Categories
Istanbul

2020 Steroid untuk Bayi Prematur

Gangguan Paru-Paru pada Bayi Prematur | HonestDocs

STEROID  UNTUK  BAYI  PREMATUR

fx. wikan indrarto*)

Kontrol kehamilan yang akurat dan perawatan kebidanan berkualitas, yang dikombinasikan dengan pemberian obat suntikan steroid adalah kunci untuk bayi prematur, agar mampu bertahan hidup. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/09/26/2019-ibu-dan-bayi-lebih-banyak-hidup/

.

Hasil uji klinis berjudul ‘Antenatal Dexamethasone for Early Preterm Birth in Low-Resource Countries’ diterbitkan pada hari Senin, 23 Oktober 2020 di New England Journal of Medicine. Uji klinis menunjukkan bahwa deksametason, sebuah glukokortikoid atau steroid yang digunakan untuk mengobati banyak penyakit berat, termasuk rematik dan COVID-19 yang parah, dapat meningkatkan kelangsungan hidup bayi prematur. Obat tersebut diberikan kepada ibu hamil, yang berisiko melahirkan bayi prematur, terutama di fasilitas kesehatan dengan sumber daya rendah.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/09/2019-kematian-bayi/

.

Uji klinis dalam koordinasi ‘The WHO ACTION Trials Collaborators’ menyelesaikan kontroversi yang sedang berlangsung, tentang kemanjuran (efficacy) steroid antenatal, untuk meningkatkan kelangsungan hidup bayi baru lahir prematur di negara berpenghasilan rendah. Deksametason telah lama terbukti efektif dalam menyelamatkan bayi prematur yang tinggal di negara berpenghasilan tinggi, di mana perawatan untuk bayi baru lahir berkualitas tinggi lebih mudah diakses. Ini adalah pertama kalinya uji klinis membuktikan bahwa obat tersebut juga efektif di negara berpenghasilan rendah.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/10/21/2019-kekerasan-pada-kelahiran-bayi/

.

Dampaknya signifikan: untuk setiap 25 wanita hamil yang diobati dengan deksametason, satu nyawa bayi prematur terselamatkan. Ketika diberikan kepada ibu yang berisiko melahirkan prematur, deksametason mampu melewati tali pusat dan plasenta, untuk mempercepat perkembangan paru-paru, sehingga bayi prematur lebih kecil kemungkinannya mengalami masalah pernapasan segera setelah lahir. Deksametason sekarang terbukti sebagai obat untuk menyelamatkan bayi yang lahir terlalu cepat, di negara berpenghasilan rendah. Namun demikian, obat ini hanya efektif bila dokter  dapat membuat keputusan yang tepat waktu dan akurat, yang dilanjutkan dengan paket perawatan berkualitas tinggi untuk ibu hamil dan bayi prematurnya.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/03/22/2019-kehilangan-bayi/

.

Secara global, prematuritas merupakan penyebab utama kematian pada anak balita (di bawah usia 5 tahun). Setiap tahun, diperkirakan 15 juta bayi lahir terlalu dini, dan 1 juta meninggal karena komplikasi akibat kelahiran dini atau prematuritas. Di negara berpenghasilan rendah, setengah dari bayi yang lahir pada atau kurang dari usia 32 minggu kehamilan, akan meninggal karena kurangnya perawatan yang layak, mudah diakses, dan hemat biaya.

.

Fasilitas kesehatan harus memiliki sarana untuk menentukan ibu hamil yang paling mungkin mendapat manfaat dari obat deksametason tersebut, untuk memulai pengobatan dengan benar, dan pada waktu yang tepat – idealnya 48 jam sebelum melahirkan, guna memberikan waktu yang cukup untuk menyelesaikan dosis obat suntikan steroid sampai mencapai efek maksimal. Ibu dengan usia kehamilan 26-34 minggu, kemungkinan besar mendapat manfaat dari steroid. Dengan demikian, fasilitas kesehatan juga harus memiliki perangkat ultrasonografi (USG) untuk menentukan usia kehamilan secara akurat. Selain itu, bayi prematur yang baru lahir harus mendapatkan perawatan dengan kualitas yang cukup baik, saat dan setelah dilahirkan.

.

10 Gangguan Kesehatan Selama Kehamilan Trimester Ketiga | Popmama.com
.

Paket perawatan minimal untuk bayi baru lahir, mencakup pengelolaan infeksi, dukungan nutrisi, perawatan termal dan akses ke alat bantu napas berupa mesin CPAP untuk mendukung pernapasan bayi. Pada paket minimal yang sudah diterapkan di negara berpenghasilan rendah, maka steroid antenatal seperti deksametason dapat membantu menyelamatkan hidup bayi prematur.

.

Penelitian uji klinis yang dipimpin oleh Dr. Olufemi T. Oladapo, MPH, dilakukan dari Desember 2017 – November 2019, secara acak mendata 2.852 ibu dan 3.070 bayi prematur mereka dari 29 rumah sakit rujukan sekunder dan tersier di Bangladesh, India, Kenya, Nigeria, dan Pakistan. Uji klinis tersebut mendapatkan data kematian neonatal terjadi pada 278 dari 1.417 bayi (19,6%) pada kelompok deksametason dan pada 331 dari 1.406 bayi (23,5%) pada kelompok plasebo (RR 0,84; IK 95% 0,72-0,97; P = 0,03). Kelahiran mati atau kematian neonatal terjadi pada 393 dari 1.532 janin dan bayi (25,7%) dan pada 444 dari 1.519 janin dan bayi (29,2%), RR 0,88; 95% CI, 0,78-0,99; P = 0,04); kejadian infeksi bakteri pada ibu masing-masing adalah 4,8% dan 6,3% (RR 0,76; CI 95%, 0,56-1,03).

.

Bagaimana Bayi Bernapas di Dalam Rahim ? | Kafe Kepo |
.

Tidak ada perbedaan antar kelompok yang signifikan, dalam kejadian efek samping obat. Selain menemukan risiko kematian dan kelahiran mati neonatal yang secara signifikan lebih rendah, penelitian uji klinis ini juga menemukan tidak ada peningkatan kemungkinan infeksi bakteri pada ibu, ketika ibu hamil diberikan suntikan deksametason di negara dengan sumber daya rendah.

.

Hampir tiga dekade lalu, Konvensi Hak Anak telah diberlakukan secara global, yang menjamin setiap bayi baru lahir berhak atas standar perawatan kesehatan tertinggi. Setiap negara di seluruh dunia wajib memastikan bahwa sumber daya medis dan keuangan, tersedia untuk menciptakan hak itu menjadi kenyataan, bagi setiap bayi baru lahir. Tambahan pemberian obat suntikan steroid pada ibu hamil adalah langkah kunci untuk bayi prematur, agar tidak mengalami kematian.

Bagaimana sikap kita?

Sekian

Yogyakarta, 3 November 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Healthy Life

2020 Kecelakaan Lalu Lintas

Waspada! Angka Kecelakaan Lalu Lintas Terus Meningkat – Timlo.net

KECELAKAAN LALU LINTAS

fx. wikan indrarto*)

Minggu, 15 November 2020 secara global akan dirayakan sebagai Hari Peringatan Sedunia untuk Korban Kecelakaan Lalu Lintas di Jalan Raya (The World Day of Remembrance for Road Traffic Victims). Acara rutin ini dimulai sejak ‘RoadPeace’ pada tahun 1993. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/06/07/2018-kecelakaan-lalu-lintas/

.

Kita semua wajib menciptakan dunia bagi semua orang untuk mendapat manfaat dari perlindungan kesehatan semesta atau Universal Health Couverage (UHC), termasuk pengobatan karena trauma, rehabilitasi dan dukungan psikologis bagi para korban kecelakaan lalu lintas di jalan raya. Pada hari tersebut dan selanjutnya setiap minggu, segenap warga dunia didorong untuk memainkan peran masing-masing, dalam membuat jalan raya lebih aman untuk semua orang. Bahkan jalan raya yang lebih aman bagi orang lain, sebenarnya juga adalah jalan raya yang lebih aman bagi kita semua.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/14/2020-kota-sehat/

.

Meskipun sudah ada kemajuan pesat, namun kematian karena kecelakaan lalu lintas di jalan raya terus saja meningkat, dengan kematian tahunan global mencapai 1,35 juta kasus. Cedera lalu lintas di jalan kini menjadi pembunuh utama bagi anak dan remaja yang berusia 5-29 tahun. Secara global, dari semua kematian karena kecelakaan lalu lintas, pejalan kaki dan pengendara sepeda merupakan 26% korban. Sedangkan pengendara sepeda motor dan penumpang kendaraan merupakan 28% korban. Risiko kematian karena kecelakaan lalu lintas di jalan, sampai sekarang tetap mencapai tiga kali lebih tinggi di negara berpenghasilan rendah daripada di negara berpenghasilan tinggi, dengan tingkat tertinggi di Afrika (26,6 per 100.000 penduduk) dan terendah di Eropa (9,3 per 100.000 penduduk).

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/02/10/2020-keamanan-di-jalan-raya/

.

Sebenarnya kematian dan cedera karena kecelakaan lalu lintas di jalan raya, adalah harga yang tidak dapat diterima (an unacceptable price) untuk membayar mobilitas manusia. Untuk itu, tidak ada alasan untuk tidak bertindak, karena ini adalah masalah yang sebenarnya memiliki solusi yang telah terbukti. Pemerintah di manapun harus menunjukkan kepemimpinan dan mempercepat tindakan untuk menyelamatkan nyawa warganya, dengan menerapkan aturan hukum yang lebih baik dan telah terbukti berhasil guna.

.

KECELAKAAN LALU LINTAS : Klaten Duduki Lima Besar Angka Kecelakaan  Tertinggi di Jateng
.

Dalam pengaturan oleh negara di mana kemajuan telah dibuat, ternyata disebabkan karena adanya kepemimpinan negara yang kuat, dengan undang-undang yang mengatur tentang faktor risiko utama kecelakaan lalu lintas, seperti larangan mengebut, mabuk saat mengemudi, tidak menggunakan sabuk pengaman, helm sepeda motor, dan pengikatan anak (child restraints). Selain itu, juga infrastruktur yang lebih aman seperti trotoar dan jalur khusus untuk pengendara sepeda dan sepeda motor, standar keamanan kendaraan yang lebih ditingkatkan, seperti kewajiban adanya mekanisme kontrol stabilitas elektronik dan sistem pengereman kendaraan, bahkan perawatan medis pasca kecelakaan lalu lintas.

.

Beberapa acara yang diselenggarakan dalam peringatan tersebut adalah pertama, menilai perjalanan (assessing journeys) yang diharapkan akan menghasilkan perubahan konkret kepada pembuat kebijakan di lebih dari 50 negara, terutama di Brazil, Mongolia, Nigeria dan Pakistan. Kedua, seruan untuk meningkatkan keselamatan pejalan kaki pada zona penyeberangan jalan di Trinidad dan Tobago. Ketiga, mengurangi batas kecepatan kendaraan di Slovenia. Keempat, meningkatkan penggunaan sabuk pengaman di dalam mobil di Kazakhstan dan pengikataan anak (child restraints) di Chili. Kelima, meningkatkan perawatan medis pasca-kecelakaan dan mengharuskan mobil memberi jalan kepada ambulans di India, dan menutup biaya perawatan medis bagi para korban kecelakaan lalu lintas jalan di Rwanda, melalui “mutuelle de santé”.

.

Selain itu, juga berbagai kegiatan yang meningkatkan kesadaran dan penegakan hukum secara umum, mengadvokasi jalan yang aman untuk anak di banyak negara, dengan memasang rambu batas maksimal kecepatan kendaraan di sekitar sekolah, sebagaimana telah dilakukan di Argentina, Senegal dan Tunisia. Bahkan juga mempromosikan penggunaan helm pagi pengendara sepeda motor untuk pembonceng anak di Malaysia. Kegiatan lainnya adalah melatih ketrampilan awak bus sekolah di Nepal, dan penguatan kepemimpinan untuk keselamatan pengguna jalan di Yordania, Lebanon dan Filipina.

.

Di Indonesia rata-rata 3 orang meninggal setiap jam akibat kecelakaan di jalan raya. Data tersebut juga menyatakan bahwa besarnya jumlah kecelakaan tersebut disebabkan oleh beberapa hal, yaitu : 61% kecelakaan disebabkan oleh faktor manusia yang terkait dengan kemampuan serta karakter pengemudi, 9% disebabkan karena faktor kendaraan (terkait dengan pemenuhan persyaratan teknik laik jalan) dan 30% disebabkan oleh faktor prasarana dan lingkungan. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementrian Perhubungan Pudji Hartanto saat persiapan kegiatan Kampanye Keselamatan Jalan di Jakarta, Jumat, 18 Agustus 2020.

.

Pandemi COVID-19 telah mendatangkan malapetaka bagi umat manusia. Pada saat yang sama, ini memberi kita kesempatan untuk membangun kembali kehidupan, termasuk aktivitas pengguna jalan raya, dengan lebih baik. Momentum Hari Peringatan Sedunia untuk Korban Lalu Lintas Jalan Raya  menginspirasi bentuk dunia baru pasca-pandemi COVID-19, yaitu dunia yang memprioritaskan jalan raya yang aman bagi semua pengguna jalan. Selain itu, juga berinvestasi untuk fasilitas pejalan kaki dan pesepeda yang lebih aman, untuk menekan angka kematian karena kecelakaan lalu lintas di jalan raya.  

.

Apakah kita sudah terlibat?

.

Sekian

Yogyakarta, 10 November 2020

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, pengguna sepeda di jalan raya dalam kota, WA: 081227280161,

Categories
COVID-19 Healthy Life sekolah vaksinasi

2020 Sekolah saat pandemi COVID-19

Ini Syarat Sekolah Boleh Dibuka Lagi di Masa Pandemi | Indonesia.go.id

SEKOLAH  SAAT  PANDEMI  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Banyak negara di seluruh dunia mengambil tindakan pembatasan sosial berskala luas, termasuk penutupan sekolah, untuk mencegah penyebaran virus SARS-CoV-2, yang menyebabkan COVID-19. Bagaimana sebaiknya?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/10/19/2020-covid-19-dan-anak/

.

Beberapa hal dijadikan pertimbangan untuk memulai kegiatan sekolah, termasuk pembukaan, penutupan sementara dan pembukaan kembali serta langkah-langkah yang diperlukan untuk meminimalkan risiko terinfeksi COVID-19, terutama pada anak di bawah usia 18 tahun. Panduan WHO, UNICEF, dan UNESCO telah disusun dengan mempertimbangkan keadilan, implikasi sumber daya, dan kelayakan, demi kesinambungan pendidikan, kesejahteraan, kesehatan, dan keselamatan untuk anak, orang tua atau pengasuh, guru dan staf lain dan lebih luas lagi, komunitas dan masyarakat sekitar.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/10/06/2020-ancaman-covid-19/

.

Keputusan tentang penutupan penuh atau sebagian, juga pembukaan kembali sekolah harus diambil di tingkat pemerintah daerah, berdasarkan tingkat lokal penularan SARS-CoV-2 dan penilaian risiko lokal, serta seberapa besar pembukaan kembali sekolah dapat meningkatkan penularan di komunitas. Penutupan sekolah hanya perlu dipertimbangkan jika tidak ada alternatif lain. COVID-19 menyebabkan beban langsung yang sebenarnya cukup terbatas pada kesehatan anak, hanya sekitar 8,5% dari kasus yang dilaporkan secara global, dan sangat sedikit kematian terkait COVID-19 pada anak. Sebaliknya, penutupan sekolah memiliki dampak negatif yang jelas terhadap kesehatan anak, pendidikan dan perkembangan, pendapatan keluarga dan perekonomian secara keseluruhan. Pemerintah pusat dan daerah harus mempertimbangkan untuk memprioritaskan kesinambungan pendidikan, sementara juga membatasi penularan di masyarakat yang lebih luas.

.

Siswa di China Pakai Topi Social Distancing Saat Kembali Sekolah Usai  Lockdown Akibat Covid-19 - Tribunnews.com Mobile

.

Pihak berwenang dapat mempertimbangkan untuk menutup sekolah sebagai bagian dari PSBB, di wilayah yang mengalami peningkatan jumlah kasus dan cluster yang mencakup sekolah. Tergantung tren dan intensitas  penularan, otoritas lokal dapat mempertimbangkan pendekatan berbasis risiko untuk penutupan sekolah, terutama di daerah dengan tren peningkatan, rawat inap, dan kematian terkait COVID-19. Selain itu, sekolah harus benar-benar mematuhi protokol kesehatan untuk COVID-19.

.

Ketentuan tentang jaga jarak fisik di sekolah dapat diterapkan untuk siswa  di luar ruang kelas setidaknya 1 meter untuk siswa (semua kelompok umur) dan staf sekolah. Di dalam ruang kelas, tindakan sesuai usia berikut dapat dipertimbangkan berdasarkan intensitas penularan SARS-COV-2 setempat.

.

Untuk wilayah dengan transmisi komunitas, tetap pertahankan jarak setidaknya 1 meter antara semua orang. Untuk wilayah dengan transmisi cluster, pendekatan berbasis risiko harus diterapkan untuk menjaga jarak setidaknya 1 meter antar siswa.  Untuk wilayah dengan tidak ada kasus penularan, anak di bawah usia 12 tahun tidak harus selalu menjaga jarak secara fisik. Sebaliknya, anak berusia 12 tahun ke atas harus menjaga jarak setidaknya 1 meter satu sama lain. Saat jaga jarak minimal 1 meter, maka siswa, guru dan staf pendukung sekolah tetap harus memakai masker.

.

Batasi pencampuran kelas dan kelompok usia, untuk semua kegiatan, termasuk program ekstra atau setelah sekolah. Sekolah dengan ruang atau sumber daya terbatas dapat mempertimbangkan pengaturan kelas alternatif, untuk membatasi kontak antar siswa yang berbeda kelas. Misalnya, pengaturan jadwal mulai dan berakhirnya pelajaran pada waktu yang berbeda. Sekolah juga dapat meminimalkan waktu istirahat bersama dengan bergantian kapan dan di mana siswa boleh makan. Selain itu, pertimbangkan untuk menambah jumlah guru atau meminta bantuan tenaga guru sukarela, untuk memungkinkan lebih sedikit siswa per ruang kelas.

.

Hindarkan adanya kerumunan selama waktu sekolah atau penitipan anak, dengan pengaturan jalur masuk dan keluar areal yang jelas, dan pertimbangkan pembatasan untuk orang tua atau pengasuh yang memasuki areal sekolah. Ciptakan kesadaran pada siswa, agar tidak berkumpul dalam kelompok besar atau berdekatan saat dalam antrean, saat meninggalkan sekolah dan di waktu istirahat.

.

Hari Pertama Masuk Sekolah, Mayoritas Belajar Jarak Jauh
.

Anak berusia 5 tahun ke bawah tidak diharuskan memakai masker. Untuk anak antara 6 dan 11 tahun, pendekatan berbasis risiko harus diterapkan pada keputusan untuk menggunakan masker. Pertama, intensitas penularan di daerah tempat anak itu berada dan data terkini tentang risiko infeksi dan penularan pada kelompok usia ini. Kedua, lingkungan sosial dan budaya seperti kepercayaan, adat istiadat, perilaku atau norma sosial yang mempengaruhi masyarakat dan interaksi sosial populasi. Ketiga, kapasitas anak untuk mematuhi aturan penggunaan masker dan ketersediaan pengawasan orang dewasa. Keempat, dampak potensial pemakaian masker pada pembelajaran dan perkembangan psikososial. Kelima, pertimbangkan untuk pengaturan khusus seperti kegiatan olahraga atau untuk anak berkebutuhan khusus atau penyakit yang mendasari.

.

Anak tidak boleh ditolak aksesnya ke pendidikan karena alasan aturan pemakaian masker atau kurangnya ketersediaan masker, terkait sumber daya yang rendah atau tidak tersedia. Penggunaan masker oleh anak dan remaja di sekolah, sebaiknya hanya dianggap sebagai salah satu bagian dari strategi komprehensif untuk membatasi penyebaran COVID-19. Sekolah harus membuat sistem pengelolaan limbah, termasuk pembuangan masker bekas untuk mengurangi risiko penularan melalui masker yang terkontaminasi, yang dibuang di areal sekolah.

.

Pastikan penggunaan ventilasi alami, yaitu membuka jendela ruang kelas untuk meningkatkan pengenceran (dilution) udara dalam ruangan. Jika menggunakan pendingin udara ruangan, sistem tersebut harus diperiksa, dipelihara, dan secara teratur dibersihkan. Untuk penggunaan sistem mekanis pengaturan kelembaban udara, aturlah dengan meningkatkan total suplai aliran udara luar, seperti dengan menggunakan ‘economizer mode’ yang berpotensi setinggi 100%. Pastikan sistem aliran udara luar maksimum selama 2 jam sebelum dan sesudah waktu pembelajaran di kelas.

.

Panduan WHO, UNICEF, dan UNESCO berjudul ‘Considerations for school-related public health measures in the context of COVID-19’, telah diterbitkan pada 14 September 2020. Panduan tersebut disusun dengan mempertimbangkan aspek keadilan, penularan COVID-19, implikasi dan sumber daya, untuk menciptakan dunia yang lebih sehat, lebih aman, lebih adil, dan lebih berkelanjutan bagi pendidikan anak dan generasi mendatang, termasuk di Indonesia.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 7 November 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
COVID-19 Healthy Life

2020 Sepsis yang Mematikan

Sepsis | El Camino Health

SEPSIS  YANG  MEMATIKAN

fx. wikan indrarto*)

Laporan global pertama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang sepsis, yang dipublikasikan pada Selasa,  8 September 2020 menemukan bahwa sepsis adalah penyebab 1 dari 5 kematian di seluruh dunia. Sepsis membunuh 11 juta orang setiap tahun, terutama anak. Selain itu, upaya untuk mengatasi jutaan kematian dan kecacatan akibat sepsis, telah terhambat oleh kesenjangan yang serius, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Apa yang harus dilakukan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/26/2020-kematian-anak-terkait-covid-19/

.

Sepsis terjadi sebagai respons tubuh terhadap infeksi. Jika sepsis tidak dikenali secara dini dan ditangani dengan segera, hal itu dapat menyebabkan syok septik, kerusakan organ (multiple organ failure), dan kematian pasien. Pasien COVID-19 parah dan penyakit menular lainnya, berisiko lebih tinggi berkembang dan meninggal akibat sepsis. Bahkan penderita sepsis pun tidak lepas dari bahaya, karena hanya separuh yang akan sembuh total, sisanya akan meninggal dalam periode waktu 1 tahun, atau dibebani oleh kecacatan jangka panjang.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/01/02/2020-menurunkan-angka-kematian-anak/

.

Sepsis secara tidak proporsional memengaruhi populasi yang rentan, terutama bayi baru lahir, wanita hamil, dan pasien dengan sumber daya yang rendah. Sekitar 85% kasus sepsis dan kematian terkait sepsis, terjadi di dalam kondisi tersebut. Hampir separuh dari 49 juta kasus sepsis setiap tahun terjadi pada anak, mengakibatkan 2,9 juta kematian, yang sebagian besar dapat dicegah melalui diagnosis dini dan manajemen klinis yang tepat. Kematian ini seringkali merupakan akibat dari penyakit diare atau pneumonia, yaitu infeksi saluran pernapasan bagian bawah.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/09/2019-kematian-bayi/

.

Infeksi dalam bidang kebidanan, termasuk komplikasi setelah aborsi atau infeksi setelah operasi caesar, adalah penyebab kematian pada ibu peringkat ketiga yang paling umum. Secara global, diperkirakan dari setiap 1.000 wanita yang melahirkan, 11 wanita mengalami disfungsi organ parah yang berhubungan dengan infeksi atau kematian. Selain itu, sepsis sering kali disebabkan oleh infeksi yang didapat di RS. Sekitar setengah (49%) dari pasien dengan sepsis di unit perawatan intensif RS, justru tertular infeksi saat dirawat inap di RS. Diperkirakan 27% orang pasien dengan sepsis di bangsal umum RS dan 42% orang pasien di unit perawatan intensif akan meninggal.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/01/17/2019-kematian-anak/

.

Resistensi antimikroba, khususnya terhadap obat antibiotika, merupakan tantangan utama dalam pengobatan sepsis. Hal itu mempersulit pengobatan infeksi, terutama pada infeksi yang berhubungan dengan layanan kesehatan (health-care associated infections). Kita semua haruslah khawatir tren perburukan tersebut akan semakin hebat, karena dipicu oleh penggunaan obat antibiotik yang tidak tepat selama pandemi COVID-19. Bukti menunjukkan bahwa sebenarnya hanya sebagian kecil pasien COVID-19 yang membutuhkan antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri. WHO telah mengeluarkan panduan untuk tidak memberikan obat antibiotik sebagai terapi ataupun profilaksis, kepada pasien dengan COVID-19 ringan atau kepada pasien dengan dugaan atau dikonfirmasi COVID-19 sedang, kecuali ada indikasi klinis untuk melakukannya.

.

Lincolnshire leads the way on sepsis | East Midlands Ambulance Service NHS  Trust

Untuk itu, penciptaan sanitasi, kualitas dan ketersediaan air bersih yang lebih baik, serta tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi, seperti kebersihan tangan yang tepat, harus terus menerus dilakukan, karena dapat mencegah sepsis dan menyelamatkan nyawa pasien. Namun demikian, hal ini harus dibarengi dengan upaya diagnosis dini, manajemen klinis yang tepat, dan akses ke obat dan vaksin yang aman dan terjangkau. Intervensi ini dapat mencegah sebanyak 84% kematian bayi baru lahir akibat sepsis.

.

Selain itu, komunitas global perlu memperhatikan beberapa hal penting berikut ini. Pertama, memperbaiki desain penelitian dan pengumpulan data, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Kedua, meningkatkan advokasi global, pendanaan dan kapasitas penelitian untuk bukti epidemiologi tentang beban sepsis yang sebenarnya. Ketiga, memperbaiki sistem surveilans, mulai dari tingkat perawatan primer, termasuk penggunaan definisi standar sesuai dengan Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD-11). Keempat, mengembangkan alat diagnostik yang cepat, terjangkau dan tepat, untuk meningkatkan identifikasi sepsis, pemantauan, pencegahan dan pengobatan. Yang terakhir adalah kelima, melibatkan dan mendidik petugas kesehatan dan masyarakat dengan lebih baik, untuk tidak meremehkan risiko infeksi yang dapat berkembang menjadi sepsis, dan menghindari komplikasi klinis sepsis.

.

Panduan tatalaksana medis yang jelas dan ketat tentang penggunaan obat antibiotik saat pandemi COVID-19 ini, akan membantu berbagai negara dalam menangani COVID-19 secara efektif, dan sekaligus mencegah muncul dan berkembangnya resistensi obat antibiotika dan sepsis yang mematikan.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 11 Oktober 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2020 COVID-19 dan Anak

Manajemen Rumah Sakit PKMK FK UGM » Artikel MRS

COVID-19  DAN  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Keberhasilan yang telah terjadi dalam meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak, telah terancam oleh konflik bersenjata, krisis iklim, dan pandemi COVID-19. Kecemasan ini tercantum dalam laporan baru dari ‘Every Woman Every Child’ pada hari Jumat, 25 September 2020. Apa yang mengkawatirkan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/10/06/2020-ancaman-covid-19/

.

Laporan berjudul : ‘Protect the Progress: Rise, Refocus, Recover (2020)’ menyoroti bahwa sejak gerakan ‘Every Woman Every Child’ diluncurkan 10 tahun lalu, yang dipelopori oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, telah terjadi kemajuan luar biasa dalam meningkatkan derajad kesehatan ibu, anak, dan remaja di seluruh dunia. Misalnya, kematian balita sepanjang masa tercatat mencapai terendah pada tahun 2019, dan lebih dari 1 miliar anak telah divaksinasi selama dekade terakhir. Cakupan imunisasi, penolong persalinan terlatih dan akses ke air minum yang aman mencapai lebih dari 80 persen. Kematian ibu menurun hingga 35 persen sejak tahun 2000, dengan penurunan paling signifikan terjadi sejak 2010. Diperkirakan 25 juta pernikahan remaja juga mampu dicegah selama dekade terakhir.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/23/2020-resesi-rumah-sakit/

.

Namun demikian, konflik bersenjata, perubahan iklim, dan pandemi COVID-19 terbukti membahayakan derajat kesehatan dan kesejahteraan semua anak dan remaja. Krisis COVID-19 memperburuk ketidaksetaraan yang ada, dengan gangguan yang dilaporkan dalam intervensi kesehatan esensial berdampak secara tidak proporsional pada kelompok yang paling rentan, yaitu wanita dan anak. Pada puncak pembatasan sosial selama pandemi COVID-19, sekolah ditutup di 192 negara, mempengaruhi 1,6 miliar siswa. Kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan terhadap anak dan perempuan, dilaporkan meningkat, selain kemiskinan dan kelaparan yang jga memperparah kondisi.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/26/2020-kematian-anak-terkait-covid-19/

.

“Bahkan sebelum pandemi COVID-19, seorang anak balita meninggal setiap enam detik di suatu tempat di seluruh dunia,” kata Henrietta Fore, Direktur Eksekutif UNICEF. Jutaan anak yang tinggal di zona konflik bersenjata dan lingkungan hidup yang rusak, menghadapi kesulitan yang lebih berat dengan timbulnya pandemi COVID-19. Pada tahun 2019 sekitar 5,2 juta anak balita dan 1 juta remaja secara global meninggal, karena penyebab kematian yang dapat dicegah. Selain itu, setiap 13 detik bayi baru lahir meninggal, setiap jam terdapat 33 ibu tidak selamat saat melahirkan, dan 33.000 gadis dalam sehari dipaksa menikah, biasanya dengan pria yang jauh lebih tua. Pada 2019, sekitar 82 persen kematian balita dan 86 persen kematian ibu terkonsentrasi di wilayah sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan. Sembilan dari 10 infeksi HIV pada anak terjadi di wilayah sub-Sahara Afrika. Angka kematian ibu, bayi baru lahir, anak-anak dan remaja jauh lebih tinggi di banyak negara yang secara kronis terkena dampak konflik bersenjata.

.

Menuju Adaptasi Kebiasaan Baru
.

“Sudah terlalu lama, kesehatan dan hak perempuan, anak, dan remaja tidak mendapat perhatian yang memadai dan layanan tidak cukup didukung,” kata mantan Perdana Menteri Selandia Baru dan Ketua Dewan Kemitraan untuk Kesehatan Ibu, Bayi dan Anak, Helen Clark. Komunitas global perlu memerangi pandemi COVID-19, sambil tetap meningkatkan kualitas kehidupan perempuan dan anak, dan tidak memperlebar kesenjangan antara janji dan kenyataan. Pandemi COVID-19 mengancam untuk memutar mundur waktu kemajuan bertahun-tahun dalam kesehatan reproduksi, ibu, anak, dan remaja.  

.

Tanpa upaya intensif untuk memerangi penyebab kematian anak yang dapat dicegah, 48 juta anak balita dapat meninggal antara tahun 2020 dan 2030. Hampir setengah dari kematian tersebut terjadi pada bayi baru lahir.

Gerakan ‘Every Woman Every Child’ menjadi lebih kritis dari sebelumnya, saat kita memasuki Dekade Aksi SDG di tengah krisis kesehatan global terburuk. Momentum gerakan harus terus memperjuangkan multilaterialisme, untuk memobilisasi tindakan di semua sektor untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan setiap wanita, anak dan remaja dimanapun. “Tidak ada keraguan bahwa pandemi COVID-19 telah menghambat upaya global, untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan wanita dan anak,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

.

Memahami ekonomi politik penanganan COVID-19 - ALMI
.

Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia sebesar 305 per 100.000 kelahiran hidup (SUPAS, 2015) dan Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 24 per 1.000 kelahiran hidup (SKDI, 2017). Progam percepatan penurunan AKI dan AKB perlu digalakkan dengan target di tahun 2024 AKI tinggal 183 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB menjadi 15 per 1.000 kelahiran hidup. Aksi bersama di bawah gerakan ‘Every Woman Every Child’ terbukti lebih penting dari sebelum pandemi COVID-19, untuk menciptakan dunia yang lebih sehat, lebih aman, lebih adil, dan lebih berkelanjutan bagi wanita, anak, dan generasi mendatang, termasuk di Indonesia.

Sudahkah terlibat?

Sekian

Yogyakarta, 8 Oktober 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
Istanbul

2020 Makanan Sehat Saat COVID-19

Ketahui Prinsip Penyajian Makanan Sehat Untuk Anak Berikut Ini | Enervon

MAKANAN  SEHAT  SAAT  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Saat ini tidak ada bukti bahwa orang dapat tertular COVID-19 dari makanan, termasuk buah dan sayuran segar. Keduanya adalah bagian dari diet sehat dan konsumsinya harus terus didorong. Bagaimana sebaiknya?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/10/06/2020-ancaman-covid-19/

.

Sistem kekebalan tubuh membutuhkan dukungan dari banyak nutrisi. Setiap orang direkomendasikan untuk mengkonsumsi berbagai makanan dalam diet yang sehat dan seimbang, termasuk makanan bijian, polongan, sayuran, buah, kacang dan protein hewani. Tidak ada satu jenis makanan tunggal yang akan mampu mencegah dari tertular COVID-19.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/23/2020-resesi-rumah-sakit/

.

Sebelum makan buah dan sayur, wajib cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Kemudian cuci bersih buah dan sayur dengan air bersih, terutama jika akan dimakan mentah (raw food diet). Saat ini tidak ada bukti bahwa orang dapat tertular COVID-19 dari makanan yang dimasak, termasuk produk hewani. Virus yang menyebabkan COVID-19 dapat dimatikan pada suhu panas, mirip dengan virus dan bakteri lain yang ditemukan dalam makanan. Makanan seperti daging, unggas, dan telur harus selalu dimasak sampai suhu paling tidak 70 °C. Sebelum memasak, produk hewani mentah harus ditangani dengan hati-hati, untuk menghindari kontaminasi silang dengan makanan yang dimasak.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/23/2020-dokter-dan-rs-era-normal-baru/

.

COVID-19 membutuhkan hewan hidup atau inang manusia, untuk berkembang biak dan bertahan hidup, serta tidak dapat berkembang biak di permukaan kemasan makanan. Bahan kemasan makanan tidak perlu didisinfeksi, tetapi tangan harus dicuci dengan benar setelah menerima paket makanan dan sebelum makan. Secara umum pergi berbelanja ke toko grosir dan pasar makanan lainnya adalah aman, dengan mengikuti langkah-langkah pencegahan berikut ini. Bersihkan tangan dengan cairan pembersih sebelum memasuki toko. Tutupi mulut saat batuk atau bersin dengan siku atau jaringan yang tertekuk. Pertahankan jarak setidaknya 1 meter dari orang lain. Setelah pulang, cuci tangan dengan bersih di rumah, dan juga diulang setelah menangani dan menyimpan produk makanan yang dibeli. Sampai saat ini tidak ada kasus COVID-19 yang dikonfirmasi, yang ditularkan melalui makanan atau kemasan makanan.

.

Cara Tepat Menyusun Makanan di Tengah Pandemi Covid-19
.

Lakukan desinfeksi di rumah tangga secara teratur, yang akan secara efektif menghilangkan virus dari permukaan barang-barang di rumah. Untuk membersihkan dan mendisinfeksi barang rumah tangga yang dicurigai atau dikonfirmasi COVID-19, disinfektan virucidal permukaan, seperti 0,05% natrium hipoklorit (NaClO) dan produk yang berbahan dasar etanol (setidaknya 70%), harus digunakan.

.

Suplemen mikronutrien (vitamin dan mineral) saja tidak dapat mencegah COVID-19 pada orang sehat, atau menyembuhkannya pada mereka yang menderita penyakit COVID-19. Saat ini tidak ada panduan tentang suplementasi mikronutrien untuk pencegahan COVID-19 pada individu sehat atau untuk pengobatan COVID-19. Mikronutrien sangat penting untuk sistem kekebalan agar berfungsi dengan baik, dan memainkan peran penting dalam meningkatkan derajad kesehatan dan kesejahteraan. Jika memungkinkan, asupan zat gizi mikro atau mikronutrien harus berasal dari makanan yang bergizi seimbang dan beragam, termasuk dari buah, sayuran, dan protein hewani.

.

Vitamin D dapat dibuat di kulit manusia dengan paparan sinar matahari. Selain itu, dapat juga diperoleh melalui makanan dari sumber alami (misalnya ikan berlemak seperti salmon, tuna dan mackerel, minyak hati ikan, hati sapi, keju dan kuning telur), atau dari makanan yang diperkaya atau suplemen yang mengandung vitamin D. Dalam situasi di mana status vitamin D individu sudah marjinal atau di mana makanan kaya vitamin D (termasuk makanan yang diperkaya vitamin D) tidak dikonsumsi, dan paparan sinar matahari terbatas, suplemen vitamin D dalam dosis asupan nutrisi yang direkomendasikan (200-600 IU, tergantung usia), dapat dipertimbangkan.

.

Saat ini tidak ada teh herbal atau suplemen herbal lainnya yang dapat membantu mencegah atau menyembuhkan COVID-19. Tidak ada bukti yang mendukung penggunaan teh herbal atau suplemen herbal untuk mencegah atau menyembuhkan COVID-19. Demikian juga probiotik tidak terbukti mampu membantu mencegah COVID-19. Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang umumnya ditambahkan ke makanan atau digunakan sebagai suplemen makanan, untuk memberikan manfaat kesehatan. Namun demikian, saat ini tidak ada bukti yang mendukung penggunaan probiotik untuk membantu mencegah atau menyembuhkan COVID-19.

.

Demikian juga minuman dan makanan yang mengandung jahe, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa mampu membantu mencegah COVID-19. Namun demikian, jahe adalah makanan yang mungkin memiliki sifat antimikroba dan anti-inflamasi. Tidak ada bukti bahwa makan bawang putih dapat melindungi orang dari COVID-19. Namun demikian, bawang putih adalah makanan yang mungkin memiliki beberapa sifat antimikroba. Selain itu, tidak ada bukti bahwa menambahkan merica (hot peppers) dan cabai (pepper) ke dalam makanan dapat mencegah atau menyembuhkan COVID-19.

.

Pandemi COVID-19 megajarkan kita tentang perlunya dukungan nutrisi lengkap, dalam salah satu langkah pengendalian pandemi COVID-19. 

Apakah kita sudah bijak?

Yogyakarta, 2 Oktober 2020

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
COVID-19 Healthy Life

2020 INFODEMIK COVID-19

Situasi Terkini Perkembangan Coronavirus Disease (COVID-19) 14 September  2020 » Info Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan RI

INFODEMIK  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Virus SAR CoV-2 mungkin tidak lebih menyebar secara global saat pandemi COVID-19 dibandingkan informasinya, sehingga justru telah terjadi infodemik COVID-19. Mengelola infodemik COVID-19 harus dilakukan untuk mengurangi bahaya dari kesalahan informasi atau disinformasi. Apa yang harus dilakukan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/23/2020-resesi-rumah-sakit/

.

WHO, PBB, UNICEF, UNDP, UNESCO, UNAIDS, ITU, UN Global Pulse, dan IFRC telah berkoordinasi pada Rabu, 23 September 2020. COVID-19 adalah pandemi pertama dalam sejarah di mana teknologi dan media sosial digunakan dalam skala besar untuk membuat semua orang tetap aman, terinformasi, produktif, dan terhubung. Pada saat yang sama, teknologi informasi yang diandalkan agar segenap warga tetap terhubung dan terinformasi, justru memungkinkan dan memperkuat infodemik, yang  malah merusak respons global dan membahayakan langkah pengendalian pandemi COVID-19.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/26/2020-jantung-dan-covid-19/

.

Infodemik adalah informasi yang melimpah, baik online maupun offline. Ini termasuk upaya yang disengaja dalam menyebarkan informasi yang salah, untuk mengganggu respons kesehatan masyarakat dan memajukan agenda alternatif kelompok atau individu tertentu. Kesalahan kolektif dan informasi yang salah dapat membahayakan kesehatan fisik dan mental banyak orang, meningkatkan stigmatisasi, dan mengancam derajad kesehatan. Selain itu, juga mengarah pada ketaatan yang buruk terhadap protokol kesehatan masyarakat, sehingga mengurangi keefektifannya dan membahayakan kemampuan banyak negara untuk menghentikan pandemi COVID-19.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/16/2020-keselamatan-pasien-covid-19/

.

Misinformasi sangat mungkin dapat menelan korban jiwa. Bahkan di Iran, ratusan orang tewas karena meminum methanol alkohol yang disebut bisa menyembuhkan pasien COVID-19. Tanpa kepercayaan yang tepat dan informasi yang benar, tes diagnostik dapat tidak digunakan, kampanye imunisasi atau kampanye untuk mempromosikan vaksin yang efektif, juga tidak akan memenuhi target, sehingga pandemi COVID-19 akan terus berkembang. Selain itu, disinformasi mempolarisasi debat publik tentang topik yang terkait dengan COVID-19, meningkatkan ujaran kebencian, mempertinggi risiko konflik, kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia, dan bahkan mengancam prospek jangka panjang untuk memajukan demokrasi, hak asasi manusia, dan kohesi sosial. Dalam konteks ini, Sekretaris Jenderal PBB meluncurkan inisiatif ‘United Nations Communications Response’ untuk memerangi penyebaran mis dan disinformasi pada April 2020. PBB juga mengeluarkan Panduan Penanggulangan Ujaran Kebencian (Hate Speech) terkait COVID-19, yang dikeluarkan pada 11 Mei 2020.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/09/2020-gangguan-layanan-medis/

.

Pada sidang Majelis Kesehatan Dunia Mei 2020, Negara Anggota WHO mengeluarkan Resolusi WHA73.1 tentang tanggapan COVID-19. Resolusi tersebut mengakui bahwa mengelola infodemik adalah bagian penting dalam mengendalikan pandemi COVID-19. Resolusi tersebut meminta semua negara Anggota untuk menyediakan konten COVID-19 yang andal, mengambil tindakan untuk melawan kesalahan dan disinformasi, serta memanfaatkan teknologi digital untuk merespons. Resolusi tersebut juga menyerukan kepada organisasi internasional untuk mengatasi kesalahan dan disinformasi di ranah digital, bekerja untuk mencegah kejahatan cyber yang berbahaya, karena mampu merusak respon kesehatan, dengan mendukung penyediaan data berbasis sains kepada publik.

.

Infodemik COVID-19 yang sebagian besar berisi rumor, stigma, dan teori konspirasi yang tersebar di media sosial dan surat kabar online teridentifikasi di enam negara, salah satunya Indonesia. Hal itu termuat dalam penelitian yang diterbitkan ‘The American Society of Tropical Medicine and Hygiene’ dan dipublikasikan secara online pada 10 Agustus 2020. Dari 2.311 laporan terkait infodemik COVID-19 dalam 25 bahasa dari 87 negara, yang terbanyak beredar di India, Amerika Serikat, China, Spanyol, Indonesia, dan Brazil. Rumor diartikan sebagai klaim, pernyataan, dan diskusi seputar COVID-19 yang belum terverifikasi.

.

Update Corona Indonesia 28 Maret: Covid-19 Tersebar di 28 Provinsi -  Tirto.ID
.

WHO pun tak tinggal diam melawan infodemik COVID-19 dan mengambil 3 langkah penting. Pertama, menyisir website yang menyebarkan informasi palsu atau hoaks oleh lembaga pemeriksa fakta independen, berdasarkan kebijakan resmi yang diambil oleh pemerintah, WHO, ataupun PBB. Salah satu contoh mencolok kasus ini adalah “Plandemi”, video teori konspirasi berdurasi 26 menit yang secara keliru menuduh Dr. Anthony Fauci, pakar penyakit menular terkemuka di Amerika Serikat, memproduksi virus dan mengirimkannya ke China.

.

Kedua, menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelegence (AI), untuk dapat mengembangkan strategi ofensif yang efektif, dalam meredakan kekhawatiran publik sebelum informasi yang salah dapat berkembang. Ketiga, menggandeng komunitas lokal di manapun, karena WHO menyadari informasi tentang COVID-19 harus diterapkan berbeda di masing-masing negara. Oleh sebab itu, WHO menggandeng bukan sekedar insitutsi pemerintah setempat, tetapi juga komunitas pemuda, jurnalis, dan organisasi berbasis agama untuk secara bersama-sama mengembangkan panduan praktis untuk masyarakat, yang disesuaikan dengan konteks dan budaya setempat.

.

HEADLINE: Kasus COVID-19 Salip China, Indonesia Bakal Jadi Episentrum Virus  Corona di Asia? - Global Liputan6.com

Pandemi COVID-19 megajarkan kita tentang bahaya infodemik, yang  malah merusak respons global dan membahayakan langkah pengendalian pandemi COVID-19. Apakah kita sudah bijak?

.

Yogyakarta, 29 September 2020

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
COVID-19 Healthy Life

2020 Kematian anak terkait COVID-19

Kematian Anak Akibat COVID-19 Tak Terelakkan - ASUMSI

KEMATIAN  ANAK  TERKAIT  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Pandemi COVID-19 dapat menghancurkan kemajuan yang telah diperoleh dalam puluhan tahun, menuju ke arah penghapusan kematian anak yang dapat dicegah (preventable child deaths). Dengan jumlah kematian balita yang tercatat terendah sepanjang masa pada tahun 2019, gangguan pada layanan kesehatan untuk anak akibat pandemi COVID-19, mengancam tambahan kematian jutaan nyawa anak. Apa yang mencemaskan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/23/2020-dokter-dan-rs-era-normal-baru/

.

Jumlah kematian balita global turun ke titik terendah dalam sejarah pada tahun 2019, turun menjadi 5,2 juta dari 12,5 juta pada tahun 1990. Data ini dikeluarkan bersama oleh UNICEF, WHO, PBB, dan Bank Dunia. Namun demikian, survei oleh UNICEF dan WHO tahun 2020 mengungkapkan bahwa, pandemi COVID-19 telah mengakibatkan gangguan besar pada layanan kesehatan, yang mengancam untuk membatalkan kemajuan yang telah dicapai dengan susah payah selama puluhan tahun.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/01/02/2020-menurunkan-angka-kematian-anak/

.

Komunitas global telah melangkah jauh dalam menekan angka kematian anak yang dapat dicegah, tetapi pandemi COVID-19 dapat menghentikan langkah tersebut. Saat ini banyak anak kehilangan akses ke layanan medis karena sistem kesehatan terganggu pandemi COVID-19, ibu hamil tidak melahirkan di rumah sakit karena takut terinfeksi, dan mereka mungkin juga akan menjadi korban ganasnya pandemi COVID-19. Tanpa investasi tambahan yang mendesak untuk memperbaiki sistem dan memulai kembali layanan kesehatan yang terganggu, jutaan anak balita, terutama bayi baru lahir, dapat meninggal.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/09/2019-kematian-bayi/

.

Selama 30 tahun terakhir, layanan kesehatan untuk mencegah atau mengobati penyebab kematian pada anak, telah berperan besar dalam menyelamatkan jutaan jiwa anak dan mempertahankan kehidupan. Penyebab kematian anak yang dapat dicegah (preventable child deaths) meliputi prematuritas, berat badan lahir rendah, komplikasi saat lahir, sepsis neonatal, pneumonia, diare dan malaria, serta kurang lengkapnya vaksinasi. Sekarang banyak negara di seluruh dunia sedang mengalami gangguan pada layanan kesehatan anak, seperti pemeriksaan kesehatan rutin, vaksinasi dan perawatan prenatal dan pasca melahirkan, karena keterbatasan sumber daya. Selain itu, juga faktor ketidaknyamanan umum dalam menggunakan layanan kesehatan, karena takut tertular COVID-19.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/01/17/2019-kematian-anak/

.

Sebuah survei UNICEF yang dilakukan selama pertengahan tahun 2019 di 77 negara, menemukan bahwa hampir 68 persen negara melaporkan setidaknya beberapa gangguan dalam layanan kesehatan untuk anak, termasuk imunisasi. Selain itu, 63 persen negara melaporkan gangguan dalam pemeriksaan antenatal dan 59 persen dalam perawatan pasca melahirkan. Survei WHO tahun 2020 yang dilakukan pada 105 negara, mengungkapkan bahwa 52 persen negara melaporkan gangguan pada layanan kesehatan untuk anak yang sakit, dan 51 persen dalam layanan untuk penanganan malnutrisi.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/11/24/2018-kematian-di-jalan-raya/

.

“Fakta bahwa saat ini lebih banyak anak mampu merayakan ulang tahun pertama mereka daripada waktu mana pun dalam sejarah, adalah tanda nyata dari apa yang dapat dicapai, ketika dunia menempatkan kesehatan dan kesejahteraan sebagai pusat dari prioritas program pembangunan,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus Direktur Jenderal WHO. Seharusnya kita tidak boleh membiarkan pandemi COVID-19 membalikkan kemajuan luar biasa bagi anak dan generasi masa depan global. Sebaliknya, inilah saatnya untuk menyelamatkan nyawa anak, dan terus berinvestasi dalam pembentukan sistem kesehatan yang lebih kuat, baik, dan tangguh.

.

Ahli Coba Beberkan Alasan Tingginya Tingkat Kematian Anak-Anak Akibat  Covid-19 di Indonesia
.

Berdasarkan data dari berbagai negara yang berpartisipasi dalam survei oleh UNICEF dan WHO, alasan gangguan layanan kesehatan yang paling sering adalah orang tua menghindari fasilitas kesehatan karena takut tertular COVID-19, pembatasan transportasi umum, dan penangguhan atau penutupan layanan dan fasilitas kesehatan. Selain itu, juga lebih sedikit petugas layanan kesehatan karena pengalihan atau ketakutan terinfeksi terkait kekurangan Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker dan sarung tangan, juga adanya kesulitan keuangan keluarga. Afghanistan, Bolivia, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Libya, Madagaskar, Pakistan, Sudan dan Yaman adalah beberapa negara yang paling terpukul karena pandemi COVID-19.

.

Tujuh dari sembilan negara memiliki angka kematian anak yang tinggi, lebih dari 50 kematian balita per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2019. Di Afghanistan, di mana 1 dari 17 anak meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun pada tahun 2019, Kementerian Kesehatan Afganistan melaporkan penurunan yang signifikan dalam kunjungan anak sakit ke fasilitas kesehatan. Alasan yang disebutkan adalah karena takut tertular COVID-19, juga keluarga tidak memprioritaskan perawatan sebelum dan sesudah melahirkan, sehingga menambah risiko yang dihadapi ibu hamil dan bayi baru lahir. Bahkan sebelum pandemi COVID-19, bayi baru lahir di seluruh daratan Afganistan memiliki risiko kematian tertinggi di dunia. Pada tahun 2019 bayi baru lahir meninggal setiap 13 detik. Selain itu, 47 persen dari semua kematian balita terjadi pada periode neonatal, naik dari 40 persen pada tahun 1990. Dengan gangguan parah pada layanan kesehatan esensial, bayi baru lahir memiliki risiko kematian yang jauh lebih tinggi. 

.

Pandemi COVID-19 berdampak buruk pada intervensi kesehatan yang sangat penting bagi kesehatan anak. Diperlukan program nyata untuk memperbaiki ketidakadilan yang sangat besar, agar lebih banyak anak di negara berkembang dapat bertahan hidup dari ancaman kematian yang dapat dicegah (preventable child deaths).

Sudahkah kita bertindak?

Sekian

Yogyakarta, 15 September 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
COVID-19 Healthy Life

2020 Jantung dan COVID-19

World Heart Day 2020 – Date, Themes, History, Quotes | World heart day, Heart  day, Improve heart health

JANTUNG  DAN  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Selasa, 29 September 2020 dirayakan sebagai Hari Jantung Sedunia (World Heart Day). Tema peringatan tahun 2020 ini adalah gunakan hati untuk merawat penyakit jantung (#UseHeart to beat cardiovascular disease). Meskipun belum diketahui pasti apa yang terjadi pada jantung setelah pandemi COVID-19 di masa depan, tetapi sekarang terbukti bahwa merawat jantung saat ini, adalah lebih penting dari sebelumnya. Mengapa?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/23/2020-resesi-rumah-sakit/

.

Penyakit jantung adalah penyebab kematian nomor satu di planet ini. Serangan jantung ini memiliki banyak penyebab dari merokok, diabetes, tekanan darah tinggi dan obesitas, hingga polusi udara, dan kondisi langka dan terabaikan seperti Penyakit Chagas dan amiloidosis jantung. Saat pandemi COVID-19, pasien dengan ganggguan jantung dihadapkan pada ancaman bermata dua. Mereka tidak hanya lebih berisiko jatuh dalam derajad penyakit COVID-19 yang parah, tetapi mereka juga mungkin takut untuk kembali datang ke RS dan mencari perawatan jantung, sehingga diperlukan modifikasi layanan kesehatan jantung.

.

Pada era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia yang dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, ada yang namanya program rujuk balik untuk mereka yang menderita penyakit kronis stabil. Terdapat 9 jenis penyakit yang masuk Program Rujuk Balik, yaitu Diabetes Mellitus, Hipertensi, Jantung, Asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), Epilepsy, Stroke, Schizophrenia dan Systemic Lupus Erythematosus (SLE). Pasien dengan gangguan jantung yang sudah stabil, tidak perlu datang kontrol dan dilayani di RS, tetapi dapat melanjutkan pengobatan rumatan di FKTP, dokter keluarga, klinik, atau puskesmas terdekat.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/09/26/2019-jantung-anak/

.

Layanan kesehatan virtual (virtual health) atau ‘telemedicine’ diharapkan menjadi layanan penyakit jantung di masa depan, sejak pandemi COVID-19 (the future of cardiovascular disease care delivery). Hal ini terutama karena pasien gangguan jantung memiliki peningkatan risiko kematian kalau terinfeksi COVID-19. Selain itu, layanan telemedicine memberikan pilihan bagi dokter yang lebih senior atau memiliki penyakit komorbid dan juga berisiko lebih tinggi terkena penyakit parah jika terinfeksi COVID-19, untuk terus memberikan layanan yang sangat dibutuhkan pasiennya. Layanan telemedicine mengacu pada penggunaan teknologi digital dan telekomunikasi, untuk memberikan perawatan kesehatan. Penerapannya bervariasi, dari sekedar melengkapi hingga mengganti total pemberian layanan kesehatan, tergantung pada kebutuhan pasien dan sumber daya yang tersedia. Peningkatan penggunaan layanan telemedicine menghadirkan banyak peluang. Namun demikian, pada saat yang sama beberapa masalah perlu ditangani, seperti pertimbangan regulasi dan etika.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/23/2020-dokter-dan-rs-era-normal-baru/

.

Pandemi COVID-19 telah mengurangi hambatan untuk penerapan layanan telemedicine dan mempercepat pemberlakuan peraturannya di seluruh dunia. Di Amerika Serikat, sebagian besar konsultasi kesehatan saat ini telah dilakukan secara virtual. Di Cina, kesehatan virtual berkembang segera setelah pandemi COVID-19 dimulai dengan dukungan pemerintah yang signifikan, yang menjamin pembiayaaan jasa konsultasi dokter online. Negara lain yang telah menerapkan layanan kesehatan virtual adalah Kanada dan Skotlandia. Di Skotlandia, penggunaan ‘video conferencing’ bahkan meningkat 1.000%.

.

Contoh keberhasilan penerapan telemedicine adalah pada program penyakit jantung bawaan pada orang dewasa di Rumah Sakit Massachusetts di Boston, USA. Telah terjadi penurunan beban kerja yang signifikan dari 400 pasien sehari menjadi kurang dari 40 pasien. Dr. Ami Bhatt, direktur program telemedicine melaporkan manfaat positif telekardiologi pada hubungan dokter-pasien. Pasien justru merasa bahwa mereka adalah mitra yang setara dalam hubungan dengan dokter dan kebutuhan mereka dihormati. Di sisi lain, dokter terbebas dari kesibukan praktek di klinik dan lebih fokus mendengarkan dan mendidik pasien. Hasilnya adalah peningkatan kepuasan, yang dapat membantu mengatasi tingginya tingkat kelelahan dan bunuh diri, yang dialami oleh dokter di USA yang bekerja terlalu keras.

.

Kelemahan layanan telemedicine ini adalah kurangnya pemeriksaan fisik dan kontak antar manusia, yang telah lama dianggap sebagai komponen inti dari hubungan pasien-dokter. Meskipun masih belum jelas apa implikasinya terhadap kualitas perawatan, tetapi American College of Cardiology (ACC) telah mengeluarkan panduan untuk layanan telekardiologi. Salah satu elemen penting yang perlu dipertimbangkan, mencakup pilihan pasien yang memenuhi syarat untuk layanan telekardiologi.

.

Pelatihan dokter terus dilakukan, dalam menilai jenis pasien apa yang harus diarahkan ke konsultasi tatap muka. Layanan telekardiologi tersebut mencakup pemantauan jarak jauh perangkat yang ditanamkan dalam tubuh pasien serta akses ke peralatan pemantauan non-invasif (misalnya, manset tekanan darah, timbangan BB, atau monitor saturasi oksigen). Pasien dapat membagikan hasil pengukuran mereka sebelum atau selama konsultasi, tergantung pada sistem yang diterapkan. Dalam kebanyakan kasus, resep dapat diberikan secara virtual, kecuali untuk obat keras yang memang dikendalikan. Namun demikian, jika tes diagnostik diperlukan pasien, kunjungan langsung oleh pasien ke dokter di RS harus dilakukan.

.

Semua orang dari segala usia dapat terinfeksi COVID-19. Namun demikian, COVID-19 menimbulkan risiko yang lebih buruk bagi orang yang berusia di atas 60 tahun dan mereka yang memiliki kondisi medis dasar (komorbid). Dalam hal ini termasuk penyakit jantung, hipertensi, diabetes, penyakit pernafasan kronis, dan kanker. Untuk menghindari perburukan infeksi COVID-19, pasien disarankan untuk terus minum obat jantung secara rutin dan ikuti nasihat dokter, amankan persediaan obat rutin untuk satu bulan atau lebih lama, jika memungkinkan. Selain itu, juga jaga jarak setidaknya satu meter dari penderita batuk, pilek atau flu, seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air setidaknya selama 20 detik, tinggallah di rumah saja dan waspadai perburukan kondisi kesehatan.

.

Momentum Hari Jantung Sedunia (World Heart Day) dengan tema #UseHeart to beat cardiovascular disease, mengingatkan kita semua, agar menjaga kesehatan jantung sebaik mungkin, sesuai protokol kesehatan. Untuk para dokter dan pasien dengan penyakit jantung kronis yang stabil, disarankan memanfaatkan Program Rujuk Balik (PRB) atau menggunakan fasilitas layanan telekardiologi selama pandemi COVID-19.

Apakah para dokter dan pasien gangguan jantung sudah siap ?

.

Yogyakarta, 25 September 2020

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2020 ANTIBIOTIKA SEMASA COVID-19

Fungsi Antibiotik dan Jenisnya, Perhatikan Cara Kerjanya yang Berbeda-beda

ANTIBIOTIKA  SEMASA  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Sejumlah negara kini mampu memantau dan melaporkan tentang adanya resistensi antibiotik semasa pandemi COVID-19. Hal ini menandai langkah maju yang besar dalam perang global melawan resistensi atau kekebalan kuman terhadap obat. Data yang ada mengungkapkan bahwa sejumlah infeksi bakteri yang mengkhawatirkan, semakin kebal terhadap obat antibiotika yang tersedia untuk mengobatinya. Apa yang perlu dicermati?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/02/02/resistensi-antibiotik-global/

.

“Saat terkumpul lebih banyak bukti, terlihat dengan lebih jelas dan lebih mengkhawatirkan seberapa cepat kita kehilangan obat antimikroba yang sangat penting di seluruh dunia,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Data ini menggarisbawahi pentingnya melindungi obat abtibiotika yang kita miliki dan mengembangkan jenis obat antibiotika baru, untuk mengobati infeksi bakteri secara efektif, menjaga prestasi bidang kesehatan yang diperoleh dalam abad terakhir, dan memastikan masa depan yang aman.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/01/29/2020-semakin-sedikit-antibiotika/

.

Sejak adanya laporan ‘Global Antimicrobial Resistance and Use Surveillance System’ (GLASS) WHO pada tahun 2018, partisipasi telah tumbuh secara eksponensial. Hanya dalam tiga tahun terakhir, sistem ini sekarang mampu mengumpulkan data dari lebih dari 64.000 situs pengawasan penggunaan obat antibiotika dengan lebih dari 2 juta pasien terdaftar dari 66 negara di seluruh dunia. Pada 2018 jumlah situs pengawasan adalah 729 di 22 negara.

.

Tanya Jawab Seputar Covid-19 (Bagian III): Apakah Antibiotik Bisa Obati  Virus Corona?

.

Lebih banyak negara juga melaporkan indikator yang telah disetujui tentang resistensi antimikroba atau ‘Anti Microbial Resistance’ (AMR) sebagai bagian dari pemantauan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Ekspansi besar-besaran beberapa negara, fasilitas kesehatan, dan pasien yang tercakup oleh sistem pengawasan AMR, memungkinkan untuk mendokumentasikan dengan lebih baik ancaman kesehatan masyarakat yang muncul akibat AMR.

.

Tingkat resistensi yang tinggi di antara antimikroba, khususnya antibiotika yang sering digunakan untuk mengobati infeksi bakteri yang umum, seperti infeksi saluran kemih dan diare, menunjukkan bahwa dunia kehabisan cara efektif untuk mengatasi penyakit ini. Misalnya, tingkat resistensi terhadap obat ciprofloxacin, antibiotika yang paling sering digunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih, bervariasi dari 8,4% hingga 92,9% di 33 negara yang melaporkan.

.

Kita semua haruslah khawatir tren perburukan tersebut akan semakin hebat, karena dipicu oleh penggunaan antibiotik yang tidak tepat selama pandemi COVID-19. Bukti menunjukkan bahwa sebenarnya hanya sebagian kecil pasien COVID-19 yang membutuhkan antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri. WHO telah mengeluarkan panduan untuk tidak memberikan obat antibiotik sebagai terapi ataupun profilaksis, kepada pasien dengan COVID-19 ringan atau kepada pasien dengan dugaan atau dikonfirmasi penyakit COVID-19 sedang, kecuali ada indikasi klinis untuk melakukannya.

.

Kita semua prihatin dengan penurunan investasi, termasuk oleh sektor swasta, dan kurangnya inovasi dalam pengembangan obat antibiotika baru. Selain itu, juga faktor-faktor yang menghambat upaya untuk memerangi infeksi bakteri yang resistan terhadap obat. Kini saatnya kita harus meningkatkan kerja sama dan kemitraan global termasuk antara sektor publik dan swasta untuk memberikan insentif keuangan dan non-keuangan untuk pengembangan obat antibiotika dan antimikroba yang baru dan inovatif.

.

Untuk mendukung upaya ini, perlu kesepakatan global tentang profil produk target obat antibiotika untuk memandu pengembangan pengobatan baru untuk infeksi bakteri yang telah resisten. Selain itu, juga disertai model ekonomi yang mensimulasikan biaya, risiko, dan kemungkinan pengembalian investasi pengembangan obat antibiotik baru.

.

Pada akhir tahun 2017 WHO menerbitkan daftar patogen prioritas, yaitu 12 kelas bakteri ditambah bakteri tuberkulosis, yang meningkatkan risiko terhadap kesehatan manusia secara global, karena bateri tersebut telah resisten terhadap sebagian besar obat antibiotika yang ada. Daftar tersebut disusun untuk mendorong komunitas riset medis, dalam mengembangkan pengobatan inovatif untuk bakteri yang telah resisten. Antibiotik yang sedang dikembangkan untuk melawan patogen prioritas WHO meliputi β-Laktam, Tetrasiklin, Aminoglikosida, Topoisomerase inhibitor, Penghambat FabI, FtsZ inhibitor, Oksazolidinon, Macrolides dan ketolides, Hibrida, Polimiksin, infeksi TB, DprE1 inhibitor, dan infeksi C. difficile.

.

Panduan tatalaksana medis yang jelas dan ketat tentang penggunaan antibiotik saat pandemi COVID-19 ini, akan membantu berbagai negara dalam menangani COVID-19 secara efektif, dan sekaligus mencegah muncul dan berkembangnya resistensi antibiotika.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 9 September 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?