secara terus-menerus dan transparan, menilai AI selama penggunaannya untuk menentukan apakah AI merespons secara memadai dan tepat terhadap harapan dan persyaratan. Sistem AI juga harus dirancang untuk meminimalkan konsekuensi lingkungan dan meningkatkan efisiensi energi. Pemerintah dan perusahaan pembuat AI harus mengatasi masalah yang dapat diantisipasi, termasuk pelatihan bagi petugas kesehatan untuk beradaptasi dengan penggunaan AI, dan potensi kehilangan pekerjaan karena penggunaan AI yang otomatis.

GeNose C19 dari UGM saat ini tengah menjalani proses validasi eksternal oleh UI, Unair dan Unand dengan 2 RS besar, yang merupakan bagian dari post-marketing analysis, karena GeNose C19 sudah digunakan oleh masyarakat umum. Keenam prinsip etika tersebut akan memastikan bahwa potensi penuh AI pada GeNose C19 akan bermanfaat bagi kesehatan semua orang. Selain itu, uji validitas eksternal merupakan bagian dari pengembangan keberlanjutan serta kepatuhan terhadap regulasi, setelah suatu alat kesehatan mendapat izin edar penggunaan.

.

Sudahkah kita bijak menggunakan AI untuk kesehatan?

Sekian

Yogyakarta, 2 Juli 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
COVID-19 dokter Healthy Life sekolah vaksinasi

2021 SEKOLAH SEHAT

SEKOLAH SEHAT | SPNF SKB GROBOGAN

SEKOLAH  SEHAT

fx. wikan indrarto*)

Penutupan banyak sekolah di seluruh dunia selama pandemi COVID-19 telah menyebabkan gangguan parah pada  proses pendidikan anak. Sebelum pandemi COVID-19 diperkirakan 365 juta anak berangkat ke sekolah tanpa sarapan dan secara signifikan berhubungan dengan masalah kesehatan. Apa yang mencemaskan?

Tulisan ini dimuat di Harian Nasional Kompas Rabu, 7 Juli 2021, kolom opini : https://www.kompas.id/baca/opini/2021/07/07/sekolah-sehat/?utm_source=kompasid&utm_medium=whatsapp_shared&utm_content=sosmed&utm_campaign=sharinglink

Selasa, 22 Juni 2021 UNESCO dan WHO mendesak semua negara untuk menjadikan setiap sekolah pada saat pembelajaran tatap muka kelak, sebagai sekolah yang mempromosikan kesehatan. Sekolah memainkan peran penting dalam kesejahteraan 1,9 miliar anak usia sekolah, keluarga dan komunitas mereka. Hubungan antara pendidikan dan kesehatan tidak pernah lebih nyata sebelum pandemi COVID-19 ini, sehingga mulai sekarang wajib menciptakan sekolah yang berorientasi pendidikan dan kesehatan. Sekolah perlu membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan, untuk mencapai derajad kesehatan, kesejahteraan, kehidupan, dan prospek kerja di kemudian hari.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/11/12/2020-sekolah-saat-pandemi-covid-19/

.

Terdapat paket sumber daya yang bertujuan untuk memastikan semua sekolah, mampu mempromosikan keterampilan kognitif, sosio emosional dan gaya hidup sehat untuk semua pelajar. Paket global baru ini akan diujicobakan di Botswana, Mesir, Ethiopia, Kenya, dan Paraguay. Namun demikian, Indonesia dapat belajar dari situ. Inisiatif ini berkontribusi pada target Program Kerja Umum WHO ke-13 yaitu ‘1 miliar kehidupan menjadi lebih sehat’ pada tahun 2023 dan Agenda Pendidikan 2030 global yang dikoordinasikan oleh UNESCO.

.

Pendidikan dan kesehatan adalah hak asasi manusia yang saling penting untuk semua anak, inti dari setiap hak asasi manusia, dan berperan penting untuk pembangunan sosial dan ekonomi. Sekolah yang tidak mempromosikan kesehatan tidak lagi dapat dibenarkan dan diterima. Standar global mewajibkan ketersediaan sumber daya bagi sekolah untuk menciptakan kesehatan dan kesejahteraan, melalui tata kelola yang lebih baik. Salah satunya adalah program kesehatan dan gizi yang komprehensif di sekolah yang berdampak signifikan pada anak usia sekolah.

.

Selain itu, program intervensi pencegahan malaria terbukti dapat menghasilkan pengurangan 62% ketidakhadiran atau absensi anak di sekolah. Makanan tambahan di sekolah yang bergizi akan meningkatkan angka pendaftaran rata-rata (enrolment rates) sebesar 9%, dan kehadiran atau presensi sebesar 8%. Selain itu, program tersebut juga dapat mengurangi anemia pada remaja putri hingga 20%. Promosi kebiasaan cuci tangan dapat mengurangi absensi sekolah karena penyakit diare dan pernapasan sebesar 21-61%. Skrining penglihatan dan kacamata gratis telah menyebabkan 5% lebih tinggi kemungkinan siswa lulus tes standar dalam membaca dan matematika.

Profil SMA Kolese de Britto & Rincian Biayanya Lengkap

Pendidikan seksualitas di sekolah jenjang menengah yang komprehensif mendorong penerapan perilaku yang lebih sehat, mempromosikan kesehatan, hak seksual dan reproduksi. Selain itu, juga meningkatkan derajat kesehatan seksual dan reproduksi remaja, seperti pengurangan kejadian infeksi HIV dan tingkat kehamilan remaja. Juga peningkatan ketersediaan air dan perbaikan sanitasi di sekolah, serta pengetahuan tentang kebersihan diri saat menstruasi, membekali remaja perempuan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh mereka dengan bermartabat, dan dapat membatasi jumlah hari sekolah yang terlewat selama masa menstruasi.

.

Pendekatan Sekolah Sehat pertama kali dicetuskan oleh WHO, UNESCO dan UNICEF pada tahun 1995 dan diadopsi di lebih dari 90 negara, termasuk Indonesia. Namun, hanya sedikit negara yang menerapkannya dalam skala besar, dan bahkan lebih sedikit lagi yang secara efektif menyesuaikan sistem pendidikan mereka untuk memasukkan promosi kesehatan. Standar global yang baru akan membantu setiap negara untuk mengintegrasikan promosi kesehatan ke semua sekolah dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan bagi semua siswanya.

.

Tantangan yang masih ada adalah terkait literasi. Literasi kesehatan menggambarkan pencapaian tingkat pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri untuk mengambil tindakan, dalam upaya meningkatkan kesehatan pribadi dan masyarakat, dengan mengubah gaya hidup dan kondisi kehidupan pribadi. Literasi kesehatan berarti lebih dari sekadar kemampuan membaca pamflet dan iklan layanan masyarakat dalam bidang kesehatan saja. Dengan meningkatkan akses anak sekolah terhadap informasi kesehatan, dan kapasitas mereka untuk menggunakannya secara efektif, literasi kesehatan sangat penting untuk pemberdayaan anak dan berperan mempercepat kemajuan dalam mengurangi ketidaksetaraan dalam derajad kesehatan.

.

Panduan WHO, UNICEF, dan UNESCO berjudul ‘Considerations for school-related public health measures in the context of COVID-19’ dapat digunakan untuk menjadikan setiap sekolah pada saat pembelajaran tatap muka kelak, menjadi sekolah sehat. Panduan tersebut disusun dengan mempertimbangkan aspek keadilan, penularan COVID-19, implikasi dan sumber daya, untuk menciptakan dunia yang lebih sehat, lebih aman, lebih adil, dan lebih berkelanjutan melalaui sekolah sehat, bagi pendidikan anak dan generasi mendatang secara global, termasuk di Indonesia.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 26 Juni 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
anak COVID-19 Healthy Life sekolah

2021 MASKER DAN ANAK

Alasan Anak di Bawah 2 Tahun Tidak Perlu Pakai Masker | kumparan.com

MASKER DAN  ANAK

fx. wikan indrarto*)

WHO telah mengevaluasi bukti tentang penularan COVID-19 pada anak dan terbatasnya bukti yang tersedia tentang manfaat penggunaan masker wajah oleh anak. Namun demikian, WHO terus menyarankan agar orang tua selalu berkonsultasi dan mematuhi otoritas kesehatan setempat, tentang praktik yang direkomendasikan di daerah mereka, untuk anak. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/02/06/2021-covid-19-pada-anak/

.

Berdasarkan pertimbangan kebutuhan psikososial dan tumbuh kembang anak, WHO dan UNICEF menyarankan anak balita (berusia 5 tahun ke bawah) tidak diwajibkan memakai masker. Hal ini didasarkan pada keselamatan, minat, dan kemampuan anak untuk menggunakan masker secara tepat dengan bantuan minimal. Selain itu, WHO dan UNICEF menyarankan bahwa keputusan untuk mewajibkan penggunaan masker untuk anak yang berusia 6-11 tahun, harus didasarkan pada beberapa faktor terkait, misalnya tingginya tingkat penularan COVID-19 yang meluas di daerah tempat tinggal anak. Selain itu, juga kemampuan anak untuk menggunakan masker secara aman dan tepat, akses mendapatkan masker, serta tersedianya fasilitas pencucian dan penggantian masker di tempat-tempat tertentu, seperti sekolah dan layanan penitipan anak.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/04/18/2021-kesehatan-anak-paska-pandemi-covid-19/

.

Secara umum, anak balita tidak diwajibkan memakai masker. Mungkin ada persyaratan lokal untuk anak balita agar memakai masker, atau kebutuhan khusus di beberapa tempat, seperti secara fisik dekat dengan seseorang yang sakit dan terkonfirmasi COVID-19. Dalam keadaan ini, jika anak mengenakan masker, orang tua atau wali harus berada dalam jarak pandang langsung, untuk mengawasi penggunaan masker yang aman bagi anak.

.

Anak Dibawah 2 Tahun Tidak Dianjurkan Pakai Masker, Begini Cara  Melindunginya Saat Keluar Rumah - Tribunnews.com Mobile

WHO dan UNICEF menyarankan bahwa anak yang telah berusia 12 tahun ke atas, harus memakai masker yang sama seperti orang dewasa. Bahkan hal ini menjadi kewajiban, ketika anak tidak dapat menjamin jarak setidaknya 1 meter dari orang lain, dan ada penularan COVID-19 yang meluas di daerah tersebut.

.

Penggunaan masker untuk anak dari segala usia dengan gangguan perkembangan, difabel atau kondisi kesehatan tertentu lainnya, tidak boleh diwajibkan. Namun demikian, sebaiknya dinilai berdasarkan kasus per kasus oleh orang tua, wali, guru dan atau tenaga medis. Bagaimanapun juga, anak dengan gangguan kognitif atau pernapasan yang parah dengan kesulitan menoleransi masker, seharusnya tidak diwajibkan memakai masker.

.

Anak dengan gangguan kesehatan kronis seperti cystic fibrosis, infeksi HIV, atau kanker harus memakai masker medis. Masker medis memberikan perlindungan kepada anak yang memakai masker dan mencegah penularan COVID-19 ke orang lain. Direkomendasikan untuk siapa saja, termasuk anak, yang memiliki kondisi kesehatan mendasar dan menempatkan mereka pada risiko penyakit serius yang lebih besar.

.

Anak yang secara umum sehat dapat memakai masker non-medis atau kain, tidak harus masker medis. Kewajiban ini berarti mencegah virus ditularkan ke orang lain, jika mereka terinfeksi dan tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi. Orang tua harus memastikan masker kain berukuran tepat dan cukup menutupi hidung, mulut, dan dagu anak.

.

Anak harus mengikuti prinsip yang sama seperti orang dewasa untuk memakai masker. Ini termasuk membersihkan tangan setidaknya 20 detik jika menggunakan pembersih tangan berbasis alkohol, atau setidaknya 40 detik jika menggunakan sabun dan air, sebelum memakai masker. Pastikan ukuran masker pas untuk menutupi hidung, mulut, dan dagu. Anak harus diajari cara memakai masker dengan benar, termasuk tidak menyentuh bagian depan masker dan tidak menariknya ke bawah dagu atau ke dalam mulut mereka. Mereka harus menyimpan masker di dalam tas atau wadah, dan tidak berbagi masker dengan orang lain.

.

Setiap anak yang memiliki gejala sugestif COVID-19 harus memakai masker medis, selama mereka dapat mentolerirnya. Anak harus diisolasi, dan nasehat medis harus dicari segera setelah mereka mulai merasa tidak sehat, bahkan jika gejalanya ringan. Anggota keluarga atau pengasuh yang mendekat dalam jarak 1 meter dari anak yang sakit di rumah, juga harus memakai masker. Anggota rumah tangga yang sakit atau dinyatakan positif COVID-19 harus diisolasi dari orang lain semampu mungkin. Jika anak berada dalam jarak 1 meter dari orang sakit di rumah, orang dewasa dan anak harus memakai masker medis selama waktu tersebut.

.

Di daerah di mana ada penularan yang meluas, semua orang dewasa di bawah usia 60 tahun dan yang secara umum sehat harus memakai masker kain, ketika mereka tidak dapat menjamin jarak setidaknya 1 meter dari orang lain. Ini sangat penting bagi orang dewasa yang memiliki kontak dekat dengan anak dan satu sama lain.

.

Anak tidak boleh memakai masker saat berolahraga atau melakukan aktivitas fisik, seperti berlari, melompat, atau bermain di taman bermain, sehingga tidak mengganggu pernapasan mereka. Saat guru mengorganisir kegiatan ini untuk anak, penting untuk mendorong semua protokol kesehatan diterapkan secara ketat, yaitu menjaga jarak setidaknya 1 meter dari orang lain, membatasi jumlah anak yang bermain bersama, menyediakan akses ke fasilitas kebersihan tangan dan mendorong penggunaannya.

.

Dalam konteks COVID-19, beberapa anak mungkin tidak dapat memakai masker karena disabilitas atau situasi tertentu seperti praktek pidato atau baca puisi di sekolah, saat guru perlu melihat mulut mereka. Dalam kasus ini, pelindung wajah (face shields) dapat digunakan sebagai alternatif masker, tetapi tidak memberikan perlindungan yang setara dalam mencegah virus menular ke orang lain. Jika keputusan dibuat untuk menggunakan pelindung wajah (face shields), itu harus menutupi seluruh wajah, menutupi sisi wajah dan meluas ke bawah dagu. Perhatian harus dilakukan saat mengenakannya untuk menghindari cedera yang dapat merusak dan membahayakan mata atau wajah.

.

Selain itu, orang tua wajib berbicara dengan anak sebijak mungkin dalam menjawab pertanyaan mereka. Ada banyak informasi yang membingungkan dan menakutkan, sehingga ciptakan waktu untuk berbicara dan menjawab pertanyaan anak secara benar, tidak hanya tentang masker wajah untuk mengurangi rasa takut anak dan memelihara optimisme.

Sudahkah kita bijak mendampingi anak dari bahaya COVID-19 ?

Sekian

Yogyakarta, 15 Juni 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak Healthy Life sekolah

2021 PELAN DI JALAN

Ini Bahayanya Berkendara Pelan di Lajur Kanan

PELAN   DI   JALAN

fx. wikan indrarto*)

Pekan Keamanan di Jalan Global PBB ke-6 (UN Global Road Safety Week) pada 17-23 Mei 2021, menyoroti manfaat laju kendaraan di perkotaan yang berkecepatan rendah, sebagai jantung setiap komunitas di manapun. Kampanye ini untuk mendorong kebijakan di tingkat nasional dan lokal dalam membatasi kecepatan 30 km/jam di daerah perkotaan, dalam tagar #Love30, guna membangun jalan bagi kehidupan #StreetsforLife. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/02/10/2020-keamanan-di-jalan-raya/

.

Bukti penelitian dari seluruh dunia menunjukkan bahwa laju kendaraan berkecepatan rendah mengurangi risiko cedera serius dan menyelamatkan nyawa, termasuk penelitian terakhir di Tanzania terbukti mengurangi cedera di jalan sebanyak 26%. Di Toronto, Kanada, kecelakaan di jalan raya turun 28% sejak batas kecepatan dikurangi dari 40 menjadi 30 km/jam pada tahun 2015, yang menyebabkan berkurangnya cedera serius dan fatal hingga dua pertiganya. Kolombia di Bogota telah memasukkan zona 30 km/jam dalam paket ‘Speed Management Plan’ yang telah mengurangi kematian lalu lintas sebesar 32%. Penelitian di London menemukan bahwa batas kecepatan yang lebih rendah (dalam hal ini zona 20 mph) dikaitkan dengan pengurangan korban di jalan raya sebesar 42%, sementara di Bristol, penerapan batas kecepatan 20 mph dikaitkan dengan pengurangan 63% dalam cedera fatal. Secara keseluruhan, ada pengurangan korban hingga 6% untuk setiap pengurangan kecepatan 1 mph di jalanan perkotaan dan peningkatan kecepatan rata-rata 1 km/jam menghasilkan risiko kecelakaan 3% lebih tinggi, dengan peningkatan kematian 4 hingga 5%.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/10/2019-selamat-di-jalan/

.

Dengan laju kendaraan di atas 30 km/jam, benturan pada pejalan kaki memiliki risiko kematian yang jauh lebih besar. Dalam kecepatan 30 km/jam mobil dapat berhenti segera, sedangkan dalam kecepatan 50 km/jam mobil masih tetap akan melaju, meskipun dilakukan pengereman kuat. Selain itu, kecepatan kendaraan yang lebih tinggi mempersempit penglihatan areal tepi bagi pengendara dan memengaruhi waktu reaksi mereka.

.

Jajak pendapat YouGov global di 11 negara untuk Prakarsa Kesehatan Anak, menemukan bahwa 74% orang mendukung pembatasan kecepatan kendaraan di jalan sekitar sekolah, sehingga memudahkan anak berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah dengan lebih aman dan lebih sehat. Dalam survei di Inggris, 70% pengendara setuju bahwa 30 km/jam adalah batas yang tepat untuk laju kendaraan di areal perumahan. Survei di Skotlandia menunjukkan 65% setuju, dan satu dari empat orang berpikir bahwa aturan itu akan membuat mereka lebih cenderung berjalan kaki atau bersepeda, dalam kehidupan sehari-hari mereka.

.

Ada juga manfaat kesehatan yang signifikan dari memperlambat laju lalu lintas, selain mendukung peralihan ke gaya hidup aktif melalui berjalan kaki dan bersepeda. Interaksi sosial yang dilakukan antar orang  di jalan adalah penting untuk membangun komunitas dan kesejahteraan kolektif. Lalu lintas yang lebih lambat juga mengurangi bahaya lain di jalan raya, menekan kebisingan, dan meningkatkan hubungan sosial.

.

Dalam kepadatan lalu lintas di perkotaan, kecepatan tinggi terbukti jarang berdampak pada waktu tempuh perjalanan. Perbedaan waktu tempuh dengan kecepatan maksimum 30 km/jam dengan 50 km/jam di perkotaan adalah minimal. Kemacetan dan waktu yang dihabiskan untuk menunggu di lampu lalu lintas menjadi hijau, seringkali lebih signifikan berpengaruh pada lamanya waktu perjalanan dibandingkan kecepatan kendaraan itu sendiri. Area dengan kendaraan yang bergerak lebih lambat juga berpotensi menghilangkan kebutuhan sinyal lampu lalu lintas, dan menciptakan hubungan yang lebih setara di antara pengguna jalan yang saling mengalah.

.

Sambut New Normal, Dishub Terapkan Protokol Kesehatan di Jalan Raya

Meskipun banyak negara telah mempelopori pendekatan keselamatan jalan raya, tetapi program tersebut lebih efektif diterapkan di negara berpenghasilan tinggi. Pada hal, sebenarnya jalan berkecepatan rendah dapat diterapkan di negara mana pun, terlepas dari tingkat perkembangan atau jumlah kendaraannya. Zona kecepatan maksimal 30 km/jam telah berhasil ditetapkan di lingkungan perkotaan di banyak negara, yang biasanya dimulai di sekitar sekolah, seperti proyek Amend di Tanzania, yang memenangkan hadiah bergengsi ‘Ross Prize for Cities’.

.

Idealnya, jalan raya harus memiliki kekuatan mengatur sendiri (self-enforcing), dirancang sedemikian rupa sehingga memaksa kendaraan untuk melaju dengan kecepatan yang lebih lambat. Ada berbagai cara yang bisa dilakukan, seperti rambu peringatan kecepatan, marka jalan, polisi tidur, pelambat lalu lintas  (traffic calming) lainnya, pepohonan atau taman yang indah di pinggir jalan, dan rute untuk pejalan kaki. Tindakan tersebut dapat berbiaya rendah dan penegakan hukum bagi orang yang tidak patuh adalah masalah sekunder, dan sebaiknya bukan menjadi alasan untuk menetapkan batas kecepatan yang benar.

.

Saat berkecepatan rendah, kendaraan cenderung bergerak lebih lancar, dengan akselerasi yang lebih rendah (yang terkait dengan emisi gas buang pada kendaraan bermesin pembakaran internal) dan hanya sedikit perlambatan (yang dapat menyebabkan keausan ban), yang mengarah ke polusi yang juga lebih rendah. Polisi tidur dapat menyebabkan sedikit peningkatan polusi lokal karena peningkatan akselerasi dan pengereman, tetapi dampaknya rendah.

Sah! Pakai Skuter Listrik di Jalan Raya Denda Rp 250 Ribu

Di Indonesia rata-rata 3 orang meninggal setiap jam akibat kecelakaan di jalan raya. Penyebabnya beberapa hal, yaitu 61% kecelakaan disebabkan oleh faktor manusia yang terkait dengan kemampuan pengemudi, termasuk kecepatan yang tinggi, 9% disebabkan karena faktor kendaraan yang tidak laik jalan, dan 30% disebabkan oleh faktor prasarana dan lingkungan. Program pembatasan kecepatan 30 km/jam di daerah perkotaan, dalam tagar #Love30, guna membangun jalan bagi kehidupan #StreetsforLife, dapat menekan angka kematian karena kecelakaan lalu lintas di jalan raya.  

Selain itu, dengan kecepatan berkendara di jalan yang lebih pelan akan memungkinkan anak dan remaja untuk berjalan kaki atau bersepeda, saat pembelajaran tatap muka di sekolah yang dimulai tahun ini, saat pandemi COVID-19 semakain terkendali.

Apakah kita sudah pelan di jalan?

Sekian

Yogyakarta, 24 Mei 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, pengguna sepeda di jalan raya dalam kota, WA: 081227280161,

Categories
dokter Healthy Life vaksinasi

2021 VAKSIN RABIES TELAN

Kasus Rabies Kembali Meluas, Segera Vaksin Anjing!

VAKSIN  RABIES  TELAN

fx. wikan indrarto*)

Senin, 3 Mei 2021 mulai digunakan vaksin rabies oral (ORV) atau telan, sebagai sebuah strategi baru dalam memerangi kematian akibat penyakit rabies atau anjing gila. Secara global terjadi hampir 59.000 kematian akibat rabies pada manusia setiap tahun di seluruh dunia. Apa yang baru?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/09/27/2018-hari-rabies-sedunia/

.

Rabies adalah penyakit virus yang dapat dicegah dengan vaksin dan pada Kamis, 21 April 2020 dilaporkan terjadi di lebih dari 150 negara di dunia. Anjing adalah sumber utama kematian akibat rabies pada manusia, berkontribusi hingga 99% dari semua penularan virus rabies ke manusia. Pemutusan penularan penyakit dapat dilakukan melalui vaksinasi anjing dan pencegahan gigitan anjing. Infeksi rabies menyebabkan puluhan ribu kematian setiap tahun, terutama di Asia, termasuk Indonesia, dan Afrika.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/09/10/2019-informasi-vaksinasi/

.

Perawatan rabies secara global menelan biaya US $ 8,6 miliar per tahun dengan 40% orang yang digigit hewan tersangka rabies adalah anak di bawah usia 15 tahun. Begitu gejala klinis muncul, infeksi rabies hampir 100% fatal dan sekitar 99% kasus, anjing peliharaan bertanggung jawab atas penularan virus rabies ke manusia. Namun demikian, virus rabies dapat juga menyerang hewan liar yang menyebar ke manusia melalui gigitan atau cakaran, biasanya melalui air liur.

.

Sekitar 80% kasus rabies pada manusia terjadi di daerah pedesaan. Meskipun vaksin rabies untuk manusia dan imunoglobulin yang efektif tersedia, namun vaksin tersebut tidak tersedia atau tidak dapat diakses oleh sebagian besar mereka yang membutuhkan. Vaksinasi pada anjing adalah strategi yang paling hemat biaya untuk mencegah rabies pada manusia. Selama ini vaksinasi dilakukan dengan penyuntikan pada anjing, dengan prediksi untuk memberantas rabies di masyarakat, perlu memvaksinasi 7 dari setiap 10 anjing.

.

Protokol Profilaksis Rabies - Alomedika
.

Anjing liar memainkan peran utama dalam menyebarkan rabies pada hewan dan manusia selama beberapa dekade. Memvaksinasi anjing dengan cara suntikan membutuhkan usaha yang luar biasa. Metode vaksinasi anjing di banyak negara berpenghasilan rendah ini bisa jadi rumit, karena banyak anjing belum pernah ke dokter hewan dan mungkin tidak terbiasa dekat dengan manusia. Untuk itu, metode yang lebih baru dengan memberikan ORV pada anjing, mendapatkan daya tarik sebagai alternatif yang aman dan efektif.

.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) mendukung penggunaan ORV yang efektif dan aman untuk anjing. Membuat anjing ‘makan’ umpan ORV jauh lebih cepat, lebih mudah dan lebih praktis daripada menangkap mereka di jaring dan memberi mereka suntikan vaksin rabies. Ini juga menghemat uang karena lebih banyak anjing dapat divaksinasi setiap hari.

.

Selama ini dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk melatih tim yang terdiri dari petugas yang bugar secara fisik, untuk menangkap anjing yang sulit dijangkau menggunakan jaring untuk menyuntikkan vaksink rabies. Pada hal, anjing yang sama dapat divaksinasi menggunakan vaksin oral oleh petugas yang hanya perlu beberapa jam pelatihan tentang cara menyebarkan umpan.

.

Thailand telah menerapkan program vaksinasi rabies oral pada populasi anjing yang berkeliaran bebas. Uji coba awal dilakukan di 5 kota besar di Thailand untuk meluncurkan vaksinasi rabies oral di wilayah mereka pada tahun 2020, memvaksinasi hampir 2.000 anjing yang berkeliaran bebas. Telah tercapai 65% dari cakupan vaksinasi pada populasi anjing liar di area ini. Selain itu, tidak ada wabah rabies yang dilaporkan pada anjing yang berkeliaran bebas di salah satu dari lima kota ini sejak vaksinasi oral dilakukan. Selanjutnya vaksinasi rabies oral akan ditingkatkan pada anjing yang berkeliaran bebas pada tahun 2021.

.

Evaluasi Keamanan ORV harus dijamin, karena ORV mengandung virus rabies hidup yang dilemahkan, yang diberikan oleh manusia untuk dimakan anjing liar. Tidak setiap negara memiliki proses lisensi vaksin hewan, sehingga untuk mendapatkan lisensi di sebuah negara, tentu saja dapat secara signifikan menunda pemberantasan rabies.

.

Anjing liar terbukti lebih menyukai rasa umpan yang berbeda berdasarkan pada apa yang biasanya mereka makan, yang dapat bervariasi menurut habitatnya. Penggunaan ORV pada anjing perlu terus mengamati jenis umpan yang paling disukai anjing untuk dimakan, dan memastikan bahwa rasa ini dapat diproduksi secara massal.

.

Oleh karena ORV adalah produk baru untuk anjing, diperlukan edukasi untuk membantu pemberi vaksin dan pemilik anjing, memahami manfaat dari vaksin baru ini. Selain itu, juga tambahan penjaminan bahwa ORV dapat digunakan untuk menghilangkan kasus rabies yang terkait dengan anjing. ORV dapat memainkan peran penting dalam perang melawan rabies dan merupakan metode baru untuk mencapai tujuan menghilangkan kematian akibat rabies pada manusia, yang disebabkan oleh anjing pada tahun 2030. 

.

Sudahkah Anda siap membantu?

SekianYogyakarta, 10 Mei 2021*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
COVID-19 dokter Healthy Life vaksinasi

2021 Sel Denritik dan COVID-19

Pasar Vaksin Kanker Sel Dendritik Global Memperkirakan dan Memperkirakan  Pendapatan Pasar secara global | tahu lebih banyak – Koalisi Untuk  Indonesia Sehat

VAKSINASI   COVID-19  BERBASIS   SEL   DENDRITIK

fx. wikan indrarto*)

Vaksinasi berbasis sel denritik (DC) merupakan vaksinasi yang menjanjikan dalam imunoterapi untuk kanker dan penyakit menular, karena sel denritik memainkan peran penting dalam memulai respons imun seluler. Hal tersebut dirinci pada ‘Dendritic Cell-Based Immunotherapy’ tulisan Berger dan Schultz dari Universität Erlangen Germany, yang diterbitkan oleh Springer-Verlag Berlin Heidelberg 2003. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/02/06/2021-covid-19-pada-anak/

.

Sel dendritik adalah salah satu sel yang berperan dalam fungsi sistem imunitas tubuh, yang berperan sebagai sel yang memunculkan partikel musuh atau Antigen Presenting Cell (APC). Dalam terapi kanker, sel dendrit dimanfaatkan untuk memicu respons imun terhadap sel kanker. Sel tersebut dinamai ‘Dendritic Cells’ (DC) karena bentuknya seperti pohon bercabang banyak. Sel dendritik merupakan leukosit yang berasal dari sumsum tulang dan jenis sel pembawa antigen (APC) yang paling kuat. Karena permukaannya yang luas, DC dapat berkontak dengan banyak sel, seperti sel T, natural killer cells, neutrofil, sel epitel, sel tumor, dan lain sebagainya.

.

Sel tumor dapat dikenali oleh sistem kekebalan tubuh. Melanoma sebuah kanker kulit adalah salah satu model tumor dengan pemahaman terbaik. Respon imun antitumor spontan telah terlihat pada pasien melanoma, termasuk regresi tumor primer. Di sisi lain, rekurensi tumor lokal dan penyebaran sistemik sel melanoma terlihat pada banyak pasien, bahkan bertahun-tahun setelah pengambilan atau eksisi tumor primer. Oleh karena itu, muncul spekulasi tentang adanya pertempuran terus menerus antara sistem kekebalan tubuh dan sel tumor melanoma yang telah menghilang (occult tumor cells). Dalam kasus melanoma ini, perkembangan sel tumor diduga merupakan konsekuensi dari sistem kekebalan tubuh yang terganggu atau memang ada mekanisme keluarnya tumor dari tempat persembunyiannya. Sel tumor dapat bersembunyi atau benar-benar kehilangan kemampuan untuk dikenali sebagai antigen tumor, sehingga menghindari pengenalan sel tumor oleh sel T spesifik. Selanjutnya sel T menjadi tidak berfungsi sebagai akibat dari perubahan sinyal reseptor sel T atau pengaruh sitokin di sekitar tumor, yang menyebabkan fungsi sel penyaji antigen terhambat.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/01/02/2020-spekulan-covid-19/

.

Untuk mengatasi banyaknya mekanisme pertahanan yang dikembangkan oleh tumor, terapi imun kanker harus diarahkan pada induksi respon imun anti tumor yang kuat dan luas, dengan menggabungkan sistem kekebalan bawaan dan adaptif. Sejumlah uji klinis pada pasien kanker yang menggunakan DC secara ex vivo telah dilakukan dan sejauh ini hanya toksisitas kecil yang pernah dilaporkan. Baik produksi sel T spesifik antigen maupun perbaikan respon klinis telah terjadi pada pasien kanker yang divaksinasi.

.

Disuntik Sel Dendritik Sendiri, Mantan Menkes Siti Fadilah Jadi Relawan  Vaksin Imunoterapi – IndependensI

Pencegahan penyakit menular melalui vaksinasi merupakan salah satu keberhasilan terbesar di dunia kedokteran. Namun demikian, semakin banyak patogen infeksius seperti HIV, virus Dengue, Mycobacterium tuberculosis, plasmodium Malaria, dan banyak patogen lainnya lolos dari sistem kekebalan, sehingga pendekatan vaksinasi standar terancam gagal. Mekanisme penghindaran imun yang mendasari dapat dikaitkan dengan interferensi mikroba patogen dengan sel dendritik dan fungsinya, termasuk dalam menghadapi COVID-19.

.

Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah sindrom pernafasan akut yang baru muncul pada akhir tahun 2019, telah menginfeksi jutaan orang dan menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang luar biasa di seluruh dunia. Pengobatan yang efektif untuk COVID-19 karena infeksi SARS-CoV-2 masih kurang, dan strategi terapeutik yang berbeda sedang dalam tahap uji klinis. Kekebalan humoral dan seluler seseorang terhadap infeksi SARS-CoV-2 adalah penentu penting untuk luaran klinis pasien. Infeksi SARS-CoV-2 terbukti menyebabkan serokonversi dan produksi antibodi anti-SARS-CoV-2. Antibodi dapat menekan replikasi virus melalui proses netralisasi, tetapi juga dapat memperburuk kondisi klinis dalam patogenesis COVID-19 melalui proses yang disebut peningkatan ketergantungan antibodi (antibody-dependent enhancement).

.

Kemajuan pesat telah dibuat dalam penelitian respon antibodi dan terapi pada pasien COVID-19, termasuk gambaran klinis atas respon antibodi pada  berbagai populasi berbeda yang terinfeksi SARS-CoV-2. Penelitian tentang pengobatan pasien COVID-19 meliputi pemberian donor plasma kovalesense, infus  imunoglobin, perawatan isolasi, pemberian antibodi penetralisir monoklonal (monoclonal neutralizing antibodies). Ligong Lu pada Epub 2020 Dec 1 mengajak semua ilmuwan untuk mempelajari respon antibodi dan terapi pada pasien COVID-19 untuk pengembangan vaksin.

.

Hipotesis yang paling menarik diajukan oleh Saadeldin (2020) adalah imunoterapi vaksin sel dendritik adalah awal dari perang besar mengakhiri kanker dan COVID-19. Imunoterapi juga menawarkan strategi pengobatan potensial untuk COVID-19, pandemi terburuk yang dihadapi generasi ini, sebuah penyakit dengan efek merusak pada sistem kesehatan dan ekonomi di seluruh dunia. Hipotesis utama adalah terapi vaksin DC dapat menjadi strategi pengobatan potensial untuk membantu memerangi COVID-19, dengan harapan menjadi sebuah pilihan pengobatan yang lebih disesuaikan untuk pasien COVID-19, dengan beberapa penyakit penyerta atau komorbid.

.

Peningkatan respons imun oleh DC yang dihasilkan ex vivo merupakan pertimbangan yang menarik. Meskipun uji klinis vaksinasi DC yang berhasil sejauh ini belum dilaporkan, namun kelayakan pendekatan terapi ini didukung oleh penelitian in vitro dengan sel manusia serta model in vivo pada tikus. Induksi antibodi antiparasit telah dibuktikan secara in vitro dengan DC protein cacing, dan kekebalan protektif terhadap beberapa jenis bakteri telah dicapai dengan vaksinasi DC pada tikus. Perlindungan terhadap infeksi paru oleh bakteri Pseudomonas aeruginosa setelah imunisasi dengan sel dendritik P. aeruginosa juga telah berhasil dibuktikan.

Penelitian sel dendritik untuk menimbulkan imunitas melawan COVID-19 di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta yang sedang berlangsung, bukanlah kelanjutan dari tahap uji klinis vaksin Nusantara. Langkah penting ini perlu didukung penuh, untuk memenuhi rasa keadilan bagi pasien COVID-19 yang tak dapat disuntik dengan vaksin lainnya yang bersifat massal. Sudahkah kita bijak ?

.

Sekian

Yogyakarta, 30 April 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak dokter Healthy Life HIV-AIDS Pendukung ASI UHC

2021 Metode Kangoro untuk Bayi

Kangaroo Mother Care Technique | Download Scientific Diagram

METODE   KANGURU   UNTUK   BAYI

fx. wikan indrarto*)

Sabtu, 15 Mei 2021 diperingati sebagai Hari Peringatan Kesadaran pada Penerapan Perawatan Metode Kanguru (PMK) untuk Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan Bayi Prematur. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/11/14/2020-steroid-untuk-bayi-prematur/

.

Perawatan Metode Kanguru (PMK) pertama kali diperkenalkan oleh Ray dan Martinez di Bogota, Kolumbia pada tahun 1979 sebagai cara alternatif perawatan BBLR di tengah tingginya angka BBLR dan terbatasnya fasilitas kesehatan yang ada. Metode ini meniru binatang berkantung kanguru dari Australia, yang bayinya lahir sering prematur, dan setelah lahir disimpan di kantung perut ibunya untuk mencegah kedinginan, sekaligus mendapatkan makanan bergizi berupa air susu induknya.

.

Hakekat PMK adalah kontak kulit-ke-kulit sejak dini, terus menerus dan berkepanjangan antara ibu dan bayi dengan pemberian ASI secara eksklusif, yang telah terbukti menjadi intervensi medis yang efektif dan berbiaya rendah, dalam meningkatkan kelangsungan hidup dan luaran klinis bayi kecil dan sakit. Metode PMK ini telah dibuktikan dapat meningkatkan stabilitas fisiologis, lingkungan yang mendukung secara termal, mengurangi risiko infeksi serius, dan mengurangi kematian bayi prematur, BBLR dan BBLSR (Berat Badan Lahir Sangat Rendah). 

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/09/26/2019-ibu-dan-bayi-lebih-banyak-hidup/

.

Namun demikian, cakupan PMK global di seluruh populasi tetap rendah selama beberapa dekade dan peningkatan skala penerapannya sangat sulit diukur. Hanya sebagian kecil bayi kecil dan sakit yang mendapat manfaat dari PMK, telah menerimanya. Pada 10 Desember 2020 penerapkan PMK dapat meningkat dari mendekati 0% menjadi lebih dari 40% setelah satu tahun pendampingan dari Kementrian Kesehatan setempat, di tiga distrik di India dan 4 wilayah di Ethiopia.

.

Kangaroo care - Wikipedia

Melalui pelatihan tenaga kesehatan, kebijakan yang kondusif dan peningkatan infrastruktur, target global adalah memastikan PMK diberikan kepada setidaknya 80% bayi BBLR di seluruh dunia. Meskipun jumlah kematian bayi baru lahir secara global menurun dari 5 juta pada tahun 1990 menjadi 2,4 juta pada tahun 2019, tetapi banyak bayi masih menghadapi risiko kematian terbesar dalam 28 hari pertama mereka. Pada 2019, sekitar 47% dari semua kematian balita terjadi pada periode baru lahir dengan sekitar sepertiganya meninggal pada hari kelahiran dan hampir tiga perempat meninggal dalam minggu pertama kehidupan. Bayi yang meninggal dalam 28 hari pertama kelahiran, biasanya menderita penyakit yang terkait dengan kurangnya layanan medis berkualitas saat lahir, atau perawatan segera setelah lahir, dan pada hari-hari pertama kehidupan bayi.

.

Pada tahun 2019 terdapat 10 negara teratas dengan jumlah tertinggi (dalam ribuan) kematian bayi baru lahir, yaitu India (522), Nigeria (270), Pakistan (248), Etiopia (99), Kongo (97), Cina (64), Indonesia (60), Bangladesh (56), Afganistan (43), dan Tanzania (43). Perawatan bayi baru lahir yang penting adalah perlindungan dari kedinginan, misalnya dengan PMK untuk terjadinya kontak kulit-ke-kulit antara ibu dan bayi, pemberian ASI dini dan eksklusif, serta perawatan tali pusat dan kulit bayi secara higienis. Selain itu, penilaian masalah kesehatan yang serius atau membutuhkan perawatan tambahan, misalnya bayi BBLR, bayi sakit atau lahir dari ibu yang terinfeksi HIV. Kemudian juga tindakan pencegahan, misalnya imunisasi BCG dan Hepatitis B, injeksi vitamin K dan infeksi mata. Semua intervensi medis tersebut sangat berperan dalam menekan angka kematian bayi.

.

PMK merupakan alternatif pengganti inkubator dalam perawatan BBLR, merupakan cara yang efektif untuk memenuhi kebutuhan bayi yang paling mendasar, yaitu adanya kontak kulit bayi ke kulit ibu, dimana tubuh ibu akan menjadi thermoregulator bagi bayinya, sehingga bayi mendapatkan kehangatan (menghindari bayi dari hipotermia). Selain itu, PMK memudahkan pemberian ASI dini dan eksklusif, perlindungan dari infeksi, stimulasi, keselamatan, dan kasih sayang. PMK dapat meningkatkan hubungan istimewa antara ibu dan bayi, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi.

.

PMK terdiri dari 4 komponen, yaitu ‘position’, ‘nutrition’, ‘support’ and ‘discharge’. PMK menempatkan bayi pada posisi tegak di dada ibunya, di antara kedua payudara ibu, dan tanpa busana. Bayi dibiarkan telanjang hanya mengenakan popok, kaus kaki dan topi sehingga terjadi kontak kulit bayi dan kulit ibu seluas mungkin. Posisi bayi diamankan dengan kain panjang atau pengikat lainnya. Kepala bayi dipalingkan ke sisi kanan atau kiri, dengan posisi sedikit tengadah (ekstensi). Ujung pengikat tepat berada di bawah kuping bayi. Posisi kepala bayi seperti ini bertujuan untuk menjaga agar saluran napas tetap terbuka, dan memberi peluang agar terjadi kontak mata antara ibu dan bayi.

.

Kanguru nutrisi merupakan salah satu manfaat PMK, yaitu meningkatkan pemberian ASI secara langsung maupun dengan pemberian ASI perah. Bayi dengan PMK selalu berada di dekat payudara ibu, menempel dan terjadi kontak kulit ke kulit, sehingga bayi dapat menyusu setiap kali ia inginkan. Selain itu, ibu dapat dengan mudah merasakan tanda bahwa bayinya mulai lapar, seperti adanya gerakan pada mulut bayi, munculnya hisapan kecil, serta adanya gerakan bayi untuk mencari puting susu ibu. Bila telah terbiasa melakukan PMK, ibu dapat dengan mudah memberikan ASI tanpa harus mengeluarkan bayi dari baju kangurunya.

.

‘Kangaroo support’ merupakan bentuk bantuan secara fisik maupun emosi, baik dari tenaga kesehatan di mana bayi lahir, ibu lain yang telah melakukan PMK maupun keluarga, agar ibu dapat melakukan PMK untuk bayinya. Sedangkan ‘kangaroo discharge’ adalah membiasakan ibu melakukan PMK selama di RS, sehingga pada saat ibu pulang dengan bayi, ibu tetap dapat melakukan PMK bahkan melanjutkannya di rumah. Metode PMK ini merupakan salah satu teknologi tepat guna yang sederhana, murah, dan dapat digunakan apabila fasilitas untuk perawatan BBLR sangat terbatas.

.

Momentum  ‘International Kangaroo Mother Care Awareness Day’ pada Sabtu, 15 Mei 2021 mengingatkan kita untuk mendukung penerapan PMK pada bayi BBLR dan prematur di seluruh dunia. Inisiatif ini bertujuan untuk mempercepat penurunan angka kematian bayi, dengan memastikan tidak ada seorang bayipun yang tertinggal (to ensure no one is left behind), termasuk semua bayi di sekitar kita.

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 3 Mei 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak COVID-19 Healthy Life UHC

2021 HP DAN ASMA

Kemenkes RI on Twitter: "Hari Asma Sedunia diperingati setiap hari Selasa  di minggu pertama bulan Mei. Peringatan ini sebagai upaya untuk  meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap penyakit Asma. Semoga berkah  kesehatan selalu

ASMA  DALAM  HP

fx. wikan indrarto*)

Hari Asma Sedunia pada Rabu, 5 Mei 2021 diselenggarakan oleh the Global Initiative for Asthma (GINA) sejak tahun 1993, yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran akan penyakit asma di seluruh dunia. Tema Hari Asma Sedunia tahun 2021 ini adalah “Mengungkap Kesalahpahaman Asma” (Uncovering Asthma Misconceptions). Apa yang salah dipahami?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/06/02/2019-bebas-asma-saat-lebaran/

.

Asma adalah masalah utama kesehatan masyarakat karena diperkirakan lebih dari 339 juta orang menderita asma secara global dan terdapat 417.918 kematian akibat asma pada tahun 2016. Meskipun asma tidak dapat disembuhkan, penanganan asma dapat dilakukan untuk mengurangi dan mencegah terjadinya serangan asma.

.

Kita semua diajak untuk bertindak mengatasi mitos dan kesalahpahaman tentang asma, yang justru mencegah penderita asma menikmati manfaat optimal dari kemajuan besar dalam pengelolaan asma. Kesalahpahaman umum seputar asma misalnya anggapan asma adalah penyakit masa anak dan akan membaik seiring bertambahnya usia, asma menular, sebaiknya tidak berolahraga dan hanya dapat dikontrol dengan obat steroid dosis tinggi.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/03/08/steroid-pada-serangan-asma/

.

Pada hal yang benar adalah asma dapat terjadi pada semua usia, baik anak, remaja, dewasa maupun lanjut usia. Selain itu, asma tidak menular meskipun infeksi virus pernapasan, seperti flu dapat menyebabkan serangan asma. Pada anak, asma sering dikaitkan dengan alergi, tetapi asma yang dimulai pada masa dewasa lebih jarang disebabkan karena alergi. Jika asma terkontrol dengan baik, penderita asma dapat berolahraga dan bahkan melakukan olah raga untuk mencapai prestasi terbaik. Yang terakhir, asma paling sering dapat dikendalikan dengan obat steroid hirup dosis rendah, dengan pemantauan derajad asma oleh dokter secara ketat.

.

Gejala Penyerta Batuk pada Anak yang Perlu Diwaspadai

Saat ini sudah ada aplikasi ponsel cerdas yang dapat memprediksi perburukan asma dengan data batuk di malam hari. Batuk di malam hari yang diukur melalui aplikasi ponsel cerdas, dapat menunjukkan bahwa asma semakin parah. Penelitian yang dipresentasikan di kongres internasional (the European Respiratory Society International Congress) tahun 2020 adalah yang pertama kali mengukur batuk pasien selama beberapa malam dan menunjukkan bahwa batuk, adalah tanda derajat asma memburuk.

.

Aplikasi tersebut merupakan cara baru untuk membantu pasien dan dokter  memantau asma dan menyesuaikan pengobatan untuk menjaga gejala asma tetap terkendali. Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Frank Rassouli, dari Cantonal Hospital St. Gallen, Zurich, Swiss, yang dilatarbelakangi bahwa sampai sekarang, belum ada alat yang dapat diandalkan untuk mengukur gejala asma pada seseorang dalam semalam.

.

Penelitian itu melibatkan 94 pasien asma yang sedang dirawat di dua klinik di Swiss: Lung Center, Cantonal Hospital, St Gallen dan MediX Group Practice, Zurich. Setiap pasien diminta mengunjungi klinik asma pada awal dan akhir penelitian, untuk melaporkan perangkat pengendali asma mereka, yaitu data gejala seperti sesak napas dan apakah asma mereka berdampak pada kehidupan mereka sehari-hari.

.

7 Smartphone Flagship Murah Terbaik, HP Performa Ngebut Tanpa Jebol  Kantong! | merdeka.com

Selama 29 hari penelitian, mereka tidur dengan ponsel cerdas di kamar tidur mereka, dengan aplikasi yang diaktifkan untuk mengukur tingkat kebisingan suara batuk di malam hari. Aplikasi tersebut juga memungkinkan bagi pasien untuk melaporkan gejala klinis lain pada malam hari. Para peneliti menemukan bahwa jumlah batuk di malam hari sangat bervariasi dari satu pasien ke pasien lainnya, tetapi ditemukan korelasi yang kuat antara peningkatan batuk di malam hari selama seminggu, dan gejala asma yang semakin memburuk.

.

Batuk di malam hari dapat diukur secara sederhana dengan aplikasi ponsel cerdas dan bahwa peningkatan batuk di malam hari merupakan indikator bahwa asma memburuk. Memantau asma sangat penting karena jika dokter dapat melihat tanda-tanda awal asma memburuk, dokter dapat menyesuaikan pengobatan untuk mencegah serangan asma yang memberat.

.

Meskipun asma tidak dapat disembuhkan, tetapi dengan memastikan bahwa pasien menggunakan panduan tatalaksana mereka seperti yang ditentukan oleh dokter, asma biasanya dapat dikontrol dengan baik. Asma yang tidak terkontrol dapat mengganggu aktivitas sekolah atau pekerjaan dan menyebabkan serangan asma yang serius.

Aplikasi ponsel cerdas ini juga dapat mempermudah pengumpulan banyak data, untuk mempelajari batuk di malam hari pada asma dan penyakit pernapasan lainnya. Perpaduan antara perangkat keras yang mudah dan tersedia seperti telepon pintar, dikombinasikan dengan kecerdasan buatan yang dapat bekerja dengan data kualitas batuk pada malam hari, akan memberikan dokter mata dan telinga tambahan, dalam menilai kondisi klinis pasien mereka di kehidupan nyata, bukan hanya di ruang praktek dokter. Pasien asma tetap harus berkonsultasi dengan dokter jika merasa gejala mereka memburuk dengan cara apapun, bahkan jika aplikasi ponsel cerdas ini tidak menunjukkan peningkatan batuk pada malam hari atau gejala lainnya.

Momentum Hari Asma Sedunia Rabu, 5 Mei 2021 mengingatkan kita bahwa kesalahpahaman tentang asma harus dikoreksi (Uncovering Asthma Misconceptions), terutama untuk mencapai pengendalian asma. Inisiatif ini bertujuan untuk mempercepat pengendalian asma dengan berbagai cara, temasuk aplikasi ponsel cerdas, dengan memastikan tidak ada seorangpun yang tertinggal (to ensure no one is left behind).

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

https://www.ersnet.org/the-society/news/smartphone-app-can-predict-asthma-deterioration-by-measuring-night-time-coughing

Sekian

Yogyakarta, 19 April 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?