Categories
Healthy Life Istanbul

2021 Tangani Hepatitis C

Image result for hepatitis c

TANGANI  HEPATITIS  C

fx. wikan indrarto*)

Pada Rabu, 27 Januari 2021 mulai dikampanyekan akses global ke layanan tes diagnosis dan pengobatan hepatitis C yang lebih terjangkau. Banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah telah mampu menekan jumlah penderita hepatitis C, berkat peningkatan akses ke layanan tes diagnostik dan pengobatan. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/07/27/2020-hari-hepatitis-sedunia/

.


Virus hepatitis B dan C mempengaruhi 325 juta orang di seluruh dunia yang menyebabkan 1,4 juta kematian per tahun, sedangkan sebanyak 2.850.000 orang menjadi terinfeksi baru pada tahun 2017 yang lalu. Hepatitis adalah penyakit menular yang merupakan penyebab kematian atau pembunuh kedua terbesar setelah TBC. Orang yang terinfeksi hepatitis 9 kali lebih banyak daripada HIV, pada hal hepatitis sebenarnya dapat dicegah, diobati, dan bahkan hepatitis C dapat disembuhkan secara tuntas. Namun demikian, ternyata lebih dari 80% penderita hepatitis masih memiliki keterbatasan akses pada layanan pencegahan, pemeriksaan atau tes diagnosis, dan pengobatan.

.

Menurut Jurnalis, Sayoeti, dan Russelly (2014) infeksi virus hepatitis C (HCV) merupakan persoalan yang serius. Penularan infeksi HCV pada anak yang utama adalah melalui transfusi darah atau produk darah yang bertanggung jawab menyebabkan kasus hepatitis C kronis pada anak. Selain itu infeksi HCV pada anak dapat disebabkan oleh transmisi perinatal (vertikal). Infeksi HCV akut dapat berakhir dengan sirosis dan karsinoma hepatoselular setelah dekade ketiga (sekitar 20%), karena progresivitas infeksi HCV lebih lambat dari infeksi hepatitis B virus. Pada umumnya infeksi HCV pada anak bersifat asimptomatik. Karena tidak ada gejala klinis yang jelas pada infeksi HCV, maka diagnosis infeksi HCV pada anak perlu ditegakkan dengan pemeriksaan awal di laboratorium klinis dengan uji serologi, dan bila perlu dilanjutkan dengan uji molekuler pada pasien anak dengan risiko tinggi. 

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/03/21/2019-menumpas-hepatitis/

.

Di antara orang yang hidup dengan hepatitis C, sekitar 19% (13,1 juta) mengetahui status infeksi mereka pada tahun 2017, di mana 15% (2 juta) mendapatkan penyembuhan karena pengobatan yang tuntas pada tahun yang sama. Secara keseluruhan, antara tahun 2014 dan 2017, sekitar 5 juta orang telah mengalami penyembuhan dari hepatitis C di seluruh dunia. Namun demikian, pada tahun 2017 sekitar 1,75 juta orang tidak sembuh dan mengalami infeksi hepatitis C kronis. Secara bersama-sama, hepatitis B dan C merupakan jumlah tertinggi infeksi baru pada penyakit menular utama, dibandingkan infeksi HIV dan TBC.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/01/29/2021-obat-hiv-baru-untuk-anak/

.

Negara berpenghasilan rendah dan menengah sekarang dapat menyediakan obat sofosbuvir generik dan daclatasvir, yaitu obat antivirus langsung atau ‘Direct Acting Antiviral’ (DAA) yang telah memenuhi kualifikasi WHO, dengan harga hanya US $ 60 per pasien untuk pengobatan 12 minggu. Biaya layanan tes diagnostik cepat Hepatitis C dengan prakualifikasi WHO berkisar antara US $ 1 dan US $ 8 per tes. Bahkan beberapa negara mencapai peningkatan 20 kali lipat dalam jumlah orang yang diobati dengan DAA yang aman dan efektif antara 2015 dan 2018, termasuk di Indonesia. Ada tiga jenis obat DAA yang beredar di Indonesia, yaitu sofosbuvir, simeprevir, dan daclatasvir, sehingga bukan lagi menggunakan obat kombinasi pegylated interferon dan ribavirin.

.

Pada tahun 2018, lebih dari 120 negara telah mengadopsi strategi hepatitis virus nasional, meningkat dari hanya 20 negara pada tahun 2012. Hal ini telah dipercepat sejak penerapan Strategi Sektor Kesehatan Global pertama WHO untuk Hepatitis Virus 2016-2021. Banyak negara juga telah membuat kemajuan dalam meningkatkan komitmen pemerintah, menyusun rencana strategis nasional, menyederhanakan pedoman, serta meningkatkan ketersediaan pilihan tes diagnosis dan pengobatan yang lebih murah dan terjamin kualitasnya.

.

Image result for hepatitis c

Terlepas dari tantangan pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung, kemajuan yang dicapai saat ini termasuk mengesankan, namun sebenarnya rapuh karena akses ke layanan tes diagnosis dan pengobatan hepatitis C belum mencapai tingkat cakupan yang memadai, untuk mencapai tujuan global memberantas virus hepatitis sebagai masalah kesehatan masyarakat utama pada tahun 2030. Secara global, pada akhir tahun 2017, hanya 5 juta atau 7% dari 71 juta orang yang terinfeksi HCV secara kumulatif menerima pengobatan dengan DAA.

.

Oleh karena banyak negara masih terus terbebani berbagai penyakit dan gangguan layanan kesehatan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19, sangat penting untuk memastikan bahwa momentum bagus dalam mengatasi hepatitis C tidak hilang. Selain itu, upaya global untuk meningkatkan akses layanan hepatitis C harus dipertahankan dan dipercepat dalam dekade mendatang, sebagai bagian dari upaya yang lebih luas menuju cakupan kesehatan semesta atau ‘Universal Heath Couverage’ (UHC).

.

Tes diagnostik dan DAA yang terjamin kualitasnya terus meningkat ketersediaannya dengan harga yang terus menurun sampai batas terjangkau. Namun demikian, masih banyak negara tidak mampu mengakses harga yang sudah serendah ini. Transparansi pasar yang lebih besar, bersama dengan bimbingan dan berbagi pengalaman dari seluruh dunia dalam memberikan contoh praktis bagi negara lain dan komunitas penderita hepatitis C, diperlukan untuk memperluas akses dan mengatasi hambatan yang ada.

.

Meskipun terjadi penurunan harga obat dan layanan, ketersediaan dan keterjangkauan tes diagnosis tetap menjadi penghalang utama, untuk peningkatan skala pengobatan di beberapa negara berpenghasilan rendah dan menengah. Sangat penting untuk memperluas akses ke layanan tes diagnosis in vitro hepatitis C yang sederhana, terjangkau dan terjamin kualitasnya. Jenis pemeriksaan diagnosis yang umumnya diperlukan adalah anti HCV rapid atau stick, anti HCV EIA, HCV RNA kualitatif ataupun kuantitatif. Dengan demikian akan ada lebih banyak negara yang dapat melakukan pemeriksaan skrining atau menyaring lebih banyak orang, mengidentifikasi pasien Hepatitis C yang membutuhkan pengobatan, dan akhirnya memberikan perawatan yang tepat. 

Image result for obat hepatitis c

Program kerja Kementrian Kesehatan RI untuk mewujudkan masa depan Indonesia yang bebas hepatitis adalah mengkampanyekan lingkungan bersih dan sehat, melakukan deteksi dini Hepatitis C pada kelompok berisiko, dan melakukan pengobatan yang tepat pada penderita Hepatitis C dengan DAA, yaitu sofosbuvir dan daclatasvir gratis untuk semua jenis penjaminan biaya pasien, ditambah dengan upaya meningkatkan akses masyarakat pada layanan kesehatan yang terjangkau.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 4 Februari 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
COVID-19 Healthy Life

2021 Hari Orang Sakit Sedunia

Hasil gambar untuk hari orang sakit sedunia 2021

HARI  ORANG SAKIT  SEDUNIA   2021

fx. wikan indrarto*)

Hari Orang Sakit Sedunia (World Day of the Sick) ditetapkan oleh Sri Paus Yohanes Paulus II dan mulai dirayakan pada 11 Februari 1993. Tema peringatan tahun 2021 : Hanya satu Gurumu dan kamu semua adalah saudara (Mat 23: 8). Puncak acara akan diselenggarakan pada Pesta Santa Perawan Maria di Lourdes, Perancis pada hari Kamis, 11 Februari 2021. Apa yang sebaiknya dilakukan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/02/05/2020-hari-orang-sakit-sedunia/

.

Ketiga subtema yang terus-menerus didengungkan pada setiap Hari Orang Sakit Sedunia adalah pertama, mengingatkan semua orang beriman, untuk berdoa secara khusuk bagi mereka yang sedang sakit. Kedua, mengundang semua orang beriman untuk merefleksikan sakit dan penderitaan manusia, dan ketiga, penghargaan bagi semua petugas kesehatan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/12/27/2018-bayi-sakit/

.

Melayani saudara kita yang sedang sakit, seharusnya diawali dengan kemurnian hati sampai kita mampu bersikap seperti Ayub “Saya mata untuk orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh” (Ayub 29:15), kepada sesama yang sakit. Kita semua diajak untuk mampu menjadi “mata untuk orang buta” dan “kaki bagi orang lumpuh”. Pelayanan kita tidaklah harus dilakukan dengan menjadi petugas kesehatan bagi para pasien. Sebenarnya kita dapat sekedar dekat dengan orang sakit, terutama yang membutuhkan perawatan lama, membantu dalam memandikan, berpakaian, mencucikan dan menyuapkan makanan. Layanan sederhana seperti ini, terutama bila dilakukan berkepanjangan, pastilah dapat menjadi sangat melelahkan dan memberatkan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/01/31/2019-paska-rumah-sakit/

.

Meskipun tidak ada yang menginginkannya, namun setiap manusia akan mungkin mengalami sakit, penderitaan dan bahkan dapat berlanjut dengan kematian. Sakit yang ringan sekalipun, sebaiknya digunakan sebagai sebuah momentum penting untuk mensyukuri sehat. Kita diingatkan untuk bersandar pada Tuhan, menyadari pentingnya iman bagi mereka yang sakit dan berbeban berat, untuk datang pada Tuhan. Dalam pertemuannya dengan Tuhan melalui caranya masing-masing, mereka yang sakit akan menyadari bahwa dirinya tidak sendirian.

.

Hasil gambar untuk hari orang sakit sedunia 2021
.

Bagi kita semua yang sehat, memberikan pendampingan, penghiburan dan perhatian untuk mereka yang sakit, sangatlah berarti. Selain itu, kita disadarkan akan pergerakan roda kehidupan. Pada saat sehat, kita seharusnya meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan dana untuk membantu mereka yang sakit. Pada saat yang lain, sangat mungkin kita sendiri justru menjadi orang yang sakit dan memerlukan hal yang sama dari semua orang di sekitar kita, sebagaimana pergerakan dan putaran roda kehidupan.

.

Pada Selasa, 2 Februari 2021 terdapat penambahan 10.379 kasus baru COVID-19 dalam 24 jam terakhir di Indonesia. Penambahan tersebut menyebabkan jumlah pasien yang terinfeksi COVID-19 di seluruh Indonesia telah mencapai 1.099.687 orang, terhitung sejak diumumkannya kasus perdana COVID-19 pada 2 Maret 2020. Pandemi COVID-19 ini juga menyerang tenaga medis bahkan yang wafat akibat COVID-19 mencapai 363 orang, termasuk 202 dokter.

.

Selain itu, keterbatasan tempat tidur di RS menyebabkan banyak pasien COVID-19 yang tidak tertangani secara layak, baik dan lengkap. Juga para penderita COVID-19 bergejala ringan ataupun tanpa gejala, diharuskan melakukan isolasi mandiri di rumah atau fasilitas lain yang disediakan oleh Dinas Kesehatan setempat. Dampak ekonomi dan sosial pandemi COVID-19 sebenarnya jauh lebih menghancurkan, melemahkan dan memberatkan bagi masyarakat luas, tidak hanya dampak sakit oleh para penyintas saja. Namun demikian, kita semua yang terdampak secara ekonomi dan sosial tetap diingatakan untuk tetap membantu semua saudara kita yang terdampak pandemi COVID-19 secara medis dan menjadi pasien, dengan terapi yang lengkap.

.

Hasil gambar untuk hari orang sakit sedunia 2021

.

Jika terapi ingin efektif, Paus Fransiscus berpesan agar terapi harus mempunyai aspek relasional, karena aspek ini memampukan pendekatan holistik kepada pasien. Aspek relasional dapat membantu dokter, perawat, tenaga profesional dan relawan untuk merasa bertanggung jawab mendampingi pasien di jalan penyembuhan yang didasarkan pada hubungan antarpribadi yang saling percaya. Aspek relasional ini menciptakan perjanjian antara mereka yang membutuhkan layanan medis dan mereka yang menyediakan layanan itu, dalam sebuah perjanjian yang didasarkan pada rasa saling percaya, hormat, keterbukaan dan kesiapsediaan diri. Hal ini akan membantu mengatasi sikap defensif, menghormati martabat orang sakit, menjaga profesionalisme dokter dan petugas kesehatan lainnya, bahkan mampu berperan dalam membina hubungan yang baik dengan keluarga pasien, karena kita semua adalah saudara (Mat 23: 8).

.

Hasil gambar untuk hari orang sakit sedunia 2021
.

Dalam menangani orang sakit, dokter dan petugas kesehatan profesional lain agar memprioritaskan kata benda ‘orang’, dibandingkan kata sifat ‘sakit’. Oleh sebab itu, para petugas kesehatan profesional hendaknya meniru teladan Guru kita yang satu (Mat 23: 8), yaitu selalu berusaha meningkatkan martabat dan kehidupan setiap orang. Selain itu, juga menolak kompromi ke arah euthanasia, bunuh diri yang dibantu atau penindasan hidup, bahkan dalam kasus penyakit terminal, termasuk COVID-19 yang mematikan.

.

Momentum Hari Orang Sakit Sedunia (World Day of the Sick) Kamis, 11 Februari 2021, mengingatkan kita agar menciptakan relasi terapeutik yang didasarkan pada rasa percaya, memiliki kebijaksanaan hati dan memberikan kelegaan bagi para orang sakit yang berbeban berat. Selain itu, saat terjadi sakit juga tidak perlu putus asa, karena adanya kemuliaan dan kasih Tuhan sampai pada akhir kehidupan.

Sudahkah kita menemani orang sakit di sekitar kita?

Sekian

Yogyakarta, 3 Februari 2021

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161,

Categories
COVID-19 Healthy Life

2021 COVID-19 pada anak

Hasil gambar untuk COVID-19 PADA ANAK

COVID-19  PADA  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Ada berbagai jenis gambaran klinis COVID-19 berdasarkan usia orang yang terinfeksi virus ini. Beruntung anak dan remaja cenderung mengidap penyakit yang lebih ringan dibandingkan orang dewasa. Kebanyakan orang yang terinfeksi virus SARS-CoV-2 mengalami gejala pernapasan, misalnya batuk, sakit tenggorokan, atau bersin. Apa yang perlu dicermati pada anak?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/12/08/2020-kematian-anak-karena-covid-19/

.

Pada beberapa anak mungkin memiliki gejala gangguan perut atau gastrointestinal seperti diare atau muntah, tetapi cenderung lebih ringan. Anak lain mungkin kehilangan indra penciuman atau indra pengecap, bahkan kebanyakan anak cenderung mengalami infeksi tanpa gejala sama sekali.

.

Pada anak manifestasi klinis COVID-19 dapat meliputi gejala sistemik di luar sistem respirasi, seperti demam, diare, muntah, ruam kulit, syok, gangguan jantung dan organ lain, yang dikenal sebagai ‘Multisystem Inflammatory Syndrome’ pada COVID-19 (MIS-C). Untuk itu, para dokter klinisi perlu mengetahui kondisi MIS-C pada anak dan menatalaksananya. Apabila menemukan tanda dan gejala MIS-C pada anak, klinisi dapat menegakkan diagnosis berdasarkan pemeriksaan serologi antibodi. Pemeriksaan rapid antibodi positif pada anak dengan kecurigaan MIS-C, walaupun hasil PCR SARS-CoV2 negatif, diagnosis MIS-C tetap dapat ditegakkan. Hal ini didasarkan atas manifestasi klinis MIS-C dapat timbul setelah 2-4 minggu pasca awitan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/12/02/2020-obat-covid-19/

.

Tatalaksana klinis MIS-C pada anak mirip dengan pasien dewasa. Pemberian suplemen Vitamin C (1-3 tahun maksimal 400 mg/hari; 4-8 tahun maksimal 600 mg/hari; 9-13 tahun maksimal 1,2 gram/hari; 12-18 tahun maksimal 1,8 gram/hari) dan Zink 20mg/hari atau obat suplemen lain dapat dipertimbangkan untuk diberikan, meskipun ‘evidence’ pada anak belum menunjukkan hasil yang meyakinkan.

.

Antibiotik empirik lebih disukai yang dosis tunggal atau sekali sehari, karena alasan ‘infection control’, yaitu ceftriaxon IV 50-100 mg/kgBB/24jam pada kasus pneumonia komunitas atau terduga ko-infeksi dengan bakteri. Selain itu, juga dapat menggunakan Azitromisin 10 mg/kg, hanya jika dicurigai disertai dengan pneumonia atipikal.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/11/12/2020-sekolah-saat-pandemi-covid-19/

.

Jika COVID-19 dicurigai ko-infeksi dengan virus influenza, dapat diberikan oseltamivir. Untuk bayi < 1 tahun, oseltamivir 3 mg/kg/dosis setiap 12 jam dan untuk anak > 1 tahun diberikan dengan panduan dosis BB < 15 kg : 30 mg setiap 12 jam, BB 15-23 kg : 45 mg setiap 12 jam, BB 23-40 kg : 60 mg setiap 12 jam, dan > 40 kg : 75 mg setiap 12 jam.

.

Hasil gambar untuk COVID-19 PADA ANAK
.

Terapi definitif untuk COVID-19 masih terus diteliti, namun laporan efektivitas dan keamanan obat antivirus seperti remdesivir, favipiravir, tocilizumab, IVIG, dan plasma konvalesens, sementara ini hanya pada pasien dewasa, sedangkan pada anak masih belum cukup banyak data. Pemberian obat anti SARS-CoV-2 pada anak harus mempertimbangkan derajat beratnya penyakit dan komorbid, serta persetujuan orang tua.

.

Varian virus SARS-CoV-2 saat ini sudah terdeteksi, tetapi perubahan ini tidak berdampak hebat pada anak dalam hal kemampuannya untuk menularkan atau gejala klinis penyakit yang ditimbulkannya. Namun demikian, beberapa varian yang disebut “varian yang menjadi perhatian” (variants of concern) membutuhkan lebih banyak penelitian. Gejala klinis penyakit terlihat sama dan tingkat keparahannya juga terlihat sama dengan virus SARS-CoV-2 lainnya.

.

Varian virus SARS-CoV-2 diidentifikasi pertama kali di Inggris memperlihatkan peningkatan penularan di semua kelompok umur, termasuk anak, di wilayah yang mungkin terkait dengan banyak sekolah yang telah dibuka. Masih diperlukan banyak penelitian tentang varian virus ini, tetapi penelitian di Inggris tidak menunjukkan bahwa virus tersebut secara khusus menargetkan populasi anak, yang berarti bahwa varian itu tidak menginfeksi anak lebih banyak, dibandingkan virus lain yang sedang mengancam di daerah tersebut.

.

Hasil gambar untuk COVID-19 PADA ANAK

Cara terbaik untuk menjaga keamanan dan kesehatan anak adalah dengan pencegahan penularan COVID-19, karena vaksinasi COVID-19 belum dapat dilakukan. Memastikan anak memiliki tangan yang bersih dan mereka mampu mencuci tangan dengan benar menggunakan sabun dan air, adalah hal penting. Atau dapat juga gunakan cairan oles berbahan dasar alkohol (alcohol-based rub).

.

Selain itu, orang tua wajib memastikan anak agar mempraktikkan etika batuk, yaitu bersin dan batuk ditutup dengan siku. Anak terkecil yang dapat dilatih adalah sekitar usia dua tahun, mampu untuk terbiasa batuk dan bersin di sikunya. Etika batuk ini adalah kebiasaan baik yang harus dibentuk sejak anak. Pastikan sesuai dengan usia anak agar anak mengikuti panduan setempat tentang penggunaan masker dengan tepat. Dengan tangan yang bersih, pastikan masker menutupi hidung dan mulut anak serta anak diajari untuk tidak menyentuh bagian luar masker. Pastikan tangan mereka bersih saat melepas masker.

.

Selain itu, orang tua wajib berbicara dengan anak sebaik mungkin dalam menjawab pertanyaan mereka. Ada banyak informasi yang membingungkan dan menakutkan, sehingga ciptakan waktu untuk berbicara dan menjawab pertanyaan mereka secara benar, untuk mengurangi rasa takut anak dan memeilihara optimisme. Hal penting lainnya adalah mengingatkan anak agar selalu menjaga jarak secara fisik dengan temannya, karena cara-cara itulah yang terbaik untuk mencegah penyebaran SARS-CoV-2 pada anak.

.

Sudahkah kita bijak mendampingi anak dari bahaya COVID-19 ?

Sekian

Yogyakarta, 1 Februari 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
COVID-19 Healthy Life UHC

2020 UHC

Universal Health Coverage Day 2020 | Universal Health Coverage Partnership

UHC

fx. wikan indrarto*)

Pandemi COVID-19 menyerang seluruh warga global hanya beberapa bulan setelah para pemimpin dunia mengesahkan Deklarasi Politik penting tentang cakupan kesehatan semesta atau ‘Universal Health Coverage’ (UHC). Para pemimpin global telah berkomitmen untuk mempercepat upaya pencapaian UHC, sehingga semua orang dapat mengakses layanan kesehatan yang mereka butuhkan, kapan dan di mana mereka membutuhkannya, tanpa menderita kesulitan keuangan (financial hardship). Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/08/28/2019-uhc-sektor-swasta/

.

Pandemi COVID-19 menguji tekad global dalam memberikan layanan kesehatan bagi semua orang. Selain itu, mengancam untuk menghapus prestasi bidang kesehatan yang telah dicapai selama beberapa dekade terakhir. Hal ini disebabkan karena pandemi COVID-19 ini telah mengganggu layanan kesehatan esensial di banyak negara dan menghabiskan sumber daya hingga melampaui batas kemampuannya. Selain itu, juga menunjukkan dampak dari kurangnya investasi selama beberapa dekade, untuk layanan primer dan fungsi kesehatan masyarakat yang esensial.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/06/30/2019-capaian-uhc/

.

Serangkaian survei global mengungkapkan kemunduran dalam pemberian layanan kesehatan utama, untuk mencapai target yang telah disepakati secara global. Inisiatif untuk meningkatkan cakupan imunisasi, derajad kesehatan seksual dan reproduksi, layanan kesehatan ibu dan anak, perawatan lansia, dan program untuk mengakhiri berbagai penyakit, semuanya telah terdampak secara negatif oleh pandemi COVID-19.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/01/09/2019-biaya-uhc/

.

Hal ini memberikan tekanan tambahan pada kelompok populasi rentan, dengan kebutuhan layanan kesehatan yang tidak terpenuhi. Pada hal sebelum pandemi COVID-19, setidaknya setengah dari populasi dunia tidak memiliki penjaminan biaya, saat memerlukan layanan kesehatan penting dan sekitar 100 juta orang jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem, karena mereka harus mengeluarkan biaya untuk perawatan kesehatan, di luar kemampuan mereka untuk membayar. Untuk itulah prioritas UHC tahun 2020 ini dirumuskan, agar mengingatkan kita semua pada hal yang paling mendesak, yaitu kesehatan untuk semua: lindungi semua orang (health for all: protect everyone). Pada intinya, untuk mengakhiri pandemi COVID-19 ini dan membangun masa depan yang lebih aman dan lebih sehat, kita harus berinvestasi dalam sistem kesehatan yang melindungi kita semua,  yang sekarang harus dilakukan, bukan kelak.

Why palliative care must be included in Universal Health Coverage - ICPCN

Rencana aksi global untuk kehidupan yang lebih sehat dan kesejahteraan untuk semua, memerlukan beberapa langkah penting. Langkah pertama adalah pembentukan layanan kesehatan primer yang efektif dan berkelanjutan untuk mencapai target SDG terkait kesehatan. Langkah penting program ini adalah menyediakan sarana dan sistem untuk layanan kesehatan primer dan kesehatan masyarakat lainnya yang mudah diakses, terjangkau, adil, terintegrasi, dan berkualitas untuk semua warga masyarakat. Syaratnya adalah fasilitas kesehatan primer tersebut dekat dengan tempat orang tinggal atau bekerja, dan mampu mengatur rujukan pasien ke tingkat perawatan yang lebih tinggi. Layanan ini juga didukung dengan koordinasi multisektoral dalam bidang kesehatan dan melibatkan lebih banyak orang dan komunitas, untuk mewujudkan kesehatan dan kesejahteraan mereka sendiri.

.

Langkah kedua adalah meningkatkan besaran pembiayaan bidang kesehatan yang berkelanjutan, agar memungkinkan banyak negara untuk mengurangi berbagai kebutuhan yang selama ini tidak terpenuhi, akan layanan kesehatan. Selain itu, juga dapat mengatasi kesulitan keuangan yang timbul karena pembayaran biaya layanan kesehatan secara langsung, dengan membangun dan secara progresif memperkuat sistem untuk memobilisasi sumber daya yang memadai untuk layanan kesehatan, dan membelanjakannya dengan lebih baik, untuk lebih banyak jenis layanan kesehatan. Untuk beberapa negara berpenghasilan rendah, di mana alokasi pendanaan pembangunan cukup terbatas, program ini juga akan menyebabkan peningkatan efektivitas dukungan pendanaan eksternal.

.

Langkah ketiga adalah meningkatkan keterlibatan masyarakat dan memastikan bahwa masyarakat luas menerima dukungan yang mereka butuhkan. Keterlibatan masyarakat ini memungkinkan dan memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang terlibat akan tertinggal (no one is left behind). Langkah keempat menciptakan lingkungan yang mendukung peningkatan derajad kesehatan dan kesejahteraan bagi semua. Selain itu, juga meningkatkan investasi dan tindakan di berbagai sektor di luar kesehatan dan memaksimalkan manfaat pencapaian target di seluruh sektor SDG.

.

Langkah kelima adalah pemrograman inovatif dalam sistem kesehatan yang rapuh, rentan, dan mudah terganggu, sekalian untuk merespons wabah penyakit, termasuk pandemi COVID-19. Memastikan bahwa layanan kesehatan dan kemanusiaan tersedia di semua tempat, termasuk pada medan yang sulit serta mampu merespons munculnya wabah penyakit secara efektif, karena memerlukan koordinasi multisektoral, perencanaan rinci dan pembiayaan jangka panjang. Langkah keenam adalah penelitian, pengembangan, inovasi dan perbaikan akses. Penelitian dan inovasi sangat penting untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi produk dan layanan kesehatan. Sementara itu, akses yang berkelanjutan dan adil memastikan ketersediaan intervensi perawatan kesehatan yang lebih baik, bagi mereka yang paling membutuhkannya.

.

Langkah ketuju, adalah perbaikan data dan kesehatan digital. Data yang rinci, berkualitas dan komprehensif adalah kunci untuk memahami secara benar kebutuhan bidang kesehatan, merancang program dan kebijakan, memandu keputusan investasi, serta mengukur kemajuan. Teknologi digital dapat mengubah cara pengumpulan dan penyimpanan data kesehatan, sehingga dapat digunakan serta berkontribusi pada kebijakan kesehatan yang lebih adil.

.

Setiap negara itu unik, dan setiap negara dapat berfokus pada area yang berbeda, atau mengembangkan cara mereka sendiri dalam mengukur pencapaian UHC. Di Indonesia UHC diwujudkan melalui program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Apakah kita telah ikut mewujudkan?

 

Sekian

Yogyakarta, 24 Desember 2020

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Healthy Life

2020 ‘WASTING’ PADA ANAK

Wasting Pada Anak, Apa Saja Penyebab dan Bagaimana Mengatasinya? | Kabar  Tangsel

WASTING  PADA  ANAK

fx. wikan indarto*)

Pada 2015 segenap pemimpin dunia berkomitmen untuk memberantas  kekurangan gizi pada 2030 sebagai bagian dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Untuk mencapai hal ini, SDGs memasukkan target Majelis Kesehatan Dunia ke-65 dalam mengurangi proporsi anak dengan kekurangan gizi akut atau kurus (wasting) menjadi <5% pada tahun 2025 dan <3% pada tahun 2030. Namun, sejak target tersebut diadopsi, proporsi anak dengan wasting di banyak bagian dunia tetap tidak berubah. Apa yang membahayakan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/07/26/2019-kelaparan-masih-ada/

.

Saat ini, diperkirakan 7,3% (50 juta) dari semua anak balita menderita wasting. Tiga perempat dari anak ini tinggal di lingkungan berpenghasilan rendah, sedangkan sisanya terkena dampak krisis kemanusiaan,termasuk resesi karena pandemi COVID-19. Wasting mempengaruhi anak di hampir setiap benua, dengan jumlah terbesar tinggal di Asia Selatan dan Tenggara.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/08/08/2018-nutrisi-bayi-pengungsi/

.

Kemajuan dalam mengurangi separoh jumlah anak yang mengalami wasting atau terhambat pertumbuhannya, dan dalam mengurangi jumlah bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah, terbukti terlalu lambat, sehingga membuat target nutrisi SDG 2 menjauh dari jangkauan. Pada saat yang sama, justru terjadi tambahan tantangan, karena kelebihan berat badan dan obesitas terus meningkat di semua wilayah, terutama pada anak usia sekolah dan orang dewasa muda. Selain itu, peluang mengalami rawan pangan lebih tinggi terjadi pada wanita daripada pria di setiap benua, dengan kesenjangan terbesar di Amerika Latin. Tindakan untuk mengatasi tren yang meresahkan ini harus lebih berani, tidak hanya dalam skala, tetapi juga dalam hal kolaborasi multisektoral. Hal ini melibatkan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Dana Internasional untuk Pengembangan Pertanian (IFAD), Dana Anak PBB (UNICEF), Program Pangan Dunia (WFP) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/06/04/2018-campak-dan-gizi-buruk/

.

Kelaparan yang meningkat terjadi di banyak negara, terutama di mana pertumbuhan ekonomi tertinggal dan terdampak resesi karena pandemi COVID-19, yaitu di negara berpenghasilan menengah dan negara yang sangat bergantung pada perdagangan komoditas primer internasional. Laporan tahunan PBB 2019 juga menemukan bahwa ketimpangan pendapatan juga meningkat di banyak negara di mana kejadian kelaparan meningkat, menjadikannya semakin sulit bagi orang miskin, rentan atau terpinggirkan, untuk mengatasi perlambatan dan penurunan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/07/26/2019-kelaparan-masih-ada/

.

Untuk itu, semua negera seharusnya mendorong program transformasi struktural yang berpihak pada kaum miskin dan inklusif. Selain itu, juga berfokus pada orang dan komunitas khusus, agar menjadi pusat kegiatan dalam mengurangi kerentanan ekonomi, sehingga banyak negara akan mampu berada pada jalur untuk mengakhiri kelaparan, kerawanan pangan, dan segala bentuk kekurangan gizi.

Covid-19 Tingkatkan Anak-Anak Alami Masalah Gizi | Republika Online

Situasi kelaparan yang paling mengkhawatirkan terjadi di Afrika, karena wilayah ini memiliki tingkat kelaparan tertinggi di dunia. Selain itu, juga terus meningkat secara perlahan namun pasti, di hampir semua sub-wilayah. Di Afrika Timur khususnya, hampir sepertiga dari populasi (30,8 persen) kekurangan gizi. Selain perubahan iklim dan konflik bersenjata, ternyata perlambatan dan penurunan pertumbuhan ekonomi mendorong peningkatan kelaparan. Sejak tahun 2011, hampir setengah negara di mana kelaparan meningkat, terjadi karena perlambatan pertumbuhan ekonomi atau stagnasi di Afrika.

.

Namun demikian, jumlah terbesar orang kurang gizi (lebih dari 500 juta) justru tinggal di Asia, sebagian besar di Asia selatan. Secara bersama-sama, Afrika dan Asia menanggung bagian terbesar dari semua bentuk malnutrisi, terhitung lebih dari sembilan dari sepuluh anak pendek, kekurangan gizi kronis atau stunting, dan lebih dari sembilan dari sepuluh anak kurus atau wasting di seluruh dunia. Di Asia selatan dan Afrika sub-Sahara, satu dari tiga anak adalah pendek. Selain tantangan stunting dan wasting, wilayah Asia dan Afrika juga merupakan rumah bagi hampir tiga perempat dari semua anak yang kelebihan berat badan di seluruh dunia, sebagian besar didorong oleh peningkatan konsumsi makanan yang tidak sehat.

.

Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam, Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) Arifin Rudiyanto, pada 10 April 2019 menyatakan bahwa tahun 2018 lalu, konsumsi makanan per kapita di Indonesia meningkat sekitar 5 persen, dan bahkan konsumsi kalori pada masyarakat berpendapatan rendah meningkat sekitar 8 persen. Dalam kondisi ini, tingkat stunting untuk anak balita di Indonesia turun 7 persen dibanding kondisi tahun 2013, menjadi 30,8 persen tahun 2018. Prevalensi kekurangan berat badan (wasting) pada anak balita juga turun 2 persen, menjadi 10 persen selama periode yang sama. Indonesia berada dalam kondisi transisi ekonomi, dengan pertumbuhan pendapatan lebih dari 5 persen per tahun, dan permintaan akan makanan tumbuh lebih dari empat persen. Perubahan ini tidak bisa dihindari, karena adanya pertumbuhan ekonomi yang cukup cepat, urbanisasi, dan perubahan gaya hidup.

.

Laporan Keamanan Pangan PBB tahun 2017 yang lalu mengidentifikasi tiga faktor di balik meningkatnya kelaparan, yaitu konflik bersenjata, perubahan iklim, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Sampai tahun 2020 ini, ketiganya tetap berpengaruh dalam ketahanan pangan, nutrisi global, dan meningkatnya wasting pada anak, sehingga ketiganya harus kita cegah terjadi di Indonesia, terutama dampak resesi terkait pandemi COVID-19.

Sudahkah kita bertindak?

Sekian

Yogyakarta, 8 Desember 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, dan Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
COVID-19 Healthy Life

2021 Langkah Sehat

Cara Sehat dan Hemat dengan Donor Darah | Asuransi Kesehatan dan Jiwa Cigna  Indonesia

LANGKAH  SEHAT  2021

fx. wikan indrarto*)

Dimuat di harian nasional Kompas Rabu, 6 Januari 2021, halaman 7.


https://kompas.id/baca/opini/2021/01/06/langkah-sehat-2021/

2020 adalah tahun yang menghancurkan bagi kemajuan kesehatan global. Sebuah virus ganas, yaitu COVID-19 menyebar ke seluruh dunia, dengan cepat muncul sebagai salah satu pembunuh utama. Saat ini, layanan kesehatan di semua wilayah sedang berjuang untuk mengatasi COVID-19, dan memberikan layanan medis bagi banyak orang. Apa yang harus dilakukan di sepanjang tahun 2021?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/06/06/2020-langkah-sehat-paska-pandemi-covid-19/

.

Pada tahun 2021 semua negara di seluruh dunia masih harus terus memerangi COVID-19, memperkuat kesiapsiagaan menghadapi pandemi, dan keadaan darurat lainnya. Berikut adalah 10 langkah global yang harus dilakukan untuk mempertahankan derajad kesehatan warga dunia. Pertama, membangun solidaritas global untuk keamanan kesehatan (health security). Semua pihak harus bekerjasama untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi pandemi dan keadaan darurat kesehatan. Di atas segalanya, pandemi ini telah menunjukkan kepada kita berulang kali, bahwa tidak ada seorangpun yang aman sampai semua orang aman (no one is safe until everyone is safe). Salah satu hal penting adalah mendirikan Bio Bank, yaitu sebuah sistem global dalam berbagi bahan patogen dan sampel klinis, untuk memfasilitasi penelitian dan pengembangan vaksin dan obat yang aman dan efektif.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/12/08/2020-kematian-anak-karena-covid-19/

.

Kedua, mempercepat akses untuk tes, obat dan vaksin COVID-19. Target pada 2021 antara lain pendistribusian 2 miliar dosis vaksin, layanan medis untuk 245 juta pasien rawat inap, tes skrining untuk 500 juta orang di negara berpenghasilan rendah dan menengah, serta memperkuat sistem kesehatan yang dibutuhkan untuk mendukung mereka. Ketiga, meningkatkan kesehatan untuk semua (health for all). Salah satu pelajaran paling jelas dari pandemi COVID-19 adalah konsekuensi buruk kalau mengabaikan sistem layanan kesehatan. Pada tahun 2021, setiap negara wajib memperkuat sistem, sehingga selian dapat menanggapi ganasanya COVID-19, masih tetap mampu memberikan semua layanan kesehatan penting yang diperlukan, untuk menjaga kesehatan warga masyarakat dari segala usia, berlokasi dekat dengan rumah dan tanpa risiko finansial yang menyebabkan jatuh miskin.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/07/23/2020-vaksinasi-saat-pandemi-covid-19/

.

Keempat, mengatasi kesenjangan kesehatan (health inequities). Pada tahun 2021, semua warga global wajib membangun komitmen internasional untuk memajukan cakupan kesehatan semesta atau UHC dan menangani faktor penentu derajad kesehatan yang lebih luas. Diperlukan program untuk mengatasi ketidaksetaraan layanan kesehatan karena pengaruh tingkat pendapatan, jenis kelamin, etnis, tinggal di daerah pedesaan terpencil atau daerah perkotaan yang tertinggal, tingkat pendidikan, kondisi pekerjaan, dan bahkan disabilitas. Kelima, memprioritaskan sains dan data. WHO akan memantau dan mengevaluasi perkembangan sains dan bukti ilmiah terbaru seputar COVID-19. Dengan demikian akan terwujud  rekomendasi untuk tenaga medis yang berbasis bukti terbaik, dalam meningkatkan derajad kesehatan masyarakat. Rekomendasi tersebut mencakup berbagai masalah medis secara lengkap dari A sampai Z, yaitu mulai dari Alzheimer hingga Zika. 

.

Cara Mencegah Virus Corona Versi Situs WHO

Keenam, revitalisasi upaya penanggulangan penyakit menular dan mengakhiri wabah polio, HIV, tuberkulosis dan malaria, serta mencegah epidemi penyakit seperti campak dan demam kuning. Namun demikian, pandemi COVID-19 telah menghentikan sebagian besar upaya besar ini pada awal tahun 2020. Untuk itu, pada tahun 2021 diperlukan bantuan untuk beberapa negara dalam mendapatkan vaksin polio dan penyakit lainnya, kepada orang yang belum dvaksin (missed out) selama pandemi COVID-19 ini. Program vaksinasi baru adalah upaya meningkatkan akses ke vaksin HPV sebagai bagian dari upaya global baru, untuk mengakhiri kanker serviks yang diluncurkan pada tahun 2020. Pada tahap menengah akan ditingkatkan upaya untuk memberantas AIDS, tuberkulosis, malaria, dan hepatitis pada tahun 2030.

.

Ketujuh, memerangi resistensi obat. Upaya global untuk mengakhiri penyakit menular hanya akan berhasil jika kita memiliki obat yang efektif untuk mematikan kuman penyebab. Kolaborasi dalam ‘One Health’ antara WHO, FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian) dan OIE (Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan) dengan semua sektor, untuk melestarikan obat antimikroba dan memastikan bahwa resistensi antimikroba diperhitungkan dalam penguatan sistem kesehatan nasional di negara manapun. Kedelapan, mencegah dan mengobati penyakit tidak menular atau Non Communicable Diseases (NCD) yang bertanggung jawab atas 7 dari 10 penyebab kematian teratas pada tahun 2019 dan sangat rentan terhadap COVID-19. Program skrining dan pengobatan NCD, terutama untuk kanker, diabetes dan penyakit jantung, pada tahun 2021 seharusnya dapat diakses oleh semua orang saat mereka membutuhkannya, disertai kampanye untuk membantu 100 juta orang berhenti merokok. 

.

Kesembilan, membangun kembali dunia dengan lebih baik, lebih hijau, dan lebih sehat. Manifesto Pemulihan Sehat (Healthy Recovery from COVID-19) dengan tujuan untuk mengatasi perubahan iklim, mengurangi polusi, dan meningkatkan kualitas udara, dapat memainkan peran utama dalam mewujudkan hal ini. Kesepuluh, bertindak dalam solidaritas. Salah satu prinsip utama selama perang melawan COVID-19 adalah perlunya solidaritas yang lebih besar, baik antar negara, lembaga, komunitas, maupun antar individu, untuk menutup celah (the cracks) pertahanan kita, tempat virus masuk dan berkembang. Pada tahun 2021 kita wajib memprioritaskan dan membangun kapasitas nasional melalui inisiatif baru, misalnya melibatkan kelompok pemuda, memperkuat dan memperluas kemitraan dengan masyarakat sipil dan sektor swasta, termasuk melalui kolaborasi ilmiah baru antar cabang ilmu, selain kedokteran dan kesehatan.

.

Sudahkah kita bijak memilih langkah yang sehat, cepat dan tepat di tahun 2021?

Sekian

Yogyakarta, 2 Januari 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Healthy Life

2020 Kematian Anak karena COVID-19

Kematian Anak Akibat COVID-19 Tak Terelakkan | Asumsi

KEMATIAN  ANAK  KARENA  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Pandemi COVID-19 belum juga reda dan penyebaran virus corona masih sangat tinggi. Dengan tingkat kematian sekitar 11 ribu anak dan pernah mencapai 2,5 persen, Indonesia memegang rekor buruk tertinggi di Asia Pasifik. Di Amerika Serikat dengan kasus kematian tertinggi akibat COVID-19, angka kematian pasien terkait COVID-19 untuk warga di bawah 25 tahun adalah 0,15% (data diakses 2 Juli 2020) dan di China, angka kematian pada individu berusia 19 tahun ke bawah hanya 0,1%. Penyebab mortalitas pada anak Indonesia adalah pneumonia atau infeksi pernapasan akut, yang lebih tinggi dibandingkan India, Myanmar dan Pakistan. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/26/2020-kematian-anak-terkait-covid-19/

.

Pada awal September 2020 telah terjadi penurunan persentase mortalitas anak Indonesia. Jumlah kematian pasien COVID-19 sebanyak 7.505 orang, 145 (1,9%) di antaranya adalah anak dan remaja berusia kurang dari 18 tahun. Meskipun telah terjadi penurunan persentase, terdapat tiga hal yang menjadi pemicu masih tingginya angka kematian COVID-19 pada anak di Indonesia. 1. Tingkat pemeriksaan rendah 2. Banyak anak memiliki penyakit bawaan dan menderita gizi buruk 3. Penanganan yang terlambat. 

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/01/02/2020-menurunkan-angka-kematian-anak/

.

Pertama, tingkat pemeriksaan yang rendah menyebabkan diagnosis COVID-19 menjadi cenderung terlambat. Adanya beberapa kendala yang menghambat pemeriksaan COVID-19, khususnya dalam tracing (pelacakan) adalah adanya resistensi dari masyarakat akibat stigma negatif terhadap penderita COVID-19, termasuk anak. Bersikap jujur dan suportif kepada petugas kesehatan adalah sikap yang penting dalam mensukseskan tingkat pemeriksaan COVID-19, sebagai langkah awal tata laksana yang menyeluruh.

.

baca juga :https://dokterwikan.com/2019/01/17/2019-kematian-anak/

.

Kedua, tentang penyakit bawaan dan gizi buruk. Komorbid atau penyakit penyerta dan penyebab kematian pada anak yang terinfeksi COVID-19 berbeda dengan orang dewasa. Pada orang dewasa, komorbid yang memperparah COVID-19 di antaranya hipertensi, obesitas, diabetes, dan penyakit jantung. Penyebab utama kematian pada anak yang terinfeksi COVID-19 adalah murni karena infeksi virus itu sendiri. Hanya sebagian kecil, sekitar 15 persen, yang disebabkan oleh penyakit penyerta atau komorbiditas. Kondisi yang memperparah COVID-19 pada anak dan menyebabkan peningkatan kematian adalah penyakit jantung bawaan, cerebral palsy, tuberkulosis, dan malnutrisi. Kondisi atau penyakit ini umum dijumpai pada anak Indonesia.

.

Berita Kasus Kematian Anak Terbaru Hari Ini : Anak-anak Indonesia  Terperangkap dalam 'Lingkaran Setan' Saat Pandemi, Gizi Buruk Penyebab  Kematian Covid-19

Derajad kesehatan anak Indonesia belumlah baik. Prevalansi stunting atau kurang gizi kronis di Indonesia yang berkisar di angka 30 persen, juga angka kurang gizi dan malnutrisi parah sebesar 18 persen (data 2018). Malnutrisi pada kelompok anak yang terinfeksi COVID-19, tentu daya tubuh atau imunitas mereka kurang baik, sehingga meningkatkan risiko kematian. 

.

Ketiga, selama pandemi COVID-19, kebanyakan orangtua menjadi ketakutan untuk membawa anak ke rumah sakit. Namun, hal ini justru memperlambat penanganan bila anak ternyata terpapar virus corona dan meningkatkan risiko kematian. Untuk itu, orangtua disarankan segera membawa anak ke rumah sakit, bila anak demam dan memiliki kontak dengan pasien positif corona, atau rumah tinggal berada di zona merah.  Gejala klinis COVID-19 yang umum seperti demam, batuk, pilek, dan kehilangan kemampuan penciuman serta perasa, harus dikenali oleh orangtua dan anak segera dibawa ke dokter atau rumah sakit, demi mendapatkan penanganan lebih lanjut. Infeksi COVID-19 yang lambat ditangani berisiko membuat gejala semakin parah, dan menimbulkan infeksi serius seperti pneumonia dan sepsis.

.

Peran orangtua dan masyarakat untuk menurunkan angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) anak karena COVID-19 perlu terus menerus ditingkatkan, yaitu dengan 3 M. M yang pertama adalah memakai masker. Penelitian WHO menyimpulkan, bahwa penggunaan masker dan menjaga jarak dapat mengurangi risiko penularan COVID-19 hingga 85 persen. WHO merekomendasikan setiap orang untuk selalu memakai masker saat berada di luar rumah, sambil tetap menjaga jarak. Namun demikian, rekomendasi tersebut perlu dikritisi untuk bayi dan anak.

.

Bagi anak di atas dua tahun, orangtua sebaiknya memberikan masker kain tiga lapis yang sesuai dengan ukuran anak. Sebaliknya, untuk anak di bawah dua tahun, orangtua dianjurkan agar tidak memberikan masker, sebab bayi tidak tahu bagaimana mengungkapkan gejala sesak nafas atau kesulitan bernapas, pada saat penggunaan masker. Selain itu, penggunaan masker tentu semakin membuat si kecil sulit mendapatkan oksigen bebas. Jika terpaksa membawa bayi keluar rumah, misalnya untuk imunisasi, orangtua dianjurkan menggunakan penutup pada ‘stroler’, ‘face shield’, dan tetap menjaga jarak, meskipun belum ada aturan yang mengatur tentang ‘face shield’.

.

M yang kedua adalah menjaga jarak. Semampu mungkin anak harus beraktivitas dan bersekolah dari rumah. Kalau memang terpaksa harus sekolah secara langsung, harus dipastikan protokol kesehatannya wajib dijalankankan dengan baik, terutama dalam menjaga jarak aman lebih dari 1 meter antar teman.

M yang ketiga adalah mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun. Orangtua dan keluarga haruslah mengajari, mendampingi dan selalu mengingatkan anak agar rajin cuci tangan secara benar.

Selain itu, untuk menjaga imunitas pada anak, anak harus mengonsumsi gizi yang seimbang, meliputi protein, lemak, karbohidrat, dan vitamin C. Vitamin C ini tidak harus dari suplemen, karena suplemen yang beredar di pasaran rata-rata dosis tinggi untuk dewasa, tetapi dapat diperoleh dari buah atau sayuran hijau. Buah itu tidak hanya jeruk, tetapi dapat kiwi, stroberi, pepaya. Orangtua juga diharapkan menyediakan menu makan yang penting untuk anak seperti daging hewani, hati sapi, dan hati ayam. Hati ayam banyak mengandung besi dan zinc yang bermanfaat untuk menjaga kekebalan tubuh. Selain itu, perlu tidur yang cukup, karena tidur dapat menjaga imunitas tubuh anak.

.

Sudahkah kita sebagai orangtua dan warga masyarakat bertindak bijak, dalam rangka menurunkan angka kematian anak karena COVID-19?

Sekian

Yogyakarta, 21 November 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Pengurus IDI Cabang Kota Yogyakarta dan IDI Wilayah DIY, WA : 081227280161

Categories
Healthy Life

2020 OBAT COVID-19

5 Hal Terkait Obat Covid-19 Baru Buatan Unair - News Liputan6.com

OBAT  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Telah dilakukan sebuah penelitian yang membandingkan efek beberapa jenis pengobatan untuk penyakit coronavirus 2019 (COVID-19). Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Reed Siemieniuk dari McMaster University Canada, tersebut menggunakan sumber data dari database COVID-19 WHO dan sumber lain dalam berbagai bahasa yang komprehensif terkait COVID-19. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/07/10/2020-bukan-obat-covid-19/

.

Penelitian yang berjudul ‘Drug treatments for covid-19: living systematic review and network meta-analysis version’ dapat diakses pada link : https://www.who.int/publications/i/item/therapeutics-and-covid-19-living-guideline, yang diterbitkan pada 20 November 2020.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/10/06/2020-ancaman-covid-19/

.

Meskipun upaya global untuk mengidentifikasi intervensi yang efektif untuk pencegahan dan pengobatan COVID-19, yang telah dihasilkan dari 2.400 uji klinis telah selesai atau sedang berlangsung, namun demikian bukti untuk pengobatan yang efektif masih terbatas. Para dokter di seluruh dunia sering kali terpaksa meresepkan obat di luar kemanfaatan utama (prescribing drugs off-label), yang hanya memiliki bukti dengan kualitas sangat rendah. Para dokter juga menghadapi tantangan, untuk menafsirkan hasil uji klinis yang sedang dilakukan atau telah dipublikasikan, pada tingkat yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Dalam kondisi seperti ini perlu untuk menghasilkan ringkasan sementara, yang mampu untuk membedakan bukti yang dapat dipercaya dengan bukti lain yang kurang dapat dipercaya.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/10/19/2020-covid-19-dan-anak/

.

Data diambil sampai Senin, 27 Oktober 2020, termasuk enam basis data penelitian berbahasa China. Dalam uji klinis yang menggunakan subyek pasien terduga (suspek) dan COVID-19 yang telah dikonfirmasi, kemudian diacak untuk dibedakan dalam kelompok pengobatan baru atau plasebo, dengan mendapatkan perawatan standar. Dalam meta-analisis dengan menggunakan modifikasi risiko Cochrane bias 2.0 dan kekuatan bukti klinis dinilai menggunakan ‘the grading of recommendations assessment, development and evaluation’ (GRADE). Untuk setiap hasil, intervensi medis diklasifikasikan dalam kelompok dari yang paling bermanfaat, hingga yang paling tidak menguntungkan atau berbahaya, mengikuti GRADE.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/26/2020-kematian-anak-terkait-covid-19/

.

Dari 85 uji klinis yang dihimpun, terdapat 41.669 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Dari 50 (58,8%) uji klinis diperoleh 25.081 (60,2%) pasien. Sebanyak 75 uji klinis terkontrol secara acak memenuhi syarat untuk dilakukan analisis pada 21 Oktober 2020, dan 43 (50,6%) uji klinis ini memenuhi ambang batas minimal untuk dianalisis. Dibandingkan dengan pengobatan standar, pemberian obat dexamethasone, sebuah kortikosteroid, mungkin mengurangi kematian (perbedaan risiko 17 lebih sedikit per 1.000 pasien dengan interval kepercayaan 95%), menurunkan penggunaan alat ventilasi mekanis (29 lebih sedikit per 1.000 pasien), dan memotong hari bebas dari bantuan alat bantu napas mekanis (2,6 lebih sedikit).

.

Dampak penggunaan obat antivirus remdesivir pada tingkat kematian, penggunaan alat ventilasi mekanis, lama rawat inap, dan durasi gejala klinis adalah tidak pasti (uncertain) lebih baik. Namun demikian, sedikit meningkatkan (it probably does not substantially increase) efek samping obat yang berat, yang menyebabkan penghentian obat. Obat lainnya, seperti Azitromisin, hydroxychloroquine, lopinavir dan ritonavir, interferon beta, dan tocilizumab, semuanya mungkin tidak mengurangi risiko kematian atau berpengaruh pada hasil klinis yang penting lainnya. Efek buruk untuk semua intervensi lainnya rendah atau sangat rendah.

.

Obat corona: Klaim temuan 'kombinasi obat' Covid-19, berapa lama penelitian  harus dilakukan sebelum obat dinyatakan aman dan efektif? - BBC News  Indonesia

.

Obat dexamethasone mengurangi mortalitas dan penggunaan alat ventilasi mekanis pada pasien COVID-19, dibandingkan dengan pengobatan standar. Namun demikian, obat lainnya, yaitu azitromisin, hydroxychloroquine, interferon beta, dan tocilizumab mungkin tidak mampu mengurangi keduanya (may not reduce either). Sedangkan manfaat obat anti virus remdesivir untuk memberi atau tidak manfaat penting bagi pasien, tetaplah tidak pasti (remains uncertain).

.

“Dexamethasone adalah pengobatan pertama yang menunjukkan manfaat untuk mengurangi angka kematian pada pasien dengan COVID-19 yang membutuhkan dukungan oksigen atau ventilator,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO. Dexamethasone pertama kali dibuat pada 1957 dan telah digunakan di Inggris pada awal 1960an. Karena obat ini sudah lama ada, maka tidak ada lagi hak patennya. Dexamethasone adalah salah satu jenis steroid, yaitu obat untuk mengurangi peradangan dengan meniru hormon anti-inflamasi yang diproduksi oleh tubuh.

.

Dexamethasone ini bekerja untuk meredam sistem imun tubuh. Infeksi virus corona memicu inflamasi saat tubuh mencoba melawan virus. Inflamasi adalah peradangan efek dari mekanisme tubuh dalam melindungi diri dari infeksi mikroorganisme asing, seperti virus, bakteri, dan jamur. Namun demikian, terkadang sistem imun bekerja berlebihan dan reaksi dapat berbahaya, karena reaksi yang semestinya dirancang untuk menyerang penyebab infeksi, pada akhirnya juga menyerang sel-sel tubuh normal, sebagaimana diduga terjadi pada pasien COVID-19.

.

Sudahkah kita bijak menggunakan obat dexamethason dan menghindari penggunaan obat azitromisin, hydroxychloroquine, interferon beta, dan tocilizumab, pada saat pandemi COVID-19 ini?

Sekian

Yogyakarta, 27 November 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
Istanbul

2020 Hari AIDS Sedunia

HARI AIDS SEDUNIA

HARI  AIDS  DUNIA

fx. wikan indrarto*)

Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day) dirayakan pada 1 Desember setiap tahun. Ini adalah kesempatan bagi orang-orang di seluruh dunia untuk bersatu dalam memerangi HIV, untuk menunjukkan dukungan bagi orang yang hidup dengan HIV, dan untuk memperingati mereka yang meninggal karena penyakit terkait AIDS. Dirayakan sejak tahun 1988, Hari AIDS Sedunia adalah hari kesehatan global pertama. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/11/26/bayi-bebas-hiv-dari-ibu/

.

Direktur Eksekutif UNAIDS Winnie Byanyima yang juga merangkap sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, menjelaskan bahwa Hari AIDS Sedunia 2020 tidak akan dirayakan seperti biasanya. Pandemi COVID-19 mengancam kemajuan yang telah dicapai dunia dalam bidang kesehatan dan pembangunan selama 20 tahun terakhir, termasuk memperlebar ketidaksetaraan yang sudah ada, yaitu ketidaksetaraan gender, ketimpangan ras, ketimpangan sosial dan ekonomi.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/11/26/2018-aids/

.

Dalam menanggapi pandemi COVID-19, dunia tidak boleh membuat kesalahan yang sama seperti yang dibuat dalam memerangi HIV, ketika jutaan pasien di negara berkembang meninggal karena harus menunggu pengobatan. Bahkan saat ini, lebih dari 12 juta orang masih menunggu untuk mendapatkan pengobatan HIV dan 1,7 juta orang terinfeksi HIV pada 2019 karena tidak dapat mengakses layanan esensial. Masalah global membutuhkan solidaritas global. Hanya solidaritas global dan tanggung jawab bersama yang akan membantu kita mengalahkan virus corona, mengakhiri epidemi AIDS, dan menjamin hak atas kesehatan untuk semua.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/11/29/2019-inovasi-tes-hiv/

.

Tidak ada metode pencegahan tunggal yang dapat menghentikan epidemi HIV. Beberapa intervensi terbukti sangat efektif dalam mengurangi risiko, pencegahan, dan melindungi terhadap infeksi HIV, yaitu penggunaan kondom, obat antiretroviral sebagai profilaksis pra pajanan (PrEP), sunat pria, mengurangi jumlah pasangan seksual, penggunaan jarum suntik bersih, terapi substitusi opiat (misalnya metadon), dan pengobatan dengan obat antiretroviral untuk orang yang hidup dengan HIV.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/11/30/akhiri-epidemi-hiv/

.

Tiga alasan yang saling berhubungan tampaknya mendukung kegagalan untuk mengimplementasikan program pencegahan AIDS yang efektif pada skala besar. Pertama, kurangnya komitmen politik dan akibatnya investasi yang tidak memadai. Kedua, keengganan untuk menangani masalah sensitif terkait kebutuhan, hak seksual dan reproduksi remaja. Dan ketiga, kurangnya implementasi pencegahan sistematis.

.

UNAIDS berupaya membantu semua negara untuk memastikan akses ke kombinasi pilihan intervensi pencegahan, termasuk kondom, PrEP, pengurangan dampak buruk, dan sunat. Target setidaknya 90% orang yang berisiko pada tahun 2020, terutama wanita muda dan anak perempuan di negara dengan prevalensi tinggi dan populasi kunci. Dalam hal ini mencapai 3 juta orang dengan risiko tinggi untuk mendapatkan PrPP, 25 juta pria disunat, dan menyediakan 20 miliar kondom di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

.

Begitu Penting Kampanyekan Hari AIDS Sedunia, 1 Desember | Panrita News

Pada tahun 2019, ada 38,0 juta orang yang hidup dengan HIV, yaitu 36,2 juta orang dewasa dan 1,8 juta anak (0–14 tahun). Sudah sekitar 81% dari semua orang yang hidup dengan HIV mampu mengetahui status HIV mereka dan sekitar 7,1 juta orang tidak tahu bahwa mereka hidup dengan HIV. Pada akhir Juni 2020, 26,0 juta orang mengakses terapi antiretroviral, meningkat dari 6,4 juta pada 2009. Pada 2019, baru sekitar 67% dari semua orang yang hidup dengan HIV mengakses pengobatan, yaitu 68% orang dewasa dan 53% anak usia 0–14 tahun. Sudah 85% ibu hamil yang hidup dengan HIV memiliki akses ke obat antiretroviral untuk mencegah penularan HIV ke bayi pada tahun 2019.

.

Infeksi HIV baru telah berkurang 40% sejak puncaknya pada tahun 1998. Pada tahun 2019, sekitar 1,7 juta orang baru terinfeksi HIV, dibandingkan dengan 2,8 juta orang pada tahun 1998. Sejak 2010, infeksi HIV baru telah menurun 23%, dari 2,1 juta menjadi 1,7 juta pada tahun 2019. Sejak 2010, infeksi HIV baru pada bayi telah menurun sebesar 52%, dari 310.000 pada tahun 2010 tinggal menjadi 150.000 bayi pada tahun 2019. Kematian terkait AIDS telah berkurang 60% sejak puncaknya pada tahun 2004. Pada tahun 2019, sekitar 690.000 orang meninggal karena penyakit terkait AIDS di seluruh dunia, dibandingkan dengan 1,7 juta orang pada tahun 2004 dan 1,1 juta orang pada tahun 2010. Kematian terkait AIDS telah menurun 39% sejak 2010.

.

Mengakhiri epidemi AIDS lebih dari sekadar kewajiban bersejarah, bagi 39 juta orang yang meninggal karena penyakit tersebut. Ini juga merupakan kesempatan penting untuk meletakkan dasar bagi dunia yang lebih sehat, lebih adil, dan setara bagi generasi mendatang. Mengakhiri epidemi AIDS akan menginspirasi upaya kesehatan dan pembangunan global yang lebih luas, menunjukkan apa yang dapat dicapai melalui solidaritas global, tindakan berbasis bukti, dan kemitraan multisektoral. Dengan tagline 90-90-90, yaitu 3 target luar biasa untuk membantu mengakhiri AIDS.

.

Pertama, 90% dari semua orang yang hidup dengan HIV akan mampu mengetahui status HIV-nya. Kedua, 90% dari semua orang dengan infeksi HIV yang didiagnosis akan menerima terapi antiretroviral yang berkelanjutan. Dan ketiga, 90% dari semua orang yang menerima terapi antiretroviral akan mengalami penekanan virus (viral suppression).

.

Pada akhir 2019, dana sebesar US $ 18,6 miliar tersedia untuk penanggulangan AIDS di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, hampir US $ 1,3 miliar lebih sedikit dibandingkan tahun 2017. Sekitar 57% dari total sumber daya untuk penanganan HIV di negara berpenghasilan rendah dan menengah pada tahun 2019 berasal dari sumber domestik. UNAIDS memperkirakan bahwa US $ 26,2 miliar (konstan dolar 2016) akan dibutuhkan untuk penanggulangan AIDS pada 2020.

.

Momentum Hari AIDS Sedunia Selasa, 1 Desember 2020 mengingatkan kita tentang slogan kampanye global ‘Stop AIDS. Keep the Promise’. Slogan yang digunakan sepanjang tahun itu untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah atas komitmen terkait HIV dan AIDS di semua negara, termasuk Indonesia.

Bagaimana sikap kita?

Sekian

Yogyakarta, 26 November 2019

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
Istanbul

2020 Campak yang tercampakkan

Waspada Komplikasi yang Terjadi Akibat Campak Jerman

CAMPAK  YANG  TERCAMPAKKAN

fx.wikan indrarto*)

Kematian akibat penyakit campak di seluruh dunia naik 50% dan merenggut lebih dari 207.500 nyawa anak pada sepanjang tahun 2019 lalu. Apa yang sebenarnya terjadi?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/12/05/2019-campak-lagi/

.

Kamis, 12 November 2020 penyakit campak tercatat WHO dan CDC melonjak di seluruh dunia pada tahun 2019 yang lalu, mencapai jumlah kasus tertinggi yang dilaporkan dalam 23 tahun. Kasus campak di seluruh dunia meningkat menjadi 869.770 pada 2019, jumlah tertinggi yang dilaporkan sejak tahun 1996. Kematian akibat campak global juga naik hampir 50 persen sejak 2016.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/09/2019-campak-terkini/

.

Setelah kemajuan global yang stabil dari 2010 hingga 2016, jumlah kasus campak yang dilaporkan meningkat secara bertahap hingga 2019. Membandingkan data 2019 dengan rekor terendah dalam kasus campak yang dilaporkan pada 2016, hal ini mencerminkan kegagalan vaksinasi campak tepat waktu dengan dua dosis, sebagai pendorong utama peningkatan kasus dan kematian karena penyakit campak. Hal ini menggambarkan bahwa vaksinasi campak telah tidak diprioritaskan atau sudah dicampakkan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/04/29/2019-bahaya-campak/

.

Wabah campak terjadi ketika orang yang tidak kebal dari virus, terinfeksi campak dan menyebarkan penyakit tersebut ke populasi yang tidak divaksinasi atau divaksinasi tidak lengkap. Untuk mengendalikan campak dan mencegah wabah dan kematian, diperlukan cakupan vaksinasi campak dengan 2 dosis harus mencapai 95 persen dan dipertahankan di tingkat nasional dan lokal. Cakupan vaksinasi campak atau MR dosis pertama telah stagnan secara global selama lebih dari satu dekade di antara 84 dan 85 persen. Cakupan MMR atau MR dosis kedua terus meningkat, tetapi sekarang tertahan hanya 71 persen. Cakupan vaksinasi campak 2 dosis masih jauh di bawah 95 persen atau lebih, yang dibutuhkan untuk mengendalikan campak, mencegah wabah dan kematian.

.

Serba Serbi Imunisasi Campak: Apa Saja yang Perlu Mam Ketahui? |  theAsianparent Indonesia
.

Meskipun kasus campak yang dilaporkan lebih rendah pada tahun 2020, berbagai upaya untuk mengendalikan pandemi COVID-19 telah mengakibatkan terganggunya vaksinasi untuk mencegah dan meminimalkan wabah campak. Pada November 2020, secara global lebih dari 94 juta anak berisiko kehilangan vaksin karena kampanye imunisasi campak dihentikan di 26 negara, karena pandemi COVID-19. Pada hal, banyak dari negara tersebut sedang mengalami wabah campak. Dari negara-negara dengan rencana kampanye vaksinasi campak 2020 yang ditunda, hanya delapan (Brasil, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, Nepal, Nigeria, Filipina, dan Somalia) yang melanjutkan kampanye setelah sempat terjadi penundaan awal.

.

Sebelum ada pandemi COVID-19, dunia bergulat dengan krisis campak, dan wabah campak itu belum sepenuhnya hilang. Sistem dan layanan kesehatan sedang terganggu oleh pandemi COVID-19 di banyak negara, yang menjadi penyebab kegagalan pengendalian campak dan harus segera ditangani. Para pemimpin, petugas medis, dan tenaga kesehatan masyarakat di semua negara yang terkena dampak dan berisiko, diwajibakan memastikan bahwa vaksin campak tersedia. Dengan demikian dapat diberikan dengan aman, tepat waktu, dan merata, serta orangtua atau pengasuh anak memahami manfaat vaksin campak yang telah terbukti mampu menyelamatkan jiwa. Pada 6 November 2020, WHO dan UNICEF telah mengeluarkan seruan bersama untuk tindakan darurat dalam pencegahan dan penanggulangan wabah campak.

.

Virus campak dengan mudah menginfeksi anak, remaja dan orang dewasa yang tidak kebal, karena sangat menular. Infeksi campak tidak hanya merupakan tanda cakupan vaksinasi campak yang buruk, tetapi juga penanda bahwa layanan kesehatan penting mungkin tidak menjangkau populasi yang paling berisiko. Upaya kolektif segera harus dilakukan untuk menjangkau anak dengan vaksinisasi campak sekarang, tidak perlu menunggu adanya kebijakan pelonggaran pembatasan perjalanan karena pandemi COVID-19 dan peningkatan pergerakan populasi.

.

Fakta bahwa wabah campak terjadi pada tingkat tertinggi yang pernah kita lihat dalam satu generasi sangat mencemaskan, karena sebenarnya telah tersedia vaksin yang aman, hemat biaya, dan terbukti ampuh. Tidak boleh ada anak yang meninggal karena penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, termasuk campak. Pandemi COVID-19 terbukti berkontribusi pada peningkatan jumlah kasus campak dan kematian. Campak tidak mengenal batas, dan sangat penting bagi kita untuk bekerja sama dalam memvaksinasi lebih banyak anak, dan melanjutkan perjuangan melawan penyakit yang dapat dicegah ini.

.

Sementara itu, data program imunisasi nasional menunjukkan penurunan cakupan vaksinasi di Indonesia, seperti vaksin MR yang menurun 13% antara Januari sampai Maret 2020, jika dibandingkan dengan tahun 2019 lalu. Pada hal Presiden RI Joko Widodo menargetkan bahwa pada tahun 2020, Indonesia bebas penyakit campak dan rubella pada acara pencanangan imunisasi Measles Rubella (MR) di MTsN 10 Sleman, DIY Selasa, 1 Agustus 2017. Target Presiden Jokowi tentu sulit terwujud, kalau kita masih mencampakkan vaksinasi campak, karena ada prioritas lainnya.

Sudahkah kita bertindak bijak?

.

Sekian
Yogyakarta, 14 November 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?